post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

KALAU Indonesia itu warung nasi campur, maka menu 3 lauk ini wajib ada: Cina Benteng, Arab Hadrami, India Madras. Datangnya beda zaman, caranya beda, tapi ujungnya sama: jadi warga Indonesia.

1. CINA BENTENG: Tukang Dagang Sekaligus Tukang Ngalah

Awalnya datang buat dagang dan kerja di perkebunan tebu zaman VOC. Karena nggak boleh masuk Batavia, mereka bikin "benteng" sendiri di Tangerang. Makanya disebut Cina Benteng.

Logatnya? Campur Hokkian + Betawi + Sunda. "Lu mau kemane?"
Makanannya? Lontong Cap Go Meh. Isinya nasi + opor + sambal. Cina? Iya. Indonesia? Banget.

Sikapnya? Kerja keras, irit, tapi dermawan kalau hajatan. Hari kelahiran kongco, sekampung diundang semua. Mereka ngajarin kita: dagang itu ibadah. Dan akur itu strategi bisnis paling jitu. Rukun agawe santoso.

Mereka juga tokoh politik seperti Kwik Kian Gie, sineas Teguh Karya, juara dunia bulutangkis tak pernah kalah, Tan Yoe Hok.

2. ARAB HADRAMI: Guru Ngaji Sekaligus Raja Dangdut dan Rock

Datang dari Yaman, Hadramaut. Abad 18-19. Bawa kitab, bawa tasbih, bawa dagangan. Awalnya tinggal di kampung Arab: Pekojan, Krendang, Ampel.

Logatnya? "Ana antum" ketemu "sih lu". Jadilah bahasa Betawi yang puitis.
Makanannya? Nasi kebuli, roti Maryam, martabak. Sekali gigit langsung "MasyaAllah".

Sikapnya? Alim, tapi juga jago orasi. Dari pesantren sampai panggung dangdut. Rhoma Irama, Haddad Alatas, Anies Baswedan, Ahmad Albar, siapa yang nggak kenal? Mereka ngajarin kita: ilmu dan seni bisa jalan bareng. Sorban dan gitar bisa satu panggung.

3. INDIA MADRAS: Tukang Karpet Sekaligus Tukang Obat

Datang dari Tamil Nadu, India Selatan. Makanya disebut India Madras. Awal 1900-an. Ciri khas: buka toko tekstil dan rempah. "Masuk Pak Eko, lihat-lihat dulu!"

Logatnya? "Saudara mau apa?" dengan senyum paling ramah se-Asia.
Makanannya? Nasi biryani, roti canai, teh tarik. Ditarik setinggi langit, diminum sedapnya ke hati.

Sikapnya? Telaten. Jualan dari subuh sampai malam. Anaknya sekolah tinggi-tinggi. Jadi dokter, pengacara, insinyur, politisi, produser sintron & film seperti Raam, Dhamoo, Gobind dan Manoj Punyabi, intelektual seperti HS Dillon ekonom pertanian merangkap pejuang HAM serta Kobalen yang koleksi gelar doktor sampai tiga.

Mereka ngajarin kita: sabar itu modal. Dan "pelanggan adalah raja" itu bukan slogan, itu prinsip hidup.

Generalisasi Polanya: 

Cina Benteng ngajarin kerja keras dan kebudayaan.
Arab Hadrami ngajarin iman, dangdut dan kenegarawanan.
India Madras ngajarin pelayanan dan kecendekiawanan.

3-3 nya imigran. 3-3 nya dulu "asing". Sekarang? Yang jual bakmi pake peci. Yang khotbah Jumat pake sarung batik. Yang jual kain pake kemeja batik.

Mereka tidak bikin negara sendiri. Mereka bikin keluarga. Nikah sama orang sini. Kuburannya di sini. Cucunya main layangan di sini.

Jadi kalau ada yang tanya "Indonesia itu apa?"

Jawabnya gampang: Indonesia itu hasil asimilasi silang budaya yang berhasil.
Tidak ada yang paling "pribumi". 

Yang ada cuma: siapa yang paling dulu datang, siapa yang paling rajin melebur.  Mau Benteng, Hadrami, Madras, sama-sama menyanyi  “Di Sana Tempat Lahir Beta, Dibuai Dibesarkan Bunda, Tempat Berlindung di Hari Tua, Tempat Akhir Menutup Mata.”


Berkhayal Angka Khayal

Sebelumnya

Dari Horor ke Humor

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana