post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Untuk memahami mengapa kata pengantar buku ini memiliki bobot, perlu diketahui siapa penulisnya. Tamalia Alisjahbana adalah putri sastrawan dan pemikir Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Ia berlatar pendidikan hukum, aktif dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan, serta pernah menjadi Direktur Eksekutif Yayasan Gedung Arsip Nasional RI.

Hubungannya dengan Petit Muharto dan Bobby Freeberg dapat dijelaskan sebagai berikut. Dengan Petit Muharto, Tamalia pernah bertemu dan mengenal Petit secara langsung. Dalam wawancara dengan Smithsonian, ia mengenang betapa kuatnya kesan persahabatan dengan Bobby dalam diri Petit, bahkan puluhan tahun setelah pesawat itu hilang. Namun, sumber yang ditemukan belum menunjukkan adanya hubungan keluarga antara Tamalia dan Petit.

Dengan Bobby Freeberg, hubungan yang terdokumentasi adalah melalui penelitian dan pelestarian kisah perjuangannya. Tamalia menjadi kurator pameran RI-002 pada 2009 yang mengangkat jasa Bobby dan Petit. Ia juga ikut mengusahakan penelusuran lebih lanjut mengenai nasib Bobby. Belum ditemukan bukti hubungan keluarga antara keduanya.

Dengan buku yang memuat kata pengantarnya, Tamalia menulis kata pengantar itu sendiri. Ia menerangkan bahwa manuskrip peninggalan Petit merupakan dasar buku tersebut dan menyerukan penghargaan bagi Bobby, Petit, serta seluruh awak RI-002. Jadi, peran Tamalia yang paling jelas adalah sebagai peneliti, kurator, dan penggerak pelestarian sejarah RI-002 yang juga pernah mengenal Petit secara pribadi.  Adapun kedudukannya sebagai editor atau inisiator penerbitan buku ini masih perlu dipastikan lebih lanjut.

Menelusuri Buku, Flying for Our Freedom

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia juga berlangsung di udara. Ketika hubungan antardaerah terancam terputus dan komunikasi dengan dunia luar menghadapi berbagai hambatan, penerbangan menjadi bagian penting dari kemampuan Republik untuk bertahan. Dalam konteks itulah kisah Petit Muharto Kartodirdjo, penerbang Amerika Bobby Freeberg, dan pesawat RI-002 memiliki tempat yang patut diperhatikan.

Melalui susunan babnya, Flying for Our Freedom—An American Airman in Revolutionary Indonesia menawarkan pertemuan antara pengalaman pribadi, sejarah perjuangan, dan pencarian jawaban atas nasib seorang sahabat.

Buku ini tampaknya tidak langsung membawa pembaca kepada misteri Freeberg. Tiga bab awal, The Early Years, The Japanese Occupation, serta The Proclamation and The First Year of Independence, lebih dahulu menempatkan pengalaman tokohnya dalam perubahan besar yang melanda Indonesia.

Susunan tersebut memberi ruang untuk memahami bagaimana masa muda, pendudukan Jepang, dan kelahiran Republik membentuk pilihan serta tindakan seseorang. Perjuangan di bidang penerbangan dengan demikian hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah yang lebih luas.

Salah satu judul bab yang paling menarik adalah My Life As A "Nonpilot" Pilot: Meeting Bobby Freeberg. Ungkapan "penerbang yang bukan penerbang" mengundang pembaca untuk memahami posisi Petit Muharto sebelum menjadi pilot. Diletakkan berdampingan dengan pertemuannya dengan Freeberg, judul tersebut mengisyaratkan bahwa hubungan keduanya merupakan bagian penting dari perjalanan hidupnya. Sementara itu, bab Becoming a Pilot baru muncul kemudian.

Urutan ini membuka sudut pandang menarik tentang hubungan antara pengalaman lapangan, tuntutan perjuangan, dan pembentukan kecakapan profesional.

Dari sini, buku tersebut berpotensi memperluas cara kita memahami sejarah penerbangan. Perhatian tidak hanya tertuju kepada pesawat dan orang yang menerbangkannya, tetapi juga kepada hubungan antarmanusia yang memungkinkan sebuah misi berlangsung. Kepercayaan, keberanian mengambil tanggung jawab, serta kemampuan bekerja bersama dalam keadaan terbatas merupakan unsur yang layak ditelusuri dalam hubungan Petit Muharto dan Freeberg.

Bab The Emergency Landing, Who Was Bob Freeberg?, serta Yogya Captured and The "Long March" menunjukkan rentang cerita yang bergerak dari pengalaman penerbangan menuju pengenalan tokoh dan situasi perang. Pergantian fokus tersebut menjanjikan kisah yang memiliki dimensi teknis sekaligus manusiawi.

