post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

SELAMAT datang di museum karya-karya hebat yang nyaris tidak pernah kamu kenal. Bukan karena jelek. Tapi karena ditolak. 12 kali. 20 kali. 37 kali. Inilah tragedi paling jenaka di dunia: karya jenius kalah sama “selera pasar”.

BABAK 1: PENOLAKAN YANG JADI LEGENDA

The Beatles datang ke Decca Records tahun 1962. Jawaban HRD musik:
“Grup gitar sudah tidak laku. Kalian tidak punya masa depan di bisnis pertunjukan.” Untung mereka ngeyel. Kalau nurut, sekarang kita tidak punya “Yesterday” dan “Let It Be”

J.K. Rowling ngetik Harry Potter di kafe sambil gendong anak. 12 penerbit bilang: “Buku anak-anak penyihir? Kepanjangan. Gak akan laku.” Penerbit ke-13 akhirnya ambil. Sekarang dia bisa beli penerbit itu kalau mau.
Ludwig Wittgenstein, filsuf yang mengubah logika abad 20, naskah Tractatus Logico-Philosophicus ditolak berkali-kali.

Alasannya: “Terlalu sulit. Siapa yang mau baca?” Padahal 50 tahun kemudian mahasiswa filosofi nangis baca itu buat skripsi.

BABAK 2: LOGIKA OTORITA

Kenapa ditolak? Karena redaksi dan penerbit punya 3 mantra sakti:

  1. “Belum ada yang kayak gini” = Artinya: berisiko. Tolak.
  2. “Ini beda dari yang laku kemarin” = Artinya: jangan ganggu rumus. Tolak.
  3. “Penulisnya siapa? Gak terkenal” = Artinya: kami jual nama, bukan karya. Tolak.

Perekam musik mau penyanyi yang mirip yang sedang trending. Penyelenggara pameran mau lukisan yang “aman buat dibeli kolektor”. Redaksi mau artikel yang "viral 3 hari, lupa 4 hari". Hasilnya? Laci penuh. Sampah? Belum tentu. Bisa jadi itu Mona Lisa versi tulisan atau musik.

BABAK 3: TRAGISNYA

Yang paling tragis bukan penolakan. Tapi diamnya karya itu.

  • Ada berapa Van Gogh yang mati miskin karena galeri bilang “warnanya norak”?
  • Ada berapa puisi Chairil yang hampir dibuang karena “bahasanya tidak sopan”?
  • Berapa skripsi brilian yang jadi bungkus gorengan karena dosen bilang “temanya tidak ilmiah”?

Pada hakikatnya eedaksi dan penerbit bukan penjahat. Mereka cuma manusia yang takut rugi. Tapi ketika “takut rugi” jadi kurator utama peradaban, maka yang menang bukan yang terbaik. Yang menang yang paling mirip kemarin agar bisa dijual.

HIBURAN SEBAGAI PENUTUP

Untuk kamu yang naskahnya ditolak: selamat. Kamu satu klub sama The Beatles dan Harry Potter serta Van Gogh. Untuk redaksi dan penerbit: terima kasih. Tanpa kalian, cerita “hampir gagal” ini tidak akan se-dramatis ini.

Dunia tidak kekurangan jenius.
Dunia cuma kekurangan orang yang berani buka laci.
Karya Besar perlu didukung satu orang yang berani ambil risiko gagal.

 


Para Piramida China

Sebelumnya

Kelirumologi Beri

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Jaya Suprana