post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Melayu kemudian menjadi bahasa penghubung. Pedagang memakainya dalam transaksi, ulama menggunakannya untuk menyampaikan ajaran, dan kalangan pergerakan menjadikannya bahasa pers dan organisasi. Ia diterima luas bukan karena dipaksakan oleh kekuasaan, tetapi karena hidup dalam perjumpaan sehari-hari masyarakat.

Ketika para pemuda berkumpul dalam Kongres Pemuda II pada 1928, mereka membutuhkan bahasa yang dapat diterima semua golongan. Pilihannya jatuh pada bahasa Indonesia yang berakar pada bahasa Melayu. Mereka tidak memilih bahasa dari suku dengan jumlah penduduk terbesar. Keputusan itu mencegah bahasa persatuan menjadi lambang dominasi satu kelompok terhadap kelompok lain.

Pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia dijunjung sebagai bahasa persatuan. Setelah kemerdekaan, Pasal 36 UUD 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945 menetapkannya sebagai bahasa negara.

Dari tepian Sungai Musi, jalur perdagangan Selat Malaka, pusat-pusat keilmuan, dan kesultanan Melayu, tumbuh bahasa yang kini memungkinkan masyarakat Aceh, Jawa, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua berbicara sebagai satu bangsa. Indonesia dipersatukan bukan oleh bahasa yang dipaksakan, melainkan oleh bahasa yang disepakati.

Kisah Aceh dan Sumatera menegaskan bahwa Republik tidak dibangun oleh satu pulau atau satu pusat kekuasaan. Indonesia lahir dari kerelaan banyak daerah untuk menyatukan wilayah, kekayaan, tenaga, dan masa depannya.

Pelajaran itu masih relevan. Daerah tidak selayaknya hanya dipandang sebagai pemasok sumber daya atau penerima anggaran dari pusat. Daerah merupakan pemilik Republik. Hubungan pusat dan daerah harus diletakkan di atas penghormatan terhadap jasa sejarah, keadilan pembangunan, dan kesetaraan dalam kehidupan bernegara.

Aceh dan Sumatera datang menolong ketika Republik berada dalam keadaan paling rapuh. Aceh memberikan modal ketika kas negara terbatas. Sumatera menjaga pemerintahan ketika para pemimpin nasional ditawan. Para sultan menyerahkan kekuasaan, rakyat menyerahkan harta, ulama dan pemuda mempertaruhkan nyawa, sedangkan peradaban Melayu menyumbangkan bahasa persatuan.

Mengenang semua itu bukan sikap kedaerahan. Justru dari sanalah tumbuh kesadaran bahwa Indonesia terlalu besar untuk dikisahkan hanya dari satu tempat.

Ketika Republik hampir kehilangan napas, Aceh dan Sumatera membantu membuatnya tetap hidup. Ketika Belanda mengatakan Indonesia telah berakhir, dari pedalaman Sumatera muncul pemerintahan yang membantahnya. Dari Radio Rimba Raya terdengar suara yang menembus blokade: Republik masih berdiri.

Dan sejarah membuktikan, suara itu benar.


IMF Akui Jatuhkan Pak Harto

Sebelumnya

HUT ke-81 RI di KBRI Beijing, Dari Doa untuk NTT hingga Peluncuran Buku Hubungan Bilateral

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional