Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
SEMULA saya sempat menduga bahwa gajah tidak punya gigi selain taring besar yang biasa disebut oleh manusia sebagai gading. Ternyata saya keliru.
Gading gajah sebenarnya adalah sepasang gigi bagian atas yang tumbuh memanjang. Selain gading, gajah memiliki gigi geraham yang ukurannya sangat besar untuk mengunyah makanan berserat seperti dahan dan kulit kayu.
Uniknya, gajah biasanya hanya memiliki empat gigi geraham yang aktif di mulutnya dalam satu waktu (satu di setiap sisi rahang atas dan bawah). Sepanjang hidupnya, gajah akan berganti gigi geraham sebanyak enam kali.
Gigi baru akan tumbuh dari belakang dan mendorong gigi lama yang sudah aus ke depan hingga tanggal. Setelah set gigi keenam habis, gajah tua di alam liar biasanya akan kesulitan mengunyah makanan.
Selain tiada yang tidak retak, gading gajah hanya tumbuh sekali, tidak seperti gigi pengunyah yang dapat tumbuh dan berganti beberapa kali. Namun saat gajah sudah menumbuhkan gigi pengunyah pada siklus terakhir, ketika gigi tersebut lepas atau tanggal, maka gigi penguyah tidak akan tumbuh kembali.
Hal ini membuat gajah sulit untuk makan, dan berujung pada kematian. Kehilangan gigi merupakan salah satu penyebab kematian yang signifikan pada gajah yang lanjut usia.
Apakah ada gigi atau gading palsu untuk gajah seperti yang saya gunakan di masa lansia? Secara teknis, tidak ada gigi geraham palsu untuk gajah yang berfungsi seperti gigi palsu pada manusia lansia, tetapi gading palsu (prostetik) pernah dibuat untuk alasan estetika dan fungsional tertentu.
Gajah liar yang kehilangan seluruh gigi gerahamnya biasanya akan mati karena kelaparan. Berbeda dengan manusia yang bisa menggunakan gigi palsu lepasan atau implan untuk membantu makan di masa tua, sistem pencernaan dan cara makan gajah membutuhkan kekuatan kunyah yang sangat besar (lebih dari 2.000 psi) yang sulit ditiru oleh perangkat prostetik.
Meski jarang, ada kasus di mana gajah diberikan gading buatan. Di Kerala, India, seekor gajah yang kehilangan gading alaminya dipasangi gading pengganti berbahan serat yang disekrup ke sisa gading aslinya agar terlihat lebih estetis.
Ada juga kasus gajah di kebun binatang yang dipasangi "penutup gading" (tusk crown) dari logam atau bahan kuat lainnya untuk melindungi gading yang retak atau rusak agar tidak infeksi. Gajah mengunyah makanan keras seperti dahan pohon sepanjang hari. Gigi geraham manusia lansia, seperti yang ada di Lazada atau Shopee, hanya dirancang untuk makanan lunak dan tidak akan tahan terhadap beban kerja mulut gajah.
Sistem Ban Berjalan: Gigi gajah tumbuh dari belakang ke depan. Memasang gigi palsu di tengah "jalur" pertumbuhan alami ini sangat sulit secara medis.
Risiko Infeksi: Mulut gajah sangat sensitif; sepertiga bagian gading sebenarnya berisi saraf dan pembuluh darah (pulpa). Pemasangan benda asing berisiko menyebabkan infeksi fatal.
Di penangkaran, gajah lansia yang giginya sudah habis biasanya dibantu dengan pemberian makanan yang sudah dicacah halus atau dimasak agar mudah ditelan, karena mereka tidak bisa menggunakan gigi palsu seperti manusia. Gajah yang sudah lanjut usia dan kehilangan gigi geraham terakhirnya (set ke-6) mendapatkan perawatan khusus di penangkaran agar tidak kelaparan.
Karena tidak bisa menggunakan gigi palsu, para perawat (mahout) menyiapkan "makanan lunak" yang sudah diolah secara khusus.
Berikut adalah menu khusus dan metode pemberian makan untuk gajah lansia.
Sayuran dan buah-buahan favorit seperti semangka, nanas, dan melon tidak lagi diberikan utuh. Perawat akan memotongnya menjadi irisan tipis atau potongan kecil agar gajah tidak perlu mengunyah keras. Beberapa makanan seperti labu, nasi, dan jagung direbus hingga menjadi tekstur bubur yang lembut.
Rumput yang biasanya keras dipotong kecil-kecil menggunakan mesin pencacah (food shredder) atau direndam dalam air agar lebih empuk dan mudah dicerna. Di beberapa tempat konservasi, gajah yang sudah benar-benar ompong diberikan campuran halus dari millet, beras merah, sayuran, dan lemak (ghee) yang teksturnya mirip smoothie.
Bagian luar buah yang keras, seperti kulit semangka, sering kali dikupas terlebih dahulu agar gajah hanya memakan bagian dagingnya yang lunak.
Perawat akan memantau kotoran gajah secara ketat. Jika makanan tidak tercerna dengan baik (masih berbentuk potongan besar di kotoran), itu tandanya makanan harus dicacah lebih halus lagi.
Lembaga perawatan gajah seperti Wildlife SOS atau Global Sanctuary for Elephants merancang diet khusus ini untuk memastikan gajah-gajah senior bisa tetap hidup nyaman meski tanpa gigi.




KOMENTAR ANDA