Bagi pembaca yang mengenal dunia penerbangan, judul tentang pendaratan darurat juga menimbulkan pertanyaan mengenai keadaan pesawat, cuaca, fasilitas pendaratan, dan keputusan awak. Jawabannya tentu harus dicari, tetapi pertanyaan itu sendiri memperlihatkan betapa pentingnya melihat keberanian bersama kondisi operasional yang dihadapi.

Dari Pengalaman Menuju Rekonstruksi

Perubahan arah paling jelas terlihat pada bagian akhir. Mulai dari The Discovery dan The Search for Answers, buku kemudian menghadirkan Dutch Sources, American Sources, The Security Situation, hingga What Might Have Happened. Susunan ini mengisyaratkan peralihan dari penuturan pengalaman menuju upaya merekonstruksi sebuah peristiwa. Kenangan pribadi ditempatkan berdekatan dengan sumber dari negara lain dan pembacaan terhadap keadaan keamanan.

Di sinilah terletak salah satu daya tarik utama sekaligus ukuran kritis untuk menilai buku ini. Pemisahan bab mengenai sumber Belanda dan Amerika menyediakan ruang bagi perbandingan perspektif. Namun, keberadaan beragam sumber belum dengan sendirinya memastikan suatu kesimpulan. Nilai penelusurannya bergantung pada bagaimana penulis mempertemukan dokumen, menguji kesaksian, menjelaskan pertentangan informasi, dan mengakui bagian yang masih kosong.

Judul bab terakhir, What Might Have Happened, juga patut diperhatikan. Rumusan "apa yang mungkin telah terjadi" memberi isyarat tentang adanya batas kepastian. Dalam penulisan sejarah tentang hilangnya seseorang, pembedaan antara fakta yang terverifikasi, kesaksian, dan dugaan sangat menentukan kepercayaan pembaca. Apabila batas itu dijaga dengan jelas sepanjang uraian, ketidakpastian justru dapat menjadi bagian dari kejujuran buku.

Mengapa Kisah Ini Penting bagi Indonesia

Bagi sejarah Indonesia, arti penting kisah ini terletak pada kesempatan untuk melihat perjuangan kemerdekaan melalui pengalaman para pelaku penerbangan. Petit Muharto dan Freeberg menghadirkan dimensi persahabatan lintas bangsa dalam perjuangan Republik. Pada saat yang sama, kisah RI-002 mengingatkan bahwa kemampuan bergerak dan menjaga hubungan merupakan kebutuhan mendasar sebuah negara kepulauan

Berdasarkan kerangka isinya, buku ini menjanjikan bacaan yang mempertemukan perjalanan hidup, perjuangan udara, dan usaha panjang memahami sebuah kehilangan. Daya tarik terbesarnya adalah hubungan antara ingatan seorang pelaku dan pencarian bukti sejarah. Bagi generasi muda Indonesia, kisah tersebut mengandung pelajaran yang tetap relevan. Kemerdekaan perlu dipahami melalui pengalaman konkret orang-orang yang memperjuangkannya, termasuk mereka yang menjaga hubungan Republik melalui udara. Dari RI-002, kita dapat belajar bahwa bagi Indonesia, penerbangan memiliki arti strategis dalam mempertahankan kehidupan, persatuan, dan kelangsungan negara.

Buku ini meninggalkan kesan tentang sesuatu yang jarang alias langka. Kesetiaan yang dirawat dalam bentuk yang tenang dan tekun. Petit merawat ingatan akan Bobby melalui manuskrip. Tamalia merawat kisah itu melalui penelitian, kurasi pameran, dan kata pengantar. Buku ini sendiri menjadi wadah yang mempertemukan keduanya yakni kesaksian seorang pelaku dan usaha seorang sahabat.

RI-002 menghilang, dan hingga kini sebagian pertanyaan tentangnya mungkin masih terbuka. Namun, justru di situlah nilai kisah ini. Ia mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu selesai dengan jawaban. Kadang ia bertahan justru karena pertanyaannya terus dijaga. Dan di antara pertanyaan-pertanyaan itu, ada nama-nama yang layak dikenang.   Bobby Earl Freeberg, Petit Muharto Kartodirdjo, dan para awak yang pernah menerbangkan RI-002 untuk sebuah Republik yang sedang berjuang untuk tetap ada.


Muzakkir Manaf Temui Prabowo Membahas Sejumlah Isu Penting Termasuk Bendera Aceh

Sebelumnya

Dukung Kapolri Lakukan Reformasi Menyeluruh Polri: Menutup Celah Penyimpangan, Memulihkan Kepercayaan, Menguatkan Negara Hukum

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional