post image
Warga befoto di depan spanduk yang dipasang di gerbang Gedung MPR/DPR/DPD RI Senayan./AFU.id
KOMENTAR

Oleh: Yusuf Blegur, Direktur Eksekutif Institute for Public Policy (IPPS)

ISU Perampasan aset bagi para koruptor memang penting, tapi dalam aksi unjuk rasa yang dimobilisasi secara sektoral tanpa tahapan konsolidasi   dan pengorganisasian yang terstruktur, sistematis dan masif melibatkan organ gerakan lain. Ia menjadi sebuah aksi yang cenderung konvensional, normatif, dan relatif terkoordinasi dengan orang-orang pemerintahan.

Unjuk rasa yang dimotori Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang mewakili  warga Pati Jawa Tengah, terkesan menjadi eksklusif dan menyimpan agenda terselubung. Bahkan tidak sedikit kalangan pergerakan yang menganggap aksi tersebut sudah seperti pesanan dan terlibatnya kepentingan 'invicible hand' yang bermain. Mengingat begitu problematiknya masalah yang berhubungan dengan rakyat, pemerintahan dan persoalan krisis kebangsaan serta banyaknya instrumen gerakan yang sebelumnya marak menyampaikan aspirasi dan tuntutannya. Aksi AMPB itu dapat dilihat sebagai mereduksi mainstream distorsi negara yang urghens dan fundamental untuk dibenahi.

Beda dengan demonstrasi banyak mahasiswa dari pelbagai kampus di Indonesia, termasuk dari BEM UI yang mendapat blokade dan tindakan cenderung represif. Sehingga penyampaian aspirasi tak pernah sampai. Perlakuan pemerintah dalam hal ini DPR RI dan bisa saja terkoordinasi dengan istana yang menyediakan karpet merah bagi pengunjuk rasa warga Pati untuk berdialog dan diakomodir, terlihat mencolok dan terkesan menjadi agenda kepentingan kelompok tertentu saja terutama dari "inner circle" kekuasaan. 

Isu perampasan aset penting namun tidak mendesak dan menjadi utama saat rakyat sedang perform melakukan mosi tidak percaya, kecewa, dan marah sehingga terus melakukan upaya pelengseran Prabowo-Gibran dan tuntutan adili Jokowi dengan pelbagai narasi dan demostrasi.

Partisipan aksi tgl 27 Agustus 2026 tsb juga menjadi polemik dan hanya menjadi tontonan dari banyaknya elemen gerakan kritis dan perlawanan rezim kekuasaan yang selama ini intens. Meskipun dihadiri massa yang tidak sedikit, roh dan spirit aksinya jauh dari progresif dan banyak dihadiri massa cair.

Aksi AMPB di gedung parlemen pusat itu pada akhirnya seperti sengaja dilakukan bukan saja sebagai pengalihan isu, lebih dari itu sebagai upaya konspirasi pemerintahan khususnya bidang pertahanan keamanan seperti TNI, Polri, dan intelejen dengan ormas untuk meredam aksi-aksi yang dianggap berpotensi melemahkan dan mendorong rezim kekuasaan. Seperti era 98 menjelang kejatuhan ORBA, kali ini muncul GRIB yang dijadikan kelompok PAM Swakarsa dalam menangani aksi-aksi unjuk rasa yang dianggap mengganggu dan mengancam pemerintahan.

Pemerintah melalui rekayasa sosial dengan aksi AMPB seperti sengaja mendesain pengamanan kekuasan dengan cara membuat terkesan berjalannya demokrasi atau penyampaian aspirasi ekstra parlementer di satu sisi. Namun di lain sisi sebenarnya telah mengaborsi suara dan gerakan kritis yang dianggap membahayakan kekuasan seperti impeachment presiden dan wakil presiden akibat krisis multidimensi yang terjadi sejauh ini, serta tuntutan adili Jokowi yang kian menguat.

Pemerintah atau setidaknya orang-orang yang berada di lingkar kekuasaan dalam hal ini presiden dan wakil presiden serta kekuasaan dalam kabinet menteri dan kelembagaan negara lainnya yang masih beririsan dengan Jokowi. Harus bertanggungjawab terhadap terjadinya konflik horisontal yang terjadi pada rakyat. Dengan kekerasan yang disinyalir atau diduga dilakukan Ormas  GRIB hingga menimbulkan kerusuhan dan korban jiwa masyarakat sipil.

Jangan sampai ada lagi rakyat kecil yang tidak berdosa menjadi korban meninggal seperti pada Bambang Setiawan warga pedagang cermin yang tidak terkait dengan aksi unjuk rasa. Semua aparatur pemerintahan yang memiliki korelasi dengan penanganan masalah krusial kepentingan publik dan pelaksanaan  unjuk rasa yang berakhir dengan korban jiwa itu harus bertanggungjawab baik secara etis, moral, dan hukum.


Prabowo Bertemu Panglima Jilah dari Kalimantan, Matangkan Penanganan Karhutla

Sebelumnya

Prabowo Terima Ramos Horta, Bicara Kerja Sama Kedua Negara di Berbagai Bidang

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional