post image
KOMENTAR

"Tian Mao Jing Ming," panggil saya.

"Wo zai," jawabnya. Artinya: siap. Atau: saya ada di sini.

"Tian Mao Jing Ming," panggil saya.

"Zhu ren, ni shuo," jawabnya centil. Artinya: bos, bicaralah, saya siap diperintah.

"Tian Mao Jing Ming," panggil saya lagi. Saya kangen suara kenesnya.

"Wo lai le." Centil sekali.

Setiap saya panggil namanya jawabnya berbeda. Meski maknanya sama: siap menerima perintah.

Tubuh Tian Mao Jing Ming itu kecil. Sedikit lebih kecil dari Alexa. 'Gadis' Amerika yang sering saya coba di rumah John Mohn itu. (baca DI's Way: Alexa Si Seksi Dari Amerika).

Bedanya, Alexa hanya bisa berbahasa Inggris. Suaranya tidak dikenes-keneskan. Si centil ini hanya bisa berbicara Mandarin.

Untungnya sejelek apa pun logat Mandarin saya dia bisa mengerti.

Hari itu waktu saya habis untuk main-main dengan Tian Mao Jing Ming. Yang ditaruh duduk manis di atas meja kerja di kamar saya.

Malamnya saya baru cari makan di deretan ruko sebelah. Lalu jalan-jalan ke mall kecil di belakangnya. Sambil ikut coba-coba senam dansa di halamannya.

Saya tidak sempat mencoba pesan makanan lewat robot. Yang konon bisa mengantar makanan ke kamar. Saya juga hanya melihat ada anak-anak beli es krim dilayani robot.

Saya sudah terlalu lapar. Saya belum bisa marah dalam bahasa Mandarin. Saya juga belum tahu bagaimana mengucapkan kata 'jancuk' dalam bahasa Mandarin.


Lu Biau

Sebelumnya

Tuntutan Tinggi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Disway