post image
Seorang pria mengibarkan bendera Iran di tengah puing-puing bangunan akibat serangan AS-Israel.
KOMENTAR

Oleh: Selwa Kumar, PP IKA USU, Bidang Seni dan Budaya.

HUJAN belum juga berhenti ketika saya melangkah meninggalkan pagar kedutaan itu.

Rintiknya masih jatuh pelan, seperti doa-doa yang tidak diucapkan dengan suara keras. Jalan Teuku Umar tetap sibuk. 

Klakson mobil, motor yang terburu-buru, orang-orang berlari kecil menghindari genangan. Kota ini seperti tidak pernah benar-benar punya waktu untuk berduka.

Saya berjalan pelan.
Di kepala saya muncul satu pertanyaan sederhana:
mengapa dunia ini begitu mudah memilih perang, tetapi begitu sulit memilih kewarasan?

Sejarah manusia seharusnya sudah cukup menjadi pelajaran. Setiap perang selalu dimulai dengan pidato-pidato keras. Kata-kata tentang kehormatan, keamanan, kemenangan, dan kejayaan bangsa.

Tetapi yang selalu mengubur anak-anak adalah tanah yang sama.

Yang selalu menangis adalah ibu-ibu yang sama.

Yang selalu kehilangan rumah adalah rakyat kecil yang sama.

Perang tidak pernah benar-benar dimenangkan oleh rakyat.

Perang biasanya hanya dimenangkan oleh ambisi.

Saya berhenti sebentar di bawah pohon tua di pinggir jalan. Daunnya meneteskan air hujan ke bahu saya. Saya tidak terganggu. Hujan bagi saya selalu terasa seperti pengingat: alam semesta lebih bijak daripada manusia.

Bayangkan jika para pemimpin dunia duduk sebentar di bawah hujan seperti ini.
Tanpa podium.
Tanpa kamera.
Tanpa pidato panjang.
Hanya duduk sebagai manusia.

Mungkin mereka akan ingat bahwa kekuasaan itu sementara. 

Bahwa peta negara yang mereka perebutkan sebenarnya hanyalah garis di atas kertas. 

Bahwa setiap bom yang dijatuhkan selalu memiliki alamat yang nyata: rumah seseorang.

Saya tidak sedang berbicara sebagai ahli geopolitik.

Saya hanya berbicara sebagai manusia yang waras.

Waras itu sederhana.
Waras berarti tahu bahwa anak kecil di Gaza sama berharganya dengan anak kecil di New York, Teheran, Tel Aviv, atau Jakarta.

Waras berarti tahu bahwa tidak ada agama yang mengajarkan kebanggaan atas kematian manusia lain.

Waras berarti tahu bahwa pemimpin sejati bukanlah mereka yang paling keras berbicara tentang perang, tetapi mereka yang paling berani menghentikannya.

Itulah sebabnya saya datang hari ini.

Bukan untuk memuja seorang tokoh.

Bukan untuk membela satu negara.


Senja Ramadhan di Bawah Langit Perang

Sebelumnya

Semakin Berani, Spanyol Akhiri Tugas Dubesnya di Israel

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia