post image
Asap mengepul di tengah kota Kyiv, Ukraina, setelah Rusia melancarkan serangan drone pada Sabtu, 29 Agustus 2026./AFP
KOMENTAR

Serangan pesawat nirawak (drone) militer Rusia menghantam sebuah gudang amunisi di pinggiran barat ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Insiden mematikan tersebut memicu rentetan ledakan dahsyat serta kebakaran hebat yang menewaskan sedikitnya 37 orang dan melukai puluhan warga lainnya.

Gubernur Wilayah Kyiv, Tymur Tkachenko, mengonfirmasi bahwa jumlah korban jiwa di Distrik Bucha melonjak tajam saat proses evakuasi berlangsung. Tim penyelamat gabungan dan layanan darurat dikerahkan penuh ke lokasi tragedi di kota Myla untuk mengevakuasi korban yang tertimpa reruntuhan bangunan.

Dampak ledakan di fasilitas penyimpanan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur sipil di sekitarnya. Sedikitnya 50 bangunan tempat tinggal dan sejumlah restoran dilaporkan rusak parah akibat kobaran api yang meluas, memaksa hampir 400 warga dievakuasi dari zona bahaya.

Di antara korban tewas, otoritas setempat mengonfirmasi gugurnya Taras Didych, Wali Kota Dmytrivska. Keberadaan amunisi yang tersimpan di dekat pemukiman warga sipil menjadi sorotan utama atas besarnya skala kehancuran dan jatuhnya korban jiwa dalam insiden ini.

Menanggapi bencana tersebut, Kejaksaan Ukraina langsung membuka penyelidikan dugaan kelalaian pidana terhadap perusahaan pengelola fasilitas. Fokus penyelidikan diarahkan pada legalitas penempatan bahan peledak di area padat penduduk serta pemeriksaan izin kepatuhan standar keselamatan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa serangan udara musuh telah memicu detonasi berantai material peledak di dalam kompleks. Zelenskyy menegaskan kembali bahwa aturan militer dan hukum nasional melarang keras penempatan logistik amunisi di dekat pemukiman warga.

Kritik keras juga datang dari Perdana Menteri Ukraina, Sergii Koretskyi, yang menyayangkan tidak adanya evaluasi setelah insiden serupa melanda depot militer di Vyshneve pada Juli lalu. Koretskyi menegaskan bahwa mengulangi kesalahan penyimpanan amunisi di tengah perang merupakan bentuk kelalaian pidana yang harus dihukum berat.

Berdasarkan laporan Angkatan Udara Ukraina, Rusia melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran dengan melepaskan sedikitnya dua rudal dan 267 drone sepanjang Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Di luar kawasan gudang tersebut, serangan terpisah di wilayah Kyiv juga menewaskan seorang balita berusia dua tahun dan seorang remaja berusia 14 tahun.

Pada saat yang sama, otoritas Rusia melaporkan adanya serangan balasan dari pesawat nirawak Ukraina ke wilayah perbatasan Belgorod yang menewaskan tiga orang dan melukai sembilan lainnya. Serangan drone Ukraina juga dilaporkan menewaskan satu orang di Sevastopol, Semenanjung Krimea.

Eskalasi serangan jarak jauh antara kedua negara kian meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Kedua belah pihak kian intensif menargetkan infrastruktur logistik, depot pasokan, dan fasilitas energi, yang berdampak pada lonjakan signifikan angka korban di kalangan warga sipil.


Gyirong Port, Ambisi Belt and Road Initiative Melawan Kerentanan Geologis dan Hidrologis

Sebelumnya

Ternyata Rp 51 Triliun Pajak Inggris Mengalir ke Pemukiman Ilegal Israel

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia