Pelajaran paling esensial dari Hiro adalah bahwa dominasi tunggal telah berakhir, namun tatanan penggantinya belum sepenuhnya terkonsolidasi secara permanen, menyisakan masa transisi yang sarat turbulensi sekaligus menjanjikan begitu banyak peluang.
Dr. Teguh Santosa juga telah menulis sejumlah buku, yakni “Di Tepi Amudarya” (2018), “Perdamaian yang Buruk, Perang yang Baik” (2020), “Buldozer dari Palestina” (2023), “Di Tepi Sungai Efrat” (2025), dan “Reunifikasi Korea: Game Theory” (2025).



KOMENTAR ANDA