Permohonan langsung Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kepada para senator Amerika Serikat berhasil memecahkan kebuntuan legislatif dan meloloskan rancangan undang-undang sanksi besar-besaran terhadap Rusia di Senat AS. Kehadiran Zelenskyy di Capitol Hill hanya beberapa jam setelah menghadiri upacara pemakaman mendiang Senator Lindsey Graham menjadi momentum emosional yang menggerakkan dukungan kuat dari parlemen.
Dalam pertemuan tertutup yang dihadiri oleh separuh anggota Senat AS, para senator menunjukkan perhatian penuh dengan menaruh ponsel mereka untuk mendengarkan langsung paparan pemimpin Ukraina tersebut. Zelenskyy menjelaskan situasi medan tempur terkini, perlawanan pasukannya menahan invasi Rusia, serta urgensi bantuan rudal pencegat Patriot, lisensi militer, akses internet Starlink, dan pengesahan paket sanksi baru.
Zelenskyy menegaskan kepada para senator bahwa pengesahan rancangan undang-undang tersebut bukan sekadar urusan regulasi ekonomi, melainkan dorongan moral yang sangat dibutuhkan oleh tentara di garis depan maupun rakyat sipil Ukraina. Senator Partai Demokrat Jeanne Shaheen mengonfirmasi bahwa pesan kuat tersebut menyatukan pandangan para legislator tentang perlunya tindakan nyata dari Kongres.
Paket regulasi bertajuk Lindsey O. Graham Sanctioning Russia Act ini dirancang langsung oleh mendiang Senator Graham sebelum wafat sebagai upaya paling ambisius dari Kongres untuk menekan Rusia sejak Donald Trump kembali menjabat di Gedung Putih. RUU tersebut akhirnya disahkan di Senat dengan suara telak 86 mendukung berbanding 11 menolak, sebelum kemudian dikirim ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Inti dari legislasi ini bertujuan memutus aliran pendapatan minyak dan gas Moskow yang mendanai mesin perangnya dengan menekan negara pembeli utama seperti Tiongkok dan India. RUU tersebut memberikan kewenangan kepada presiden untuk memberlakukan tarif masuk impor hingga 100 persen terhadap barang dari negara-negara yang masih membeli energi Rusia atau membantu menghindari sanksi internasional.
Meski berhasil melewati Senat dengan dukungan lintas partai yang solid, masa depan RUU ini di DPR AS menghadapi jalan terjal dan ketidakpastian tinggi. Ketua DPR Mike Johnson memimpin mayoritas Partai Republik yang cenderung enggan memperdalam keterlibatan langsung dalam urusan luar negeri dan bantuan finansial internasional.
Di sisi lain, sejumlah anggota senior Partai Demokrat di DPR juga menyuarakan penolakan terhadap draf regulasi tersebut. Tokoh seperti Rep. Gregory Meeks dan Rep. Richard Neal mengkhawatirkan klausul tarif yang dinilai memberikan kekuasaan terlalu luas dan tanpa pengawasan kepada Presiden Donald Trump, yang berisiko memicu perang dagang dan merugikan perekonomian konsumen domestik AS.
Bagi Zelenskyy, dinamika di Washington ini menandai rangkaian panjang diplomasi yang penuh tantangan sejak masa-masa awal invasi pada 2022. Hubungan diplomatik sempat mendingin dan bantuan legislatif sempat mandek selama berbulan-bulan di tengah pergeseran politik Washington, termasuk kritik keras dari Trump dalam sejumlah pertemuan sebelumnya.
Namun demikian, para sekutu Ukraina di Kongres berpandangan bahwa pengesahan RUU ini akan menjadi sinyal geopolitik yang sangat krusial. Pesan simbolis tersebut dinilai penting untuk membuktikan kepada Moskow bahwa aliansi internasional tetap berdiri teguh di belakang kedaulatan Ukraina meskipun menghadapi berbagai dinamika politik domestik.
Kini, seluruh perhatian tertuju pada keputusan pimpinan DPR AS saat para wakil rakyat kembali bersidang. Apakah legislasi peninggalan Lindsey Graham ini akan disahkan menjadi undang-undang atau tertahan di meja DPR akan menjadi penentu arah kebijakan luar negeri dan tekanan ekonomi AS terhadap Rusia ke depan.



KOMENTAR ANDA