Lalu dari Italia: 2 kapal patroli kombatan PPA. Dari Amerika Serikat: 24 pesawat angkut C-130J Super Hercules. Dan Indonesia juga sedang menjajaki pembelian jet J-10CE dari China.
Ringkasnya, Indonesia sedang mengumpulkan kemampuan dari banyak sumber. Langkah itu seharusnya menunjukkan pada negara-negara di kawasan bahwa pola yang sedang ditempuh bukanlah menyerahkan diri kepada satu poros, melainkan memperluas ruang gerak. Kerja sama dengan Washington adalah salah satu cara memperbesar opsi, bukan mempersempitnya.
Dengan kata lain, Indonesia sedang memainkan politik daya tawar. Menaikkan nilainya di mata semua kekuatan besar dan dengan itu membangun kemampuan untuk menentukan arah sendiri.
Sungguh pun demikian, laporan CNA masih tetap penting dan relevan. Memang pada akhirnya, yang sedang diuji bukan hanya isi perjanjian — melainkan kecakapan Indonesia menjaga jarak.
Setiap negara mungkin perlu memperkuat kemampuan militernya. Persoalannya adalah batas. Sampai di mana kerja sama itu dibawa. Di mana garis pemisah antara modernisasi dan ketergantungan. Kapan hubungan yang semula berguna mulai berubah menjadi beban politik.
Indonesia boleh membuka pintu kerja sama selebar yang dibutuhkan. Tetapi satu hal harus tetap diteguhi di dalam dada: arah langkah itu harus tetap ditentukan oleh Indonesia sendiri.
Dalam dunia yang makin bising oleh persaingan blok, statecraft bukan sekadar memilih teman. Risiko terbesar dari strategi menyeimbangkan poros adalah terjebak dalam konflik kekuatan besar karena komitmen yang semula bersifat teknis.
Sejarah berulang mencatat, suatu negara sering kali tidak kehilangan otonominya dalam satu malam — melainkan sedikit demi sedikit, lewat langkah-langkah yang mula-mula tampak teknis, masuk akal, dan kelihatan tidak berbahaya.
Itulah ujian sesungguhnya yang menanti Presiden Prabowo.




KOMENTAR ANDA