Bagi Graham Allison, apa yang terjadi dalam rangkaian pertemuan Trump dan Xi Jinping adalah manifestasi modern dari ketegangan kuno yang pernah dicatat oleh Thucydides ketika Athena yang sedang bangkit menantang Sparta yang sudah mapan.
Allison mengingatkan kita dalam studinya bahwa dari 16 kasus sejarah dalam 500 tahun terakhir di mana kekuatan yang sedang bangkit mengancam posisi kekuatan mapan, 12 di antaranya berakhir dengan perang konfrontasi militer terbuka.
Tiga pertemuan puncak antara Trump dan Xi Jinping sepanjang 2017–2018 adalah upaya sadar dari kedua pemimpin untuk mengelola tekanan struktural demi menghindari perang. Namun, hasil akhir dari ketiga pertemuan tersebut menunjukkan betapa sulitnya melarikan diri dari jebakan struktural ini ketika ketakutan objektif dari pihak kekuatan mapan telah bercampur dengan ambisi nasional dari pihak kekuatan yang sedang bangkit.
Aksi Koboi yang Semakin Menjadi
Memasuki tahun 2026 terlihat betapa tesis unilateralisme agresif dan benturan great power yang benihnya disemai pada 2017-2018 telah mekar sepenuhnya dan menjadi anarki global yang tak terkendali.
Kita menyaksikan bagaimana doktrin hukum internasional dikesampingkan secara kasar ketika AS meluncurkan Operation Absolute Resolve pada 3 Januari 2026. Penyerbuan pangkalan militer di Caracas dan penangkapan secara paksa terhadap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, untuk diadili di pengadilan Manhattan, adalah contoh ekstrem bagaimana ruling power menolak batas-batas kedaulatan demi mengamankan jalur energi dan melumpuhkan pengaruh poros geopolitik tandingan di halaman belakangnya sendiri.
Tidak berhenti di Venezuela, aksi koboi Trump juga diperlihatkan di hadapan sekutu-sekutu Eropa. Trump mengancam pengenaan tarif impor sebesar 25 persen terhadap Uni Eropa jika Denmark menolak menyerahkan kendali atas Greenland kepada AS.
Krisis diplomatik Greenland ini memicu mobilisasi militer darurat lintas-atlantik melalui Operation Arctic Endurance, di mana Denmark dibantu oleh sekutu-sekutu NATO terpaksa menempatkan pasukan elite di Nuuk untuk menangkal aneksasi sepihak. Ini drama yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Eskalasi ini memperlihatkan kecemasan struktural tingkat tinggi dari AS yang bersedia memecah aliansi tradisionalnya sendiri demi menguasai jalur navigasi utara dan cadangan mineral langka yang krusial bagi perang hegemoni jangka panjang melawan RRC.
Sebagai puncak dari manifestasi ketakutan eksistensial dan agresi ofensif terekam secara dramatis di Timur Tengah pada 28 Februari 2026 melalui peluncuran Operation Epic Fury. Serangan udara gabungan skala masif yang dilakukan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel ke jantung pertahanan udara Tehran menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bersama puluhan pejabat tinggi. Serangan itu seketika mengubah peta geopolitik Timur Tengah menjadi medan perang terbuka yang meluas, memicu ratusan rudal balistik balasan dari pihak Iran, dan secara efektif menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur nadi pasokan energi dunia.
Peristiwa dramatis di awal tahun 2026 ini membawa babak baru dalam hubungan AS-China ketika Trump mendarat di Beijing pada pertengahan Mei 2026 untuk bernegosiasi langsung dengan Xi Jinping di tengah guncangan harga minyak mentah dunia.
Dari kacamata Realisme Ofensif Mearsheimer, Beijing kini terpaksa memainkan kalkulasi defensif taktis dengan memanfaatkan keputusasaan ekonomi global akibat penutupan Selat Hormuz sebagai kartu truf diplomasi mereka, sementara Washington berupaya menekan China agar tidak memanfaatkan kekosongan kekuasaan di Timur Tengah untuk memperluas hegemoni mata uang yuan.
Tesis Allison mengenai Thucydides Trap kini bukan lagi sekadar peringatan akademis yang sayup-sayup terdengar, melainkan sebuah realitas geopolitik harian yang mencekam, di mana setiap percikan insiden taktis berisiko menyeret kekuatan mapan dan kekuatan yang sedang bangkit ke dalam perang sistemik global.
Traktat diplomasi tingkat tinggi antara Donald Trump dan Xi Jinping yang dimulai pada dekade lalu memberikan kita sebuah pelajaran berharga mengenai batas-batas konkret dari diplomasi personal dan transaksional.
Ketika dua kekuatan besar dunia terlibat dalam rivalitas hegemonik yang bersifat struktural, jalinan hubungan personal yang hangat di antara para pemimpinnya tidak akan pernah cukup kuat untuk membendung arus dalam sistem internasional yang anarkis.
Kesepakatan dagang yang spektakuler, jamuan makan malam yang mewah di Kota Terlarang, maupun gencatan senjata sementara di Buenos Aires pada akhirnya gagal mengubah haluan kebijakan proteksionisme ekonomi AS maupun memadamkan ambisi industri State-Driven Capitalism milik China.
Ketiga pertemuan awal tersebut telah meletakkan fondasi sejarah yang permanen bahwa hubungan AS-China telah bergeser secara ireversibel ke dalam era persaingan strategis jangka panjang yang sengit, sebuah realitas geopolitik baru yang puncaknya tengah kita saksikan ini.
2026: Kesepakatan Taktis yang Rapuh
Pertemuan Trump dan Xi di Beijing pada pertengahan Mei 2026 ini akhirnya melahirkan kesepakatan taktis yang rapuh, yang oleh para pengamat disebut sebagai Beijing Energy and Security Accord. Menghadapi ancaman kelumpuhan ekonomi global akibat penutupan Selat Hormuz pasca-Operation Epic Fury, Trump dan Xi Jinping terpaksa menyepakati sebuah kompromi transaksional tingkat tinggi: China bersedia mengerahkan pengaruh diplomatik dan intelijennya untuk menekan faksi-faksi militer Iran agar membuka kembali jalur navigasi Selat Hormuz secara bertahap.
Sebagai imbalannya, Washington sepakat untuk memberikan pengecualian tarif (tariff exemptions) pada sejumlah sektor teknologi strategis China serta menangguhkan rencana sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan internasional yang memfasilitasi perdagangan minyak di luar sistem petrodolar.
Pertemuan ini tidak lagi dihiasi oleh kemegahan seremonial masa lalu, melainkan sebuah negosiasi bisnis yang dingin di mana stabilitas global digadaikan demi kepentingan domestik jangka pendek kedua negara.
Dari perspektif kalkulasi geopolitik, hasil pertemuan ini mencerminkan apa yang dalam Realisme Ofensif disebut sebagai perimbangan kekuatan taktis (tactical balancing). Bagi Beijing, kesepakatan ini adalah kemenangan diplomatik yang memperkokoh posisi RRC sebagai aktor penengah (broker) keamanan vital di Timur Tengah, sekaligus memberi ruang bernapas bagi arsitektur ekonomi domestiknya dari sanksi Barat.
Di balik peredaan ketegangan sementara ini, kalkulasi geopolitik jangka panjang justru menunjukkan eskalasi persaingan yang semakin asimetris. Alih-alih meredakan Perangkap Thucydides, Beijing Accord 2026 ini kemungkinan besar akan mempercepat upaya RRC dalam membangun infrastruktur keuangan dan logistik global yang sepenuhnya independen dari kendali AS.
Beijing diprediksi akan mengintensifkan diversifikasi jalur energi darat melalui Belt and Road Initiative (BRI) di Asia Tengah dan memperluas implementasi Yuan Digital untuk transaksi komoditas global. Langkah ini diambil karena China menyadari bahwa volatilitas kebijakan luar negeri AS yang agresif—seperti yang ditunjukkan dalam kasus Venezuela dan Greenland—merupakan ancaman eksistensial yang konstan terhadap keamanan nasional mereka.
Di sisi lain, lingkaran internal Pentagon dan Gedung Putih melihat hasil pertemuan Beijing sebagai konfirmasi atas kecemasan struktural mereka: bahwa China telah bertransformasi menjadi kekuatan hegemonik yang mampu membatasi kebebasan bertindak (freedom of action) Amerika Serikat di panggung global.




KOMENTAR ANDA