Oleh: Joko Intarto, Wartawan Senior
SEPERTINYA saya harus segera kembali berkunjung ke Kampung Arab Pekojan, Jakarta Barat. Ada satu informasi penting yang perlu saya verifikasi: Jamiat Kheir, yang sering disebut sebagai salah satu organisasi Islam modern pertama di Indonesia, ternyata berawal dari kawasan ini.
Menurut catatan sejarah, Jamiat Kheir mulai dirintis pada 1901 oleh sejumlah tokoh keturunan Arab dari Hadramaut, Yaman, yang bermukim di Batavia. Pada masa itu, komunitas Arab banyak terkonsentrasi di kawasan Pekojan.
Jamiat Kheir pada awalnya merupakan perkumpulan sosial. Gagasannya kemudian berkembang ke bidang pendidikan Islam dengan sistem yang lebih modern. Kehadirannya menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Selama ini saya mengenal Jamiat Kheir sebagai lembaga pendidikan yang berpusat di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ternyata perjalanan panjang organisasi ini bermula jauh dari sana—di Kampung Arab Pekojan.
Sejumlah sumber sejarah menyebut Masjid Ar-Raudhah di Jalan Pekojan II sebagai tempat berkumpulnya para tokoh yang merintis Jamiat Kheir. Di kawasan inilah gagasan pembentukan perkumpulan tersebut berkembang pada awal abad ke-20.
Sedangkan sekretariat awal Jamiat Kheir disebut berada di kawasan Jalan Masjid Pekojan, yang pada masa Batavia dikenal pula sebagai Jalan Kostapel.
Apakah bangunan yang dahulu digunakan Jamiat Kheir itu masih ada? Atau sudah berubah sehingga tidak lagi mudah dikenali? Inilah salah satu alasan saya ingin kembali menyusuri Pekojan.
Pada 15 Agustus 1903, pengurus Jamiat Kheir mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk memperoleh pengakuan resmi. Permohonan tersebut tidak langsung dikabulkan.
Baru pada 17 Juni 1905, Jamiat Kheir memperoleh pengesahan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pengesahan itu disertai sejumlah pembatasan, antara lain larangan mendirikan cabang di luar Batavia.
Setelah memperoleh pengakuan, Jamiat Kheir mengembangkan kegiatan pendidikan di Pekojan. Sekolahnya menggunakan sistem yang berbeda dari pendidikan Islam tradisional pada masa itu. Proses belajar berlangsung dalam kelas, menggunakan bangku dan papan tulis, dengan materi yang memadukan pelajaran agama dan pengetahuan umum.
Model pendidikan semacam itu merupakan sesuatu yang relatif baru. Pendidikan Islam tidak lagi hanya berlangsung dalam pola pengajian tradisional, tetapi mulai menggunakan sistem sekolah yang lebih terstruktur.
Perkembangan jumlah murid akhirnya membuat fasilitas di Pekojan tidak lagi memadai. Jamiat Kheir kemudian mencari lokasi yang lebih luas.
Organisasi ini sempat menempati lokasi di Jalan Karet, Tanah Abang. Namun, lokasi tersebut kemudian direncanakan pemerintah Belanda untuk digunakan sebagai rumah sakit. Pengurus Jamiat Kheir pun kembali mencari tanah untuk membangun pusat pendidikan yang lebih representatif.
Pada 1923, atas prakarsa Sayyid Abubakar bin Muhammad Al-Habsyi, Jamiat Kheir membeli sebidang tanah seluas sekitar 3.000 meter persegi. Di atas tanah tersebut kemudian dibangun kompleks pendidikan yang selanjutnya menjadi pusat kegiatan Jamiat Kheir hingga sekarang.
Perpindahan dari Pekojan ke Tanah Abang bukan berarti kiprah Jamiat Kheir berhenti. Justru dari kawasan baru itulah kegiatan pendidikan dan sosialnya semakin berkembang.
Jamiat Kheir kemudian mengembangkan sekolah untuk putra di kawasan Jalan Karet dan sekolah untuk putri di kawasan Kebon Melati. Organisasi ini juga mengembangkan kegiatan sosial, termasuk Panti Bimbingan Piatu Daarul Aitam.
Dalam perjalanan selanjutnya, Jamiat Kheir memainkan peranan penting dalam pembaruan pemikiran dan pendidikan Islam. Organisasi ini mendatangkan guru-guru dari Timur Tengah, termasuk Syekh Ahmad Surkati dari Sudan. Kehadiran para guru tersebut ikut memperkaya wawasan keislaman dan pendidikan di Batavia.
Dari lingkungan Jamiat Kheir pula muncul jaringan tokoh dan gagasan yang kemudian memberi pengaruh luas terhadap perkembangan gerakan Islam di Indonesia. Sejumlah tokoh pergerakan, termasuk KH Ahmad Dahlan dan HOS Tjokroaminoto, tercatat pernah memiliki hubungan dengan lingkungan Jamiat Kheir.
Pada 1919, perjalanan Jamiat Kheir memasuki babak baru. Lembaga pendidikan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk yayasan melalui akta notaris. Sejak periode ini, kegiatan Jamiat Kheir semakin terarah pada bidang pendidikan.
Lebih dari satu abad kemudian, jejak perjalanan itu masih dapat ditemukan. Jamiat Kheir tetap menjalankan kegiatan pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah hingga pendidikan tinggi melalui Institut Agama Islam Jamiat Kheir.
Perjalanan Jamiat Kheir ternyata begitu panjang.
Yang menarik, gagasan pendidikan Islam modern yang kemudian berkembang begitu luas itu ternyata berawal dari sebuah gang kecil di Pekojan.



KOMENTAR ANDA