Benturan antara “China Dream” milik Xi Jinping yang ingin mengembalikan kejayaan historis Tiongkok dan doktri “America First” milik Trump yang ingin mempertahankan supremasi global AS menciptakan sebuah ketegangan struktural yang tidak bisa dijembatani hanya dengan penandatanganan MoU bisnis yang bersifat non-binding.
Kerapuhan hasil akhir dari kesepakatan Beijing 2017 terbukti dalam hitungan bulan setelah Trump meninggalkan daratan China. Sebagian besar kesepakatan bisnis raksasa tersebut menguap begitu saja karena tidak adanya komitmen hukum yang mengikat, dan beberapa di antaranya hanyalah proyek-proyek lama yang dikemas ulang demi kepentingan publisitas politik.
Pada awal tahun 2018, ketakutan struktural pihak ruling power terhadap rising power akhirnya pecah menjadi kebijakan agresif yang nyata. Pemerintahan Trump meluncurkan investigasi tarif menggunakan Pasal 301 UU Perdagangan Amerika Serikat Tahun 1974.
Pasal ini memberikan wewenang kepada Presiden untuk mengambil tindakan yang tepat, termasuk pembalasan berbasis tarif maupun non-tarif, guna mendesak penghapusan tindakan, kebijakan, atau praktik dari pemerintah asing yang melanggar perjanjian perdagangan internasional atau tindakan yang tidak dapat dibenarkan, tidak masuk akal, atau diskriminatif, serta yang membebani atau membatasi perdagangan Amerika Serikat.
Dengan menggunakan Pasal 301 itu, Trump menuduh China melakukan pencurian kekayaan intelektual secara sistematis. Dan secara resmi Trump memulai perang dagang terbuka dengan memberlakukan tarif masuk besar-besaran terhadap produk-produk manufaktur asal RRC.
Perang dagang yang destruktif ini berjalan selama hampir delapan bulan, mengguncang rantai pasok global, menimbulkan kerentanan tinggi di bursa saham internasional, dan membawa hubungan kedua negara ke titik terendah sejak normalisasi diplomatik tahun 1979.
Pertemuan Ketiga
Dalam situasi krisis yang akut inilah pertemuan ketiga antara Trump dan Xi Jinping terjadi pada Desember 2018 di Buenos Aires, Argentina, di sela-sela KTT G20.
Format pertemuan ketiga berubah total secara drastis; tidak ada lagi kemegahan seremonial seperti di Kota Terlarang atau atmosfer santai seperti di resor Mar-a-Lago. Pertemuan ini murni merupakan sebuah bentuk diplomasi manajemen krisis (crisis management diplomacy) yang dilakukan melalui jamuan makan malam kerja yang tegang, di mana kedua pemimpin berpacu dengan waktu untuk mencegah eskalasi konflik agar tidak merembet menjadi depresi ekonomi global.
Kesepakatan yang dicapai di Buenos Aires adalah sebuah kompromi taktis berupa gencatan senjata perdagangan (trade war truce) selama 90 hari. Trump setuju untuk menunda rencana kenaikan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen terhadap barang-barang impor China senilai 200 micron dolar AS yang seharusnya berlaku pada 1 Januari 2019.
Sebagai kompensasinya, Xi Jinping setuju untuk segera melakukan pembelian massal terhadap produk-produk pertanian dari para petani Amerika yang merupakan basis konstituen politik utama Trump. Xi Jinping juga berkomitmen untuk mengkategorikan zat opioid Fentanyl sebagai zat terlarang yang diawasi secara ketat oleh hukum China.
Gencatan senjata ini dibeli dengan harga yang mahal, namun sifatnya sangat sementara dan tidak menyelesaikan akar permasalahan struktural yang memicu perang dagang itu sendiri.
Dinamika politik global yang melingkupi pertemuan ketiga di Argentina ini menjadi sangat dramatis dan memperlihatkan dengan jelas bagaimana persaingan kedua negara telah bermutasi menjadi perang dingin teknologi (tech-war). Tepat pada hari yang sama ketika Trump dan Xi Jinping sedang duduk bersama di meja makan malam Buenos Aires, otoritas Kanada atas permintaan resmi dari Departemen Kehakiman AS menangkap Meng Wanzhou, Chief Financial Officer (CFO) sekaligus putri dari pendiri raksasa teknologi China, Huawei, di Bandara Vancouver.
Penangkapan Meng Wanzhou mengirimkan gelombang kejut yang luar biasa ke Beijing dan memicu kemarahan besar dari elite politik RRC. Peristiwa ini membuktikan secara empiris tesis John Mearsheimer mengenai pentingnya menguasai kapasitas laten (latent power) dalam persaingan great power.
Bagi kaum realis ofensif, kapasitas laten yang terdiri dari kekayaan ekonomi dan penguasaan teknologi mutakhir adalah fondasi utama yang nantinya akan dikonversi menjadi kekuatan militer yang mematikan. Huawei, dengan dominasi globalnya dalam pengembangan jaringan 5G dan infrastruktur telekomunikasi, dipandang oleh Washington bukan lagi sekadar sebuah korporasi komersial yang sukses, melainkan sebagai perpanjangan tangan strategis dari kekuatan geopolitik RRC yang mengancam keamanan nasional AS dan sekutu-sekutunya.
Penangkapan Meng Wanzhou juga menunjukkan bahwa AS sebagai ruling power bersedia menggunakan instrumen hukum ekstrateritorial yang agresif untuk memotong jalur pertumbuhan teknologi kompetitornya, sebuah langkah putus asa namun rasional dalam logika kompetisi hegemonik.
Hasil akhir dari kesepakatan Buenos Aires mengarahkan kedua negara ke dalam labirin negosiasi yang sangat melelahkan sepanjang tahun 2019, yang diwarnai oleh aksi saling tuduh, pembatalan sepihak, dan pengenaan tarif baru sebelum akhirnya memuncak pada penandatanganan kesepakatan dagang Phase One pada Januari 2020.
Namun, kegembiraan atas kesepakatan Phase One tersebut berumur sangat pendek dan pada akhirnya runtuh total ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Pandemi tidak hanya melumpuhkan kapasitas ekonomi China untuk memenuhi target pembelian barang-barang Amerika yang telah disepakati, tetapi juga digunakan oleh kedua belah pihak sebagai instrumen saling serang dalam perang narasi global, yang semakin memperdalam jurang permusuhan struktural di antara keduanya.
Pola Degenerasi
Jika kita melakukan komparasi struktural terhadap ketiga pertemuan puncak tersebut, kita dapat melihat sebuah pola degenerasi hubungan diplomatik yang sangat jelas dan terukur. Hubungan kedua negara bergerak dari fase kooperatif-normatif di Mar-a-Lago, menuju fase transaksional-seremonial di Beijing, dan berakhir pada fase konfrontasional-defensif di Buenos Aires.
Di Mar-a-Lago, fokus utamanya adalah membangun jembatan komunikasi personal dan merumuskan tata cara berdialog yang beradab. Di Beijing, kemegahan karpet merah digunakan sebagai instrumen diplomatik untuk menutupi kecemasan struktural, di mana transaksi ekonomi dijadikan komoditas untuk membeli stabilitas jangka pendek.
Sementara di Buenos Aires, diplomasi tidak lagi digunakan untuk membangun kemitraan, melainkan hanya sebagai alat rem darurat untuk mencegah benturan keras yang bisa menghancurkan sistem ekonomi internasional.
Pergeseran dinamika politik pengiring dari tahun 2017 hingga 2018 ini juga mencerminkan bagaimana isu-isu global diadaptasi dalam persaingan kekuasaan. Pada awal tahun 2017, isu regional seperti program nuklir Korea Utara masih dipandang sebagai ruang kerja sama multilateral di mana AS dan China bisa berbagi beban tanggung jawab.
Namun, menjelang akhir tahun 2018, fokus interaksi telah bergeser secara radikal ke arah persaingan unilateral di bidang teknologi strategis, kecerdasan buatan, keamanan siber, dan kontrol atas rantai pasok semikonduktor global global.
Hal ini membuktikan argumen Mearsheimer bahwa dalam dunia yang anarkis, kerja sama antar-negara besar di bidang keamanan selalu bersifat sementara dan akan selalu dikalahkan oleh dorongan untuk saling mendominasi.




KOMENTAR ANDA