post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Dalam situasi krisis yang akut inilah pertemuan ketiga antara Trump dan Xi Jinping terjadi pada Desember 2018 di Buenos Aires, Argentina, di sela-sela KTT G20. Format pertemuan ini telah berubah total secara drastis; tidak ada lagi kemegahan seremonial seperti di Kota Terlarang atau atmosfer santai seperti di resor Mar-a-Lago. Pertemuan ini murni merupakan sebuah bentuk diplomasi manajemen krisis (crisis management diplomacy) yang dilakukan melalui jamuan makan malam kerja yang tegang, di mana kedua pemimpin berpacu dengan waktu untuk mencegah eskalasi konflik agar tidak merembet menjadi depresi ekonomi global.

Kesepakatan yang dicapai di Buenos Aires adalah sebuah kompromi taktis berupa gencatan senjata perdagangan (trade war truce) selama 90 hari. Trump setuju untuk menunda rencana kenaikan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen terhadap barang-barang impor China senilai 200 micron dolar AS yang seharusnya berlaku pada 1 Januari 2019. 

Sebagai kompensasinya, Xi Jinping setuju untuk segera melakukan pembelian massal terhadap produk-produk pertanian dari para petani Amerika yang merupakan basis konstituen politik utama Trump. Xi Jinping juga berkomitmen untuk mengkategorikan zat opioid Fentanyl sebagai zat terlarang yang diawasi secara ketat oleh hukum China. Gencatan senjata ini dibeli dengan harga yang mahal, namun sifatnya sangat sementara dan tidak menyelesaikan akar permasalahan struktural yang memicu perang dagang itu sendiri.

Dinamika politik global yang melingkupi pertemuan ketiga di Argentina ini menjadi sangat dramatis dan memperlihatkan dengan jelas bagaimana persaingan kedua negara telah bermutasi menjadi perang dingin teknologi (tech-war). Tepat pada hari yang sama ketika Trump dan Xi Jinping sedang duduk bersama di meja makan malam Buenos Aires, otoritas Kanada atas permintaan resmi dari Departemen Kehakiman AS menangkap Meng Wanzhou, Chief Financial Officer (CFO) sekaligus putri dari pendiri raksasa teknologi China, Huawei, di Bandara Vancouver.

Penangkapan Meng Wanzhou mengirimkan gelombang kejut yang luar biasa ke Beijing dan memicu kemarahan besar dari elite politik RRC. Peristiwa ini membuktikan secara empiris tesis John Mearsheimer mengenai pentingnya menguasai kapasitas laten (latent power) dalam persaingan great power.

Bagi kaum realis ofensif, kapasitas laten yang terdiri dari kekayaan ekonomi dan penguasaan teknologi mutakhir adalah fondasi utama yang nantinya akan dikonversi menjadi kekuatan militer yang mematikan. Huawei, dengan dominasi globalnya dalam pengembangan jaringan 5G dan infrastruktur telekomunikasi, dipandang oleh Washington bukan lagi sekadar sebuah korporasi komersial yang sukses, melainkan sebagai perpanjangan tangan strategis dari kekuatan geopolitik RRC yang mengancam keamanan nasional AS dan sekutu-sekutunya. 

Penangkapan Meng Wanzhou menunjukkan bahwa AS sebagai ruling power bersedia menggunakan instrumen hukum ekstrateritorial yang agresif untuk memotong jalur pertumbuhan teknologi kompetitornya, sebuah langkah putus asa namun rasional dalam logika kompetisi hegemonik.

Hasil akhir dari kesepakatan Buenos Aires mengarahkan kedua negara ke dalam labirin negosiasi yang sangat melelahkan sepanjang tahun 2019, yang diwarnai oleh aksi saling tuduh, pembatalan sepihak, dan pengenaan tarif baru sebelum akhirnya memuncak pada penandatanganan kesepakatan dagang Phase One pada Januari 2020. 

Namun, kegembiraan atas kesepakatan Phase One tersebut berumur sangat pendek dan pada akhirnya runtuh total ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Pandemi tidak hanya melumpuhkan kapasitas ekonomi China untuk memenuhi target pembelian barang-barang Amerika yang telah disepakati, tetapi juga digunakan oleh kedua belah pihak sebagai instrumen saling serang dalam perang narasi global, yang semakin memperdalam jurang permusuhan struktural di antara keduanya.

Pola Degenerasi

Jika kita melakukan komparasi struktural terhadap ketiga pertemuan puncak tersebut, kita dapat melihat sebuah pola degenerasi hubungan diplomatik yang sangat jelas dan terukur. Hubungan kedua negara bergerak dari fase kooperatif-normatif di Mar-a-Lago, menuju fase transaksional-seremonial di Beijing, dan berakhir pada fase konfrontasional-defensif di Buenos Aires. 

Di Mar-a-Lago, fokus utamanya adalah membangun jembatan komunikasi personal dan merumuskan tata cara berdialog yang beradab. Di Beijing, kemegahan karpet merah digunakan sebagai instrumen diplomatik untuk menutupi kecemasan struktural, di mana transaksi ekonomi dijadikan komoditas untuk membeli stabilitas jangka pendek. Sementara di Buenos Aires, diplomasi tidak lagi digunakan untuk membangun kemitraan, melainkan hanya sebagai alat rem darurat untuk mencegah benturan keras yang bisa menghancurkan sistem ekonomi internasional.

Pergeseran dinamika politik pengiring dari tahun 2017 hingga 2018 ini juga mencerminkan bagaimana isu-isu global diadaptasi dalam persaingan kekuasaan. Pada awal tahun 2017, isu regional seperti program nuklir Korea Utara masih dipandang sebagai ruang kerja sama multilateral di mana AS dan China bisa berbagi beban tanggung jawab. 

Namun, menjelang akhir tahun 2018, fokus interaksi telah bergeser secara radikal ke arah persaingan unilateral di bidang teknologi strategis, kecerdasan buatan, keamanan siber, dan kontrol atas rantai pasok semikonduktor global global. Hal ini membuktikan argumen Mearsheimer bahwa dalam dunia yang anarkis, kerja sama antar-negara besar di bidang keamanan selalu bersifat efemeral (sementara) dan akan selalu dikalahkan oleh dorongan untuk saling mendominasi.

Bagi Graham Allison, apa yang terjadi dalam rangkaian pertemuan Trump dan Xi Jinping adalah manifestasi modern dari ketegangan kuno yang pernah dicatat oleh Thucydides ketika Athena yang sedang bangkit menantang Sparta yang sudah mapan. 

Allison mengingatkan kita dalam studinya bahwa dari 16 kasus sejarah dalam 500 tahun terakhir di mana kekuatan yang sedang bangkit mengancam posisi kekuatan mapan, 12 di antaranya berakhir dengan perang konfrontasi militer terbuka. 

Tiga pertemuan puncak antara Trump dan Xi Jinping sepanjang 2017–2018 adalah upaya sadar dari kedua pemimpin untuk mengelola tekanan struktural demi menghindari perang. Namun, hasil akhir dari ketiga pertemuan tersebut menunjukkan betapa sulitnya melarikan diri dari jebakan struktural ini ketika ketakutan objektif dari pihak kekuatan mapan telah bercampur dengan ambisi nasional dari pihak kekuatan yang sedang bangkit.

Aksi Koboi Semakin Menjadi

Memasuki tahun 2026 terlihat betapa tesis unilateralisme agresif dan benturan great power yang benihnya disemai pada 2017-2018 telah mekar sepenuhnya dan menjadi anarki global yang tak terkendali. 

Kita menyaksikan bagaimana doktrin hukum internasional dikesampingkan secara kasar ketika AS meluncurkan Operation Absolute Resolve pada 3 Januari 2026. Penyerbuan pangkalan militer di Caracas dan penangkapan secara paksa terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, untuk diadili di pengadilan Manhattan, adalah contoh ekstrem bagaimana ruling power menolak batas-batas kedaulatan demi mengamankan jalur energi dan melumpuhkan pengaruh poros geopolitik tandingan di halaman belakangnya sendiri.

Tidak berhenti di Venezuela, aksi koboi Trump juga diperlihatkan di hadapan sekutu-sekutu Eropa. Trump mengancam pengenaan tarif impor sebesar 25 persen terhadap Uni Eropa jika Denmark menolak menyerahkan kendali atas Greenland kepada AS. Krisis diplomatik Greenland ini memicu mobilisasi militer darurat lintas-atlantik melalui Operation Arctic Endurance, di mana Denmark dibantu oleh sekutu-sekutu NATO terpaksa menempatkan pasukan elite di Nuuk untuk menangkal aneksasi sepihak. Ini drama yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Eskalasi ini memperlihatkan kecemasan struktural tingkat tinggi dari AS yang bersedia memecah aliansi tradisionalnya sendiri demi menguasai jalur navigasi utara dan cadangan mineral langka yang krusial bagi perang hegemoni jangka panjang melawan RRC.

Sebagai puncak dari manifestasi ketakutan eksistensial dan agresi ofensif terekam secara dramatis di Timur Tengah pada 28 Februari 2026 melalui peluncuran Operation Epic Fury. Serangan udara gabungan skala masif yang dilakukan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel ke jantung pertahanan udara Tehran menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama puluhan pejabat tinggi. Serangan itu seketika mengubah peta geopolitik Timur Tengah menjadi medan perang terbuka yang meluas, memicu ratusan rudal balistik balasan dari pihak Iran, dan secara efektif menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur nadi pasokan energi dunia.

Peristiwa dramatis di awal tahun 2026 ini membawa babak baru dalam hubungan AS-China ketika Trump mendarat di Beijing pada pertengahan Mei 2026 untuk bernegosiasi langsung dengan Xi Jinping di tengah guncangan harga minyak mentah dunia. 

Dari kacamata Realisme Ofensif Mearsheimer, Beijing kini terpaksa memainkan kalkulasi defensif taktis dengan memanfaatkan keputusasaan ekonomi global akibat penutupan Selat Hormuz sebagai kartu truf diplomasi mereka, sementara Washington berupaya menekan China agar tidak memanfaatkan kekosongan kekuasaan di Timur Tengah untuk memperluas hegemoni mata uang yuan. 


Sepuluh Negara Kecam Keras Serangan Militer Israel terhadap Kapal Kemanusiaan Global Sumud Flotilla

Sebelumnya

Pemakzulan Sara Duterte dan Wacana Pemakzulan Gibran

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia