post image
Seorang pria mengibarkan bendera Iran di tengah puing-puing bangunan akibat serangan AS-Israel.
KOMENTAR

Bukan pula untuk memperdalam konflik yang sudah terlalu lama.

Saya datang untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa di tengah dunia yang sering kehilangan akal sehat, manusia biasa masih bisa berdiri di sisi kemanusiaan.

Kadang caranya sangat sederhana.
Datang.
Berdiri.
Berdoa.
Lalu pulang.
Tidak ada kamera. Tidak ada panggung.
Hanya hati yang mencoba tetap waras.

Langkah saya terus berjalan meninggalkan kawasan diplomatik itu. 

Hujan perlahan mengecil. Langit Jakarta mulai sedikit terang.

Saya tersenyum kecil.
Mungkin dunia memang tidak berubah hari ini.

Perang mungkin masih akan terjadi. Politik mungkin masih akan berisik.

Tetapi selama masih ada manusia yang memilih kewarasan, harapan itu belum benar-benar hilang.

Dan kewarasan kadang dimulai dari hal kecil:
menolak membenci,
menolak menindas,
dan menolak percaya bahwa perang adalah takdir manusia.

Saya menarik napas panjang. Lalu saya berkata pelan kepada diri saya sendiri:
“Dunia ini tidak kekurangan senjata.
Yang kurang hanyalah manusia yang cukup waras untuk tidak menggunakannya.”

Hujan akhirnya berhenti.
Dan Jakarta kembali menjadi kota yang sibuk.

Tetapi di hati saya ada keyakinan sederhana:
suatu hari nanti, suara kewarasan akan lebih keras daripada suara perang.
Ahoi.


Senja Ramadhan di Bawah Langit Perang

Sebelumnya

Semakin Berani, Spanyol Akhiri Tugas Dubesnya di Israel

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia