post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

MENURUT pendapat subyektif saya: Titus Andronicus adalah mahakarya paling ”horror” Shakespeare. Ternyata saya tidak sendirian.

Titus Andronicus memang anak bermasalah Shakespeare. Saat lahir 1594, ia disambut sebagai drama balas dendam yang paling kejam. 400 tahun kemudian, ia dipentaskan sebagai lelucon. Bagaimana satu naskah bisa jalan sejauh itu? Karena Titus bukan tentang darah. Ia tentang bagaimana kita menanggapi darah.

Babak 1: Horror. “Lihatlah Kebrutalan!”

Di era Elizabethan, Titus laku karena gore. 14 kematian, 1 pemerkosaan, 1 pemotongan lidah, 1 pie daging manusia. Penonton datang buat shock.

Versi film Julie Taymor 1999 dengan Anthony Hopkins melanjutkan tradisi ini. Taymor mencampur Romawi kuno dengan tank dan Harley. Pesannya jelas: kekerasan tidak pernah kuno. Ia selalu modern. Kita menonton dengan tutup mata separuh. Horror di sini berfungsi sebagai cermin. Kita jijik, karena kita tahu ini bisa terjadi.

Panggung RSC 1987 sutradara Deborah Warner juga mengerikan, tapi caranya beda. Tidak ada darah muncrat. Yang ada keheningan Brian Cox sebagai Titus yang trauma perang. Horror-nya psikologis. Kita takut bukan pada mayat, tapi pada manusia yang berubah jadi mesin balas dendam.

Babak 2: Tragedi. “Inilah Politik”

Tahun 1980an, sutradara mulai capek dengan horror. Mereka bertanya: kenapa Titus ditulis? Jawabannya: siklus kekerasan. Titus mengorbankan tawanan, maka ia dikorbankan. Tamora membalas, Titus membalas lagi. Tidak ada pemenang.

Di titik ini Titus naik kelas. Dari “splatter” jadi tragedi politik. Aaron si Moor bukan sekedar penjahat hitam. Ia produk rasisme Romawi. Lavinia bukan sekedar korban. Ia simbol bisu dari negara yang tidak mendengar perempuan. Darah mulai punya makna.

Babak 3: Komedi. “Ini Terlalu Gila Untuk Dianggap Serius”

Dan di sinilah belokan transformasi paling radikal. Ketika kekerasan sudah berlebihan, satu-satunya cara waras menanggapinya adalah dengan indera humor.

Reduced Shakespeare Company membawakannya dalam 90 menit dengan 3 orang. Kepala dipenggal pakai suara “poof”. Pie manusia disajikan seperti MasterChef. Penonton tertawa karena naskahnya memang absurd.

Propeller 2011 lebih tajam. Mereka mainkan semua aktor laki-laki. Adegan paling brutal dibikin seperti pantomim. Kita ketawa, lalu langsung merasa bersalah karena tertawa. Itu tujuannya. Humor di Titus bukan untuk meringankan. Humor dipakai sebagai senjata kritik. Kalau balas dendam sudah jadi akrobat, maka mari kita jadikan sirkus sekalian.

Finale

Sebenarnya Titus Andronicus bukan karya terburuk Shakespeare. Ia karya paling jujur tentang eksperimen teater mirip “Menunggu Godot”. Mulai sebagai horror untuk mengagetkan, naik jadi tragedi untuk berpikir, lalu melenceng jadi komedi untuk bertahan waras.

Shakespeare sendiri mungkin saja malu dengan naskah dari masa mudanya itu. Tapi justru karena memalukan itulah Titus abadi. Ia memaksa setiap generasi bertanya: saat melihat kebrutalan, kita akan bereaksi bagaimana?

Menutup mata, menganalisis, atau menertawakannya? Jawabannya, ternyata, bisa ketiganya.


Brunelleschi Versus Ghiberti

Sebelumnya

Kenapa Siput Ngesot Begitu Lambat

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana