Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
SEBENARNYA, saya tidak mengikuti jejak awal karier Michael Jackson. Saya mulai tertarik kepada MJ sejak menyimak klip video THRILLER maka menulis resensi di harian KOMPAS, tentang klip video legendaris yang dirilis Desember 1983.
Akibat menulis bukan cuma terbatas dengan lensa positif maka saya dihujat habis oleh seorang perempuan Indonesia yang ngefan MJ secara obsesif fundamentalis harga mati. Saat itu saya baru tersadar bahwa ternyata pagebluk histeria MJ-Maniac sudah merambah masuk ke Indonesia.
Pada belahan awal Mei 2026, saya diajak Ibu Ayla menonton film “Michael” yang dibintangi keponakan MJ yaitu putra Germaine Jackson bernama Jaafar Jackson diproduksi Prince bukan pesaing bebuyutan MJ namun putra kandung MJ sendiri.
Satu hal pada fim tersebut menarik perhatian saya yaitu tatkala awal mulai meniti karier, MJ menggebrak blantika musik dengan lagu “I’ll Be There” yang menurut pendapat saya, melodi bait awalnya mirip lagu “Let It Be Me” yang dipopulerkan The Everly Brothers sebagai terjemahan Inggris terhadap mahakarya Gilbert Becaud dalam bahasa Prancis: “Je T’Appartiens”. Ternyata pendapat saya tidak keliru.
Tahun 1970, Berry Gordy sengaja menggunakan melodi yang sudah dikenal masyarakat Amerika Serikat khusus bagi Michael Jackson yang baru berusia 11 tahun berlatar Jackson Bersaudara. Yang digunakan ternyata melodi lagu “Let It Be Me” yang telah dipopulerkan oleh Everly Bersaudara.
Judul “Let It Be Me” diganti dengan “I’ll Be There” dan syair diganti menjadi: You and I must make a pact/ We must bring salvation back/ Where there is love, I'll be there (I'll be there)/ I'll reach out my hand to you/ I'll have faith in all you do/ Just call my name and I'll be there (I'll be there).
Sementara Everly Bersaudara yang berdua digantikan Jackson Bersaudara yang berlima. Hanya beda Everly Brothers menyanyi dengan suara dewasa. The Jackson Five berdendang dengan suara remaja. Melodi sama namun lirik serta interpretasinya beda.
“I’ll Be There” langsung melangit sebagai lagu popular pada awal tahun 70an abad XX . Bahkan pada film “Michael” yang digarap pada abad XXI, melodi tersebut diangkat sebagai soundtrack mengiringi alur kisah film disutradarai Antoine Fuqua yang juga sempat sukses menggarap “Training Day” dan “Equalizer 3”.
Pada hakikatnya lagu gagasan Berry Gordy ini bukan plagiat apalagi jiplakan copas (bagian chorus sangat beda). “I’ll Be There” merupakan sebuah strategi marketing yang terbukti berhasil membuka portal masa depan gilang-gemilang Michael Jackson sebagai satu di antara para entertainer terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia.




KOMENTAR ANDA