Pesawat pengebom siluman generasi keenam pertama di dunia, B-21 Raider, dijadwalkan mulai bersiaga di Pangkalan Angkatan Udara Ellsworth pada tahun depan. Pesawat tempur mutakhir besutan Northrop Grumman ini tercatat sebagai salah satu program pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) paling sukses dalam sejarah modern Departemen Pertahanan Amerika Serikat (DoD).
Meskipun Departemen Pertahanan AS belum merilis angka resmi mengenai kapasitas produksi per tahun, pihak Pentagon telah menyetujui peningkatan pendanaan sebesar 25 persen guna mempercepat tahap produksi awal. Langkah ini diambil untuk memastikan transisi armada pesawat pengebom strategis dapat berjalan sesuai target waktu yang direncanakan militer AS.
Tingginya performa program B-21 memicu dorongan dari jajaran petinggi Angkatan Udara AS (USAF) hingga para anggota Kongres untuk menambah volume pemesanan awal. Target armada yang semula dipatok 100 unit kini berpotensi melonjak hingga 185 atau bahkan 200 unit, dengan perkiraan laju manufaktur berkisar antara 9 hingga 10 unit per tahun, serta kapasitas maksimal mencapai 12 unit per tahun jika armada diperluas.
Fasilitas perakitan utama B-21 tetap dipusatkan di Air Force Plant 42 di Palmdale, California, yang berdiri di atas lahan seluas hampir satu juta kaki persegi. Northrop Grumman memastikan perluasan pabrik fisik baru belum diperlukan, mengingat efisiensi dicapai melalui optimalisasi desain digital serta pengalihan beban kerja komponen tertentu ke pemasok Tier 1.
Guna mendukung peningkatan kapasitas tersebut, Northrop Grumman menggelontorkan belanja modal mandiri senilai $2,5 miliar untuk memodernisasi Plant 42 dengan teknologi otomatisasi canggih antara tahun 2027 hingga 2029. Chief Executive Northrop Grumman, Kathy Warden, menegaskan komitmen pabrikan untuk mempercepat proses perakitan demi memenuhi kebutuhan operasional USAF yang terus berkembang.
Dukungan terhadap penambahan kuantitas B-21 juga datang lintas matra militer AS. Komandan US Strategic Command, Laksamana Angkatan Laut Richard Correll, menyatakan di hadapan Kongres bahwa Angkatan Udara setidaknya membutuhkan 145 unit B-21, bahkan sempat mengusulkan pembukaan jalur produksi kedua guna mempercepat penyelesaian armada.
Dari sisi finansial manufaktur, program B-21 dinilai jauh lebih terkendali dibandingkan pendahulunya, B-2 Spirit, yang sempat menyandang predikat pesawat militer termahal akibat pemangkasan pesanan sepihak. Meski Northrop sempat menanggung beban kerugian sekitar $477 juta pada unit perdana di awal 2025, perusahaan menegaskan risiko produksi kian teratasi seiring kelancaran fase uji coba.
Persiapan infrastruktur pangkalan saat ini terus dikebut di tiga lokasi utama, yakni Ellsworth AFB, Whiteman AFB, dan Dyess AFB. Pangkalan Udara Ellsworth ditargetkan mencapai kesiapan tempur awal (Initial Combat Readiness) pada 2028, diikuti dengan pembentukan unit pelatihan khusus guna mencetak instruktur serta penerbang berkualifikasi Raider.
Percepatan pengadaan B-21 merupakan bagian integral dari strategi modernisasi divest to invest Angkatan Udara AS, yang menyederhanakan armada pengebom menjadi dua tipe saja di masa depan. Nantinya, B-21 Raider akan beroperasi berdampingan dengan armada pengebom legendaris Boeing B-52 Stratofortress yang telah dimodernisasi, sekaligus menggantikan secara bertahap pengebom B-1 Lancer dan B-2 Spirit.
Keunggulan desain B-21 yang lebih ringkas dan fleksibel sangat mendukung doktrin Agile Combat Employment (ACE), khususnya dalam merespons potensi konflik di kawasan Indo-Pasifik. Kemampuannya beroperasi dari berbagai landasan udara sekutu yang tersebar di seluruh dunia dinilai mampu menyulitkan penargetan musuh sekaligus menjamin daya pukul strategis militer AS tetap utuh.



KOMENTAR ANDA