Hujan yang mengguyur Banda Aceh pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, tidak menghalangi puluhan pelaku kreatif dan pegiat budaya berkumpul dalam majelis gagasan “Irama Aceh PUNGO“ di Halaman JEDA Rafly-Kande. Ari J. Palawi, praktisi dan akademisi seni yang menjadi narasumber dalam pertemuan tersebut, memandu jalannya diskusi yang berlangsung cair tanpa panggung besar maupun susunan acara yang kaku.
Fokus utama majelis ini adalah percakapan mendalam mengenai bagaimana Aceh menyiapkan masa depannya melalui pengelolaan pengetahuan dan sumber daya yang tepat.
Ari J. Palawi menggarisbawahi bahwa diskusi ini sengaja dibangun sebagai ruang berpikir kolektif, bukan sekadar seminar formal. Dalam pemaparannya, isu seni berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas, mencakup ruang kreatif, regenerasi budaya, ekonomi, hingga potensi energi Andaman.
Ari menekankan bahwa seni bukan sekadar penampilan untuk acara, melainkan sebuah proses panjang yang melibatkan riset dan pembentukan karakter, sehingga literasi seni menjadi krusial agar masyarakat mampu membaca hubungan antara karya, sejarah, dan perubahan zaman.
Terkait pewarisan nilai, Ari J. Palawi menyoroti bahwa tradisi di Aceh tidak boleh hanya bertahan melalui pementasan, tetapi harus dipahami dan dijalankan oleh generasi penerus. Musisi senior Rafly Kande yang turut hadir memberikan ilustrasi dengan membawakan lagu “Puleh“. Melalui momen tersebut, Ari menunjukkan bahwa seni adalah instrumen penting untuk menyimpan ingatan dan mewariskan pengetahuan yang tidak selalu bisa diajarkan di ruang kelas formal.
Pembicaraan kemudian mengarah pada pentingnya penyediaan ruang kreatif sebagai ekosistem pertumbuhan. Ari dan para partisipan mengenang kembali “Skate Park Stage“ (SPS) sebagai ruang sosial yang efektif bagi anak muda untuk bertemu dan bertukar gagasan. Munculnya gagasan “SPS Revival“ dan upaya seperti “Darud Dunia“ menjadi bukti menurut Ari bahwa ekosistem kreatif tidak mutlak membutuhkan fasilitas besar, melainkan kepercayaan dan ruang kolaborasi yang nyata antarberbagai latar belakang.
Sesi diskusi mencapai titik krusial ketika pembahasan bergeser ke isu strategis, yakni potensi energi gas di kawasan Andaman. Bagi Ari J. Palawi dan peserta, isu energi bukan hanya soal investasi industri, tetapi menyangkut masa depan peradaban Aceh. Mereka merefleksikan sejarah industri Arun sebagai pelajaran penting agar pengelolaan kekayaan alam di masa depan harus dibarengi dengan tata kelola yang kuat dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat luas.
Potensi Andaman dipandang oleh Ari sebagai tanggung jawab besar bagi Aceh untuk memperkuat kapasitas manusia, pendidikan, dan kebudayaan. Ari menegaskan bahwa Aceh tidak perlu memilih antara pengembangan energi atau pelestarian budaya. Keduanya harus berjalan beriringan, di mana energi menjadi fondasi ekonomi, sementara seni dan ilmu pengetahuan menjadi penjaga arah pembangunan agar tetap sejalan dengan nilai-nilai daerah.
Sebagai hasil dari percakapan panjang tersebut, Ari J. Palawi merangkum “Manifesto Arah Irama Aceh PUNGO“ yang mengedepankan tiga prinsip utama: artistik, edukatif, dan bernilai ekonomi tinggi. Prinsip ini menekankan bahwa kesejahteraan tidak hanya datang dari pembagian hasil alam, tetapi dari kemampuan masyarakat dalam menciptakan nilai tambah melalui kreativitas yang berkualitas, jujur, dan berani.
Meskipun Irama Aceh PUNGO tidak berujung pada pembentukan organisasi formal, Ari menilai forum ini berhasil menciptakan ruang berpikir kolektif yang sangat dibutuhkan di tengah perubahan zaman. Semangat kebersamaan yang muncul malam itu menjadi pemantik bagi para penggerak budaya untuk lebih berani mengambil peran dalam menentukan arah pembangunan daerah secara strategis.
Ari J. Palawi menegaskan bahwa masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh apa yang tersimpan di bawah tanah dan lautnya, melainkan oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Kemampuan masyarakat dalam membaca peluang serta menjaga amanah sumber daya alam akan menjadi penentu utama keberlanjutan masa depan Aceh di masa yang akan datang.
Diskusi ditutup dengan filosofi mendalam yang diamini oleh Ari, “Geut tapubuet geut beunalah, nyang geut takubah keu aneuk cuco.“ Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa segala hal baik yang dikerjakan hari ini dengan hasil yang baik pula, merupakan warisan berharga yang harus diberikan kepada anak cucu sebagai fondasi peradaban Aceh yang lebih kuat dan bermartabat.




KOMENTAR ANDA