Pemerintah India bergerak cepat mengambil peran utama sebagai first responder untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan darurat menyusul bencana banjir bandang dan longsoran debris dahsyat yang melanda sepanjang aliran Sungai Trishuli di Nepal pada Rabu, 26 Agustus 2026. Tragedi yang dipicu oleh keruntuhan gletser tersebut langsung direspons New Delhi dengan pengerahan operasi bantuan skala penuh ke negara tetangganya.
Bencana hidrometeorologi ekstrem tersebut memicu gelombang lumpur dan material bebatuan berdaya rusak tinggi yang menyapu kawasan permukiman, memutus akses jalan raya antarwilayah, melumpuhkan proyek infrastruktur vital, serta mengakibatkan ratusan warga dan pekerja terjebak di sejumlah distrik terdampak parah di Nepal.
Perdana Menteri India Narendra Modi telah menghubungi jajaran kepemimpinan Nepal pada 26 Agustus untuk menyampaikan belasungkawa mendalam. Dalam komunikasi diplomatik tersebut, Modi menjamin dukungan penuh serta kesiapan seluruh instrumen pemerintah India untuk membantu penanganan darurat dan pemulihan di lapangan.
Sebagai langkah konkret dari instruksi kepemimpinan tertinggi, Angkatan Udara India (IAF) mengaktifkan jembatan udara kemanusiaan dengan menerbangkan lebih dari 62 ton logistik darurat ke Bandara Internasional Tribhuvan di Kathmandu hanya dalam rentang hitungan jam setelah bencana terjadi.
Pada pengiriman gelombang pertama, sebuah pesawat angkut taktis C-130J Super Hercules dikerahkan membawa muatan 10 ton bantuan prioritas awal yang terdiri dari tenda pengungsian darurat, selimut hangat, paket kebersihan (hygiene kits), lampu tenaga surya, serta stok obat-obatan esensial bagi para penyintas.
Misi bantuan kemudian diperkuat secara masif melalui sorti kedua menggunakan pesawat angkut berat C-17 Globemaster yang menerbangkan pasokan seberat 37,5 ton. Muatan ini mencakup unit pompa pengering air berdaya besar, genset portabel, peralatan dapur umum, ransum makanan siap konsumsi, serta 8 ton pasokan medis tambahan.
Melengkapi fase tanggap darurat awal tersebut, India menerbangkan gelombang bantuan ketiga seberat 10 ton material kemanusiaan guna memastikan ketersediaan logistik di pusat-pusat penampungan pengungsi tidak mengalami kelangkaan di tengah terputusnya rantai pasok lokal.
Di ranah diplomasi dan operasional lapangan, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menegaskan bahwa New Delhi terus menjaga komunikasi intensif tanpa henti dengan otoritas di Kathmandu guna memastikan jalur distribusi logistik dan bantuan teknis berjalan tepat sasaran sesuai kebutuhan mendesak di lokasi bencana.
Secara bersamaan, Kementerian Urusan Luar Negeri India (MEA) bersama Kedutaan Besar India di Kathmandu mengoperasikan posko darurat dan hotline 24 jam nonstop. Meja koordinasi khusus ini difokuskan untuk melacak keberadaan serta memfasilitasi evakuasi warga negara India, peziarah, dan wisatawan yang sempat dilaporkan hilang atau terisolasi di koridor Rasuwa dan Nuwakot.
Sebagai antisipasi limpasan air di dalam negeri, otoritas India mengambil langkah preventif dengan membuka pintu air Valmikinagar Barrage di Sungai Gandak serta menyiagakan personel National Disaster Response Force (NDRF) di sepanjang perbatasan Bihar dan Uttar Pradesh guna melindungi komunitas bantaran sungai dari potensi banjir susulan di kawasan hilir.



KOMENTAR ANDA