Keenam, rumuskan sistem _checks and balances_ yang sehat. Relasi antara Rais 'Aam, Ketua Umum, Syuriyah, Tanfidziyah, PWNU, PCNU, dan forum Muktamar harus memiliki keseimbangan kewenangan yang jelas. Jangan sampai krisis kepemimpinan muncul karena sistem memberikan ruang terlalu besar kepada satu pusat kekuasaan. Pada penyelenggara Muktamar, jangan takut mengubah sistem
Muktamar yang bermartabat bukan Muktamar yang hanya menghasilkan pemimpin baru. Muktamar yang berwibawa adalah Muktamar yang mampu melahirkan sistem baru yang lebih sehat. Jangan hanya bertanya: “Siapa yang akan menjadi Ketua Umum PBNU?” Tetapi bertanyalah: “Sistem seperti apa yang akan kita wariskan kepada NU lima, sepuluh, bahkan lima puluh tahun mendatang?” Karena seorang Ketua Umum akan berganti. Rais 'Aam akan berganti. Pengurus akan berganti.
Tetapi sistem akan menentukan wajah NU lintas generasi. Pesan untuk para Muktamirin yang datang berbondong ke Muktamar. Meninggalkan keluarga dengan menenteng tanggung jawab di pundak. Anda datang ke Tambakberas bukan sebagai penonton. Anda datang membawa mandat. Anda datang membawa suara Cabang dan Wilayah. Anda datang membawa harapan jutaan Nahdliyin.
Maka jangan pulang hanya dengan membawa cerita tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Pulanglah dengan membawa keyakinan bahwa Muktamar telah memperbaiki NU. Jangan biarkan kedaulatan Muktamirin terbegal oleh prosedur yang justru dibuat oleh organisasi untuk melayani kepentingan bersama. Jangan biarkan tradisi menjadi alasan untuk menutup pintu reformasi. Jangan biarkan jargon persatuan menjadi alasan untuk mematikan perbedaan.
Persatuan bukan keseragaman. Ketaatan bukan pembungkaman. Adab bukan ketakutan. Tradisi bukan anti-perubahan. Dan demokrasi bukan sekadar memilih, tetapi memastikan bahwa suara yang diberi mandat benar-benar memiliki arti. Pada akhirnya, NU tidak membutuhkan demokrasi yang hanya tampak demokratis. NU menagih demokrasi yang berkeadaban, berkeulamaan, berkeadilan, transparan, dan benar-benar menghadirkan kemaslahatan.
Kalau kita sungguh-sungguh ingin NU menjadi organisasi modern, maka keberanian pertama yang harus kita bangun adalah keberanian untuk mengoreksi diri sendiri. Sebab NU yang besar bukan NU yang tidak pernah salah. NU yang besar adalah NU yang berani mengakui kekurangan, mendengar kritik, memperbaiki sistem, dan memberikan ruang kepada generasi berikutnya untuk tumbuh.
Maka kepada seluruh Muktamirin, izinkan menitip satu pertanyaan sederhana: Apakah kita datang ke Muktamar hanya untuk memilih pemimpin, atau datang untuk memastikan bahwa kedaulatan organisasi benar-benar berada di tangan mereka yang diberi mandat? Jika jawabannya yang kedua, maka Muktamar Tambakberas harus menjadi titik balik. Bukan sekadar pergantian kepemimpinan. Tetapi pembaruan demokrasi NU.
Bukan sekadar memilih siapa yang memimpin.Tetapi memastikan bagaimana NU dipimpin. Dan bukan sekadar mempertahankan kebesaran masa lalu. Tetapi menyiapkan NU yang lebih modern, demokratis, berwibawa, dan relevan untuk masa depan. Karena NU adalah milik bersama, maka masa depan NU tidak boleh ditentukan tanpa mendengar suara mereka yang diberi mandat untuk menentukan masa depan NU. Bukankah begitu, para Muktamirin?



KOMENTAR ANDA