post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Pers Independen Butuh Perusahaan yang Sehat

Mungkin kita perlu melihat persoalan ini dari arah yang berbeda. Selama ini, ketika membicarakan kebebasan pers, kita sering berbicara tentang keberanian wartawan. Tentu itu penting. Tetapi ada pertanyaan yang tidak kalah penting: Apakah perusahaan medianya cukup sehat untuk membiarkan wartawannya berani?

Media yang sehat secara finansial memiliki ruang yang lebih besar untuk mengatakan "tidak" kepada penguasa, pengiklan, pemilik modal, dan siapa pun yang mencoba memengaruhi pemberitaan. Sebaliknya, media yang berada di ambang kebangkrutan akan lebih mudah tergoda untuk melakukan kompromi.

Karena itu, ekonomi media sebenarnya bukan sekadar persoalan bisnis. Ia adalah persoalan demokrasi. Jika perusahaan media mati, wartawan kehilangan pekerjaan. Jika newsroom mengecil, liputan investigasi berkurang.

Jika liputan lapangan berkurang, ruang publik semakin bergantung pada media sosial, influencer, buzzer, dan algoritma platform. Dan ketika itu terjadi, masyarakat bisa kehilangan salah satu alat penting untuk mengawasi kekuasaan.

Jadi, siapa sebenarnya yang ditakuti media? Mungkin jawabannya bukan hanya penguasa. Ada yang takut kepada pemilik modal. Ada yang takut kehilangan pengiklan. Ada yang takut kehilangan traffic. Ada yang takut kepada algoritma. Dan ada pula yang takut kepada kenyataan sederhana bahwa perusahaan mereka bisa bangkrut.

Maka pertanyaan yang lebih menarik bukanlah: "Mengapa media tidak membesar-besarkan demonstrasi?"

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: "Seberapa bebas sebuah media jika keberlangsungan ekonominya bergantung kepada pihak-pihak yang juga menjadi objek pemberitaannya?"

Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Tetapi justru pertanyaan semacam itulah yang perlu terus kita ajukan. Sebab ancaman terhadap kebebasan pers tidak selalu datang dengan wajah seorang pejabat yang menelepon redaksi.

Kadang-kadang ia datang dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Sebuah laporan keuangan. Angka pendapatan iklan. Kontrak yang tidak diperpanjang. Traffic yang turun. Atau rapat redaksi yang diakhiri dengan kalimat: "Sudahlah, jangan terlalu keras. Kita juga harus memikirkan bisnis."

Di situlah kebebasan pers menghadapi ujian yang sesungguhnya. Bukan hanya berani melawan kekuasaan, tetapi juga berani menolak ketika kepentingan bisnis mulai menentukan apa yang boleh dan tidak boleh diketahui publik.


Gagal ke Pekojan, Sukses di Gula

Sebelumnya

FWK Kecam Pemblokiran Rekening Aktivis: Negara Jangan Jadikan Bank Alat Represif

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional