Manusia adalah satu-satunya makhluk yang tahu ia akan mati.
Oleh: Jaya Supra, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
DI masyarakat Jawa, mengucapkan kata “mati” dianggap ora ilok alias tidak senonoh akibat beragam alasan antara lain bicara tentang hidup saja tidak mampu apalagi tentang mati. Bahasa Jawa lazim menggunakan kata cacimaki sebagai pengganti kata mati mulai dari mampus sampai modhar diperparah disfemisme predikat konyol.
Maka judul naskah ini memperhalus kata kematian dengan akhir hayat. Meski sebenarnya maksudnya tetap sama yaitu mati.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang tahu ia akan mati. Kesadaran itu melahirkan ribuan jawaban tentang apa yang terjadi setelahnya.
Masyarakat purba mengubur mayat dengan bekal dan perhiasan. Itu tanda mereka percaya hidup berlanjut. Di Mesir Kuno, kepercayaan ini dibakukan dalam “Book of the Dead”. Jiwa harus melewati pengadilan Osiris. Hati ditimbang dengan bulu Maat. Ringan artinya layak hidup abadi. Kematian bukan akhir, tapi ujian.
Hindu melihat kematian sebagai pintu menuju reinkarnasi. Karma menentukan tubuh selanjutnya. Pembebasan dari siklus ini disebut moksha. Buddhisme sepakat soal roda samsara, tapi fokusnya bukan pada jiwa kekal.
Buddha mengajarkan anatta: tidak ada “aku” yang abadi. Yang ada hanya aliran proses. Berhenti melekat, maka penderitaan dan kematian berulang berhenti. Nirvana adalah padamnya api keinginan.
Zoroaster berbicara tentang Chinvat Bridge: jembatan yang dilintasi jiwa setelah mati, menuju surga atau neraka sesuai perbuatan. Yudaisme awal lebih samar tentang akhirat, lalu berkembang menjadi kepercayaan kebangkitan orang mati setelah kedatangan yang masih dinantika.
Nasrani menegaskan kebangkitan Kristus sebagai jaminan kebangkitan semua manusia di akhir zaman. Islam mengajarkan kematian adalah perpisahan sementara. Setelah hari kiamat, manusia dibangkitkan. Surga dan neraka bersifat kekal.
Di Toraja, kematian bukan ditangisi berlebihan. Upacara Rambu Solo merayakan kepergian orang mati agar arwahnya sampai ke Puya, dunia leluhur. Mayat diperlakukan seperti orang tidur sampai upacara selesai. Di Tibet, Bardo Thödol atau Buku Kematian Tibet menjadi panduan. Kesadaran melewati tiga bardo: saat mati, setelah mati, dan sebelum lahir kembali.
Latihan meditasi semasa hidup menentukan apakah jiwa bisa lepas dari kelahiran ulang. Setiap tanggal 1 dan 2 November, masyarakat Meksiko riang-gembira merayakan Dia de los Muertos alias Festival Kematian.
Artur Schopenhauer melihat kematian sebagai pelepasan dari “kehendak hidup” yang selalu menderita. Kematian adalah istirahat. Sementara Friederich Nietzsche bersikap sebaliknya. Ia tidak takut mati, tapi takut hidup yang tidak dijalani. Ide “kematian Tuhan” membuatnya menyerukan agar manusia menciptakan makna sendiri, bukan menunggu janji akhirat.
Ateisme umumnya menganggap kematian sebagai kepadaman total. Kesadaran berhenti, seperti sebelum kita lahir. Psikologi menyebut death wish bukan selalu keinginan bunuh diri.
Sigmund Freud bicara tentang Thanatos, dorongan menuju kehancuran dan ketenangan. Di baliknya ada kelelahan menghadapi hidup. Tapi keinginan mati sering kali adalah teriakan untuk mengubah hidup, bukan mengakhirinya. Sambil siap dianggap dangkal makna, dengan penuh kerendahan hati saya pribadi memberanikan diri mengambil kesimpulan subyektif dari kontemplasi kematian yaitu “Tiada Kematian, Tanpa Kehidupan”.
Pada hakikatnya dari masa Mesir kuno sampai psikologi kontemporer, manusia terus bertanya. Jawabannya berbeda, tapi tujuannya sama: membuat kita berani hidup sekarang. Karena kematian bukan musuh hidup. Ia adalah syarat mutlaknya yang mustahil dihindari oleh siapa pun yang hidup.




KOMENTAR ANDA