post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi merilis Berita Resmi Statistik (BRS) pada 1 September 2026 yang menyajikan potret komprehensif mengenai kondisi perekