Oleh: Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute dan Dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta
MEMBACA lembar demi lembar berita dalam setidaknya dua dekade terakhir, maka kita tak dapat membantah bahwa di era multipolar ini dunia seperti selembar kertas yang ringkih. Lanskap geopolitik global abad ke-21 tengah berada di titik balik sejarah yang paling menentukan sejak berakhirnya Perang Dingin.
Narasi mengenai “akhir sejarah” dan dominasi unipolar Amerika Serikat yang sempat dielukan pada dekade 1990an kini terbukti rapuh di hadapan realitas persebaran kekuasaan dunia yang kian terfragmentasi dan terdisrupsi.
Dalam konteks pergeseran kekuasaan politik global inilah buku karya jurnalis dan sejarawan terkemuka Dilip Hiro, “After Empire: The Birth of a Multipolar World” (2010), menemukan kembali relevansi analitisnya yang sangat tajam. Hiro tidak sekadar mencatat peristiwa kontemporer, melainkan membongkar fondasi rapuhnya hegemoni tunggal Barat dan menarasikan fajar tata dunia multipolar secara komprehensif.
Menurut saya karya Hiro ini memberikan peta navigasi empiris yang berharga untuk membaca dinamika rivalitas antar-kekuatan besar hari ini. Hiro menyodorkan argumen inti bahwa hegemoni absolut Washington pasca-runtuhnya Uni Soviet telah memasuki fase kemunduran struktural (imperial overstretch).
Invasi militer AS ke Afghanistan dan Irak pada awal abad ke-21, ditambah krisis finansial global 2008, diposisikan Hiro sebagai katalisator utama yang mempercepat terkikisnya otoritas moral, ekonomi, dan militer sang imperium. Ambisi Washington untuk memproyeksikan tatanan internasional berbasis Pax Americana justru melahirkan ruang kosong kekuasaan di berbagai kawasan strategis.
Hiro dengan cermat memetakan bagaimana ruang kosong tersebut dengan cepat diisi oleh kekuatan-kekuatan baru yang bangkit, terutama kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan). Hiro menunjukkan bahwa kebangkitan negara-negara ini bukan semata fenomena pertumbuhan PDB, melainkan kebangkitan kesadaran geopolitik dan geoekonomi untuk merumuskan tatanan dunia yang lebih adil dan terdesentralisasi.
Salah satu kontribusi analitis terkuat Hiro terletak pada pembacaannya terhadap sentralitas energi dan geoekonomi Eurasia. Ia menggarisbawahi poros Moskow-Beijing-Teheran serta rekonfigurasi pasar minyak dan gas global sebagai antitesis langsung terhadap sistem moneter petrodolar yang selama puluhan tahun menopang hegemoni AS.
Kendati demikian, untuk menempatkan tesis Hiro ke dalam diskursus teori hubungan internasional kontemporer yang lebih mendalam, kajian ini mutlak perlu dikonfrontasikan dengan dua raksasa pemikir realis AS: John Mearsheimer dan Graham Allison. Keduanya menawarkan pisau bedah teoritis yang menguji sejauh mana optimisme multipolaritas Hiro dapat bertahan dari risiko konflik terbuka.
John Mearsheimer, melalui karya monumentalnya “The Tragedy of Great Power Politics” (2001), memandang transisi kekuasaan dari sudut pandang offensive realism. Bagi Mearsheimer, anarki sistem internasional memaksa setiap negara besar untuk terus memaksimalkan pangsa kekuasaan mereka hingga mencapai hegemoni regional guna menjamin kelangsungan hidupnya.
Ketika Hiro melihat kebangkitan multipolaritas sebagai proses evolusi alami yang membuka ruang negosiasi plurilateral, Mearsheimer justru memperingatkan bahwa dunia multipolar justru jauh lebih tidak stabil dan rentan perang dibandingkan sistem bipolar atau unipolar. Dalam kacamata realisme ofensif Mearsheimer, kebangkitan Tiongkok dan Rusia tidak akan bermuara pada koeksistensi damai, melainkan benturan keras antara hegemoni petahana dan penantang regional.
