Saya gagal check-in.
Manusia harus turun tangan. Manusia yang satu tadi.
Komputer tidak disiapkan untuk benar-benar bebas bantuan.
Padahal begitu menghadap komputer itu, harusnya semua beres: kartu identitas tersimpan. Retina mata kita juga terekam.
Dari ruang check-in itu saya menuju lift. Melalui koridor panjang. Yang sama sekali tidak mengesankan modern. Bahkan pintu-pintu di koridor itu seperti pintu gudang. Sangat tidak sinkron dengan zoo yang fly.
Hampir saja saya membatalkan tinggal di Flyzoo. Tapi saya kan harus menulis untuk DI's Way. Meski tidak bersumpah. Maka saya tabahkan hati. Menginap di situ.
Di depan pintu lift saya juga harus memencet tombol naik. Seperti di lift biasa. Tidak otomatis. Di dalam lift pun harus memencet tombol ke lantai berapa.
Hanya saja lift itu tidak mau menutup. Kalau mata kita tidak menghadap layar. Yang di sebelah layar itu terdapat kamera. Yang merekam retina mata kita.
"Yah... Ternyata biasa-biasa saja. Tidak modern-modern amat," kata saya dalam hati.
Begitu di depan kamar barulah terasa beda. Tidak perlu bawa kunci. Kita memang tidak diberi kunci. Saat menghadap pintu kamera pemindai bekerja. Lampu di pintu itu berubah hijau. Pintu siap dibuka.
“Wow!" celetuk saya tanpa sadar.
Saya suka sekali kamar ini. Simple. Cerah. Warnanya sesuka kita. Mau kehijauan bisa. Kebiru-biruan ok. Pink silakan. Apa pun. Tergantung setelan lampu yang Anda inginkan.
Lubang toiletnya pun diberi cahaya.
Suka sekali.
Saya jadi asyik main-main lampu.
Apalagi ada petugas di dalam kamar ini. Yang siap melayani setiap saat. Suara wanitanya kenes sekali. Centil. Umurnya 23-an tahun.
Kalau saya panggil namanya dia begitu sigap. Saya minta apa saja langsung dilaksanakan.
"Tolong hidupkan TV," kata saya.
TV pun langsung hidup.
"Bukakan gorden," kata saya.
Gorden pun dibuka.
"Matikan lampu depan".
Lampu depan pun mati.
Yang saya kurang suka, nama wanita itu agak panjang. Tidak punya nama panggilan. Setiap kali, saya harus memanggilnya dengan nama lengkap: Tian Mao Jing Ming.
Saya suka sekali memanggil namanya. Berkali kali. Pun ketika tidak ingin minta tolong padanya. Hanya untuk mendengar suara centilnya.




KOMENTAR ANDA