Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
MOHON dimengerti bahwa judul naskah ini istilah berkepanjangan sebab lebih terkait dengan proses ketimbang benda maupun tak benda.
Dunia modern punya obsesi membesar. Gedung makin tinggi, layar makin lebar, suara makin kencang, data makin tak terhingga. Tapi di balik semua yang membengkak itu, ada hukum semesta yang justru berjalan sebaliknya yakni semua mengecil.
Konon, 13.8 miliar tahun lalu, alam semesta lahir dari satu titik lebih kecil dari ujung jarum. Lalu mengembang jadi galaksi, bintang, planet.Tapi evolusinya tidak berhenti di “membesar”. Atom mengecilkan galaksi jadi unsur.
Molekul mengecilkan unsur jadi kehidupan. DNA mengecilkan kehidupan jadi memori 3 miliar huruf dalam 1 sel. Otak manusia mengecilkan alam semesta jadi kesadaran.
Hukumnya yang bertahan bukan yang paling besar, tapi yang paling padat makna. Lubang hitam supermasif Sgr A di pusat Bima Sakti diameternya 44 juta km, tapi massanya 4.3 juta matahari. Kecil, tapi menahan 100 miliar bintang untuk tetap menari.
Kebudayaan ikut hukum yang sama . Zaman Borobudur: Kakek-Nenek moyang butuh 75 tahun, 2 juta balok batu, 10.000 pemahat untuk bicara soal hidup. Pesannya: besar = agung.
Sekarang bisa dilakukan cukup dalam satu hari dengan sebuah lagu atau syair. Sekarang gerakan mengecilkan makin melanda dunia. Dahulu Grand Hotel punya kamar besar-besar, sekarang Hotel Kapsul punya kamar kecil-kecil.
Evolusi kebudayaan adalah proses mengecilkan wadah, sembari membesarkan isi . Wayang Kulit butuh kelir 6 meter, gamelan 1 pendopo, dalang semalam suntuk. Sekarang: HP 6 inci sudah bisa menampilkan wayang, gamelan, dalang, plus komentar 10.000 penonton live.
Tapi sebenarnya yang mengecil cuma medianya. Nafsu manusianya sering malah membesar. Kini kita bikin video 1 menit tapi kosong makna bahkan menyesatkan alias hoax.
Bikin gedung 100 lantai tapi lupa bikin lagu untuk anak cucu. Fisika kuantum bilang: elektron tidak mengorbit seperti planet. Ia “mengecil” menjadi awan probabilitas tanpa jelas di mana atau bagaimana maupun kapan tapi pasti ada dan mengisi ruang dan waktu.
Lembaga riset fisika partikel, CERN butuh 48 tahun untuk menangkap Higgs Boson sebagai partikel yang memberi massa pada alam semesta padahal massanya cuma 0.000000000000000000000001 gram. Kecil, tapi tanpa dia, kita semua cuma cahaya yang bubar.
Kroncong adalah “Higgs Bnoson”-nya martabat Indonesia, Kecil, sering diremehkan, tapi tanpa dia, identitas kebudayaan kita ambyar menjadi cahaya tak berbentuk.
Berhenti rumongso biso bikin yang besar. Mulai biso rumongso untuk bikin yang padat. 1 lagu jujur lebih mulia ketimbang 100 festival gimmick. 1 nada tawakal lebih bermakna kearifan ketimbang 1000 pitch deck startup.
Di akhir zaman, yang menang bukan yang paling besar gedungnya Tapi yang paling kecil egonya, dan paling padat cintanya, Alam semesta saja berkenan mengecilkan diri mejadi manusia untuk bisa merasa. Masak manusia tidak mau mengecilkan egonya demi menjadi karya abadi.
Kesimpulan pengecilanomologis: memang semua terkesan semakin mengecil kecuali satu yaitu kasih-sayang. Mengingat kemanusiaan adalah mahkota peradaban maka seyogianya kasih-sayang jangan diperkecil.




KOMENTAR ANDA