Perbedaan mendasar antara Hiro dan Mearsheimer terletak pada variabel determinan: Hiro sangat menekankan faktor ekonomi-politik empiris, diplomasi sumber daya, dan pergeseran perdagangan multilateral, sementara Mearsheimer berfokus murni pada kalkulasi struktur militer, geografi pertahanan, dan dinamika kekuatan material yang zero-sum.
Mearsheimer secara skeptis menilai bahwa institusi multilateral dan blok kerja sama non-Barat yang dielu-elukan Hiro tidak akan mampu meredam dorongan struktural negara-negara besar untuk saling menjegal demi mendominasi kawasan masing-masing.
Di sisi lain, perbandingan dengan tesis Graham Allison dalam “Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap?” (2017) memperkaya spektrum analisis buku Hiro dari dimensi sejarah makro. Allison memformulasikan konsep Perangkap Thucydides untuk menggambarkan kecenderungan struktural terjadinya perang ketika kekuatan yang sedang bangkit (rising power) mengancam posisi kekuatan mapan (ruling power).
Bila Hiro dalam After Empire membedah mekanisme bagaimana dunia pasca-imperium beroperasi melalui jejaring aliansi baru dan instrumen diplomatik alternatif, Allison berfokus pada dinamika psikologis ketakutan dan ambisi yang mendorong dua raksasa terjebak dalam eskalasi militer yang destruktif, layaknya ruling power Sparta melawan rising power Athena.
Tesis Allison memberikan catatan kritis terhadap Hiro: bahwa transisi menuju dunia multipolar tidak akan berlangsung secara mulus tanpa benturan hegemoni yang berisiko katastropik. Allison mengingatkan bahwa sepanjang 500 tahun sejarah dunia, mayoritas pergeseran kekuasaan hegemoni berakhir dengan perang skala penuh, kecuali ada penyesuaian strategis luar biasa dari kedua belah pihak.
Namun, Hiro memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Allison maupun Mearsheimer, yakni ketajaman perspektif non-Barat. Dia secara sengaja memilih untuk menggunakan perspektif Global South. Sementara Mearsheimer dan Allison tetap terkungkung dalam cara pandang Washington-sentris yang melihat stabilitas dunia melulu dari lensa rivalitas AS-Tiongkok, Hiro membuka tabir bahwa dunia pasca-imperium jauh lebih plural daripada sekadar duel dua kutub.
Hiro menunjukkan bahwa dunia multipolar bukan hanya tentang Beijing atau Moskow, melainkan tentang New Delhi, Brasília, Ankara, Jakarta, hingga Riyadh yang menuntut agensi otonom dalam menentukan arsitektur keamanan dan ekonominya sendiri tanpa harus tunduk pada tekanan blok mana pun.
Sintesis antara Hiro, Mearsheimer, dan Allison menghasilkan kesimpulan geopolitik yang sangat berharga. Dari Hiro kita belajar mengenai diversifikasi lanskap ekonomi-politik dan keniscayaan desentralisasi kekuasaan global.
Dari Mearsheimer kita memetik kewaspadaan teoritis bahwa anarki sistemik tetap membayangi dan persaingan keamanan antar-kekuatan besar akan semakin brutal di perbatasan-perbatasan maritim maupun daratan Eurasia.
Sementara dari Allison, kita memperoleh peringatan historis mengenai urgensi tata kelola diplomasi tingkat tinggi guna mencegah perangkap jebakan hegemoni yang dapat menghancurkan peradaban modern.
Bagi negara-negara berkembang dan kekuatan menengah (middle powers) seperti Indonesia, pembacaan atas buku Dilip Hiro ini menegaskan kembali relevansi doktrin politik luar negeri yang independen, aktif, dan non-blok.
Dalam dunia multipolar yang diprediksi Hiro, Indonesia tidak boleh terjebak menjadi proksi atau pion dalam skenario Thucydides’s Trap versi Allison maupun bidak dalam kalkulasi offensive realism ala Mearsheimer.
Dunia “After Empire” menuntut arsitektur diplomasi yang tangkas (strategic hedging), di mana Indonesia mampu memaksimalkan kerja sama ekonomi lintas-kutub sekaligus menjaga integritas kedaulatan dan netralitas kawasan Indo-Pasifik.



KOMENTAR ANDA