post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Kementerian Sumber Daya Alam China merilis hasil pemodelan citra tiga dimensi (3D) yang memperlihatkan wilayah Gyirong Port, di perbatasan China–Nepal, sebelum dan sesudah diterjang tanah longsor besar. Citra tersebut memberikan visualisasi komprehensif mengenai titik asal bencana, jalur pergerakan material, hingga skala kerusakan fisik yang ditinggalkan.

Berdasarkan perbandingan citra satelit, bencana tersebut menimbulkan kerusakan masif di sekitar kompleks Gyirong Port. Deretan bangunan, akses jalan, dan jembatan yang sebelumnya tampak berdiri kokoh kini hancur total dan tidak dapat diidentifikasi lagi akibat tertimbun material longsor.

Insinyur senior dari China Aero Geophysical Survey and Remote Sensing Center, Guo Zhaocheng, menjelaskan bahwa aliran puing yang dipicu oleh longsoran es bergerak cepat menyusuri Sungai Donglin Tsangpo. Gelombang material tersebut kemudian langsung menghantam infrastruktur port dan kawasan sekitarnya secara telak.

Hasil analisis para pakar mengonfirmasi bahwa sumber bencana longsor ini bukan berasal dari wilayah China, melainkan bermula di Nepal. Peristiwa dipicu oleh runtuhnya gletser di dataran tinggi di hulu Sungai Cuoqian, Nepal, pada ketinggian sekitar 5.140 meter di atas permukaan laut.

Runtuhan es dan bebatuan tersebut meluncur deras ke lereng bawah, mengikis serta menyeret endapan material di sepanjang lembah hingga bertransformasi menjadi aliran puing berkecepatan tinggi. Aliran ini kemudian melintasi Sungai Guobaxiaqu di perbatasan kedua negara, memasuki Sungai Donglin Tsangpo, dan berevolusi menjadi banjir lumpur serta puing skala besar.

Para ahli mengategorikan kejadian ini sebagai peristiwa berantai (cascading event), yang berawal dari runtuhnya gletser di puncak tinggi, berkembang menjadi aliran puing es dan batuan, hingga akhirnya menjadi tanah longsor dahsyat. Kecepatan aliran yang luar biasa dipicu oleh perbedaan elevasi ekstrem hampir 3.300 meter antara titik sumber (5.140 mdpl) dan Pelabuhan Gyirong (1.800 mdpl).

Data rekaman waktu menunjukkan bahwa runtuhan gletser pertama kali terjadi sekitar pukul 10.52 pagi waktu setempat pada 26 Agustus. Rekaman video memperlihatkan material longsor telah menghantam Pelabuhan Gyirong pada pukul 10.59 pagi, yang berarti material tersebut menempuh jarak hampir 20 kilometer hanya dalam kurun waktu sekitar tujuh menit.

Dengan kecepatan rata-rata diperkirakan mencapai 50 meter per detik, hempasan lumpur dan bebatuan berlangsung sangat mendadak sehingga tidak memberikan waktu bagi orang-orang di lokasi untuk menyelamatkan diri. Selain kecepatan ekstrem, terjangan tersebut memicu fenomena langka di mana sebagian massa longsor berbalik arah dan mengalir ke hulu Sungai Gyirong Tsangpo sejauh hampir 3 kilometer.

Dampak kehancuran ini menyebabkan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) menghadapi tantangan yang sangat berat di lapangan. Kerusakan parah pada ruas Jalan Raya Nasional G216 serta hancurnya jalur pedesaan di sepanjang lembah Sungai Donglin Tsangpo memutus total akses transportasi darat, baik untuk kendaraan roda empat maupun pejalan kaki.

Kontur lembah yang sempit dan curam membatasi ruang gerak alat berat dan tim penyelamat, ditambah tebalnya lapisan lumpur yang mengubur lokasi serta menyeret puing bangunan jauh ke hilir. Saat ini, tim gabungan terus mengerahkan teknologi pemindai dan drone, didukung oleh para ahli geologi untuk memantau stabilitas lereng serta mengantisipasi potensi bahaya sekunder di lokasi terdampak.


Jumlah Korban Hilang Banjir Bandang Nepal dan China Melonjak Mendekati 3.000 Jiwa

Sebelumnya

India Telah Aktifkan Jembatan Udara untuk Bantu Nepal

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia