post image
Presiden AS Donald Trump
KOMENTAR

Namun, ia menunjukkan bahwa gosip itu beredar di tengah merosotnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Trump.

Oleh: Rachland Nashidik, Intelektual Partai Demokrat

5 APRIL 2026: Media sosial diramaikan oleh gosip bahwa Presiden Donald Trump dibawa ke Walter Reed, rumah sakit militer yang lazim diasosiasikan dengan pemeriksaan dan perawatan presiden Amerika.

Sehari sebelumnya, Gedung Putih mengumumkan bahwa agenda presiden yang terbuka bagi publik akan ditutup lebih awal, sekitar pukul 11 pagi. Celah informasi inilah yang, tampaknya, memancing spekulasi.

Gedung Putih segera membantah. Dan gosip itu memang tidak terbukti. Namun, soalnya bukan sekadar apakah gosip itu benar, melainkan mengapa bagi publik ia begitu cepat terasa masuk akal? Di sini, konteks politik perlu diperiksa.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada akhir Maret mencatat tingkat persetujuan publik terhadap Presiden Trump turun ke 36 persen, titik terendah dalam masa jabatan keduanya. Survei yang sama menemukan, 61 persen responden tidak menyetujui serangan ke Iran. Reuters/Ipsos juga mencatat, 66 persen warga Amerika ingin perang segera diakhiri.

Sementara itu, survei AP-NORC—kerja sama kantor berita Associated Press dengan lembaga riset NORC Universitas Chicago—pada 20–24 Maret menunjukkan bahwa 59 persen warga Amerika menilai aksi militer terhadap Iran sudah terlalu jauh.

Angka-angka tersebut memang tak bicara tentang gosip kesehatan presiden. Namun, ia menunjukkan bahwa gosip itu beredar di tengah merosotnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Trump.

Gosip sering keliru. Namun, sebagai fakta sosial, keberadaannya penting diperhatikan. Kenyataan bahwa ia muncul dan dengan cepat menyebar, merupakan gejala politik yang menunjukkan tingkat kecemasan publik akibat menipisnya kepercayaan dan rapuhnya hubungan antara negara dan warga.

Demokrasi dituntun oleh sesuatu yang rapuh: kepercayaan publik. Ia bukan hanya ditopang oleh pemilu dan dijaga oleh pembagian kekuasaan.

Bagi warga, kepercayaan bahwa institusi-institusi negara masih layak dipercaya adalah alasan untuk menunda prasangka sampai bukti tersedia.

Namun, kepercayaan semacam itu lahir dari pengalaman politik yang konkret: kebijakan yang masuk akal, hukum yang adil, dan kekuasaan yang tidak menyimpang dari klaim moralnya sendiri.

Karena itu, keliru bila persoalan gosip direduksi menjadi cara negara menjelaskan diri semata. Komunikasi negara yang baik memang penting, tetapi tidak cukup untuk menutupi kebijakan yang buruk.

Gosip tak selalu cerminan irasionalitas massa. Ia justru sering merupakan hasil dari pembelajaran sosial: bahwa negara terlalu sering mengecewakan. Bahwa kata-kata resmi terlalu sering tidak sejalan dengan kenyataan.

Dengan kata lain, gosip tumbuh subur bila tanahnya telah tersedia. Media sosial hanya memperbesar apa yang sudah lebih dulu ada.

Amerika hidup dalam demokrasi yang secara prosedural tampak kokoh. Namun, di bawah permukaan, tampaknya tumbuh kecemasan bahwa kualitas demokrasi tidak lagi sejalan dengan bentuk luarnya.

Dalam sistem politik yang personalistis, seperti demokrasi presidensial, selalu ada godaan untuk menggantungkan terlalu banyak hal pada figur pemimpin. Stabilitas seperti ini menipu: ia terlihat kuat, padahal bantalan kepercayaan di bawahnya tipis.

Pemimpin yang terlalu kuat secara politik justru dapat melemahkan lembaga-lembaga di sekelilingnya. Itulah yang kini dilihat dunia tentang Amerika. Institusi-institusi demokrasinya dipersepsikan melemah. Hukum dinilai hanya tajam ke bawah. Kebijakan publik lebih sering dibenarkan dengan olah narasi ketimbang alasan yang substantif.

Tugas negara bukan hanya memerintah, melainkan memerintah dengan benar. Bukan dengan propaganda, tetapi dengan kualitas kebijakan dan konsistensi tindakan. Ketika negara kehilangan kredibilitas moral dan institusional, penjelasan resmi tidak akan mudah dipercayai, klarifikasi tidak mengakhiri spekulasi, dan bantahan dianggap alibi untuk menutupi sesuatu.

Dari Amerika, kita bisa belajar bahwa negara harus cukup terbuka agar warga tidak perlu mencari-cari kebenaran di lorong-lorong spekulasi. Institusi-institusi demokrasi harus cukup kuat agar publik tahu ada mekanisme yang mengawasi dan memeriksa kekuasaan. Dan media harus cukup merdeka agar klarifikasi berada dalam ekosistem informasi yang sehat.

Tetapi, pada saat yang sama, kita juga harus mampu membedakan skeptisisme yang sehat dari ketidakpercayaan yang merusak. Demokrasi membutuhkan warga yang kritis. Namun, skeptisisme tidak sama dengan anggapan bahwa semua penjelasan resmi pasti bohong.

Meski begitu, negara juga harus adil: ketidakpercayaan yang meluas sering kali merupakan produk kekuasaan itu sendiri. Jika kebijakan diambil tanpa transparansi, institusi demokrasi dilemahkan, dan kritik diperlakukan sebagai gangguan, maka publik mempunyai alasan rasional untuk curiga.

Pada akhirnya, krisis demokrasi tak selalu dimulai dengan tank di jalanan atau kekerasan terhadap aktivis. Sering kali ia dimulai oleh hal yang lebih senyap: negara bicara, tapi warga tak menemukan alasan untuk percaya.


Iran Sikat Chinook di Kuwait

Sebelumnya

Perang AS versus Iran Ilusi Kemenangan dan Realitas Eskalasi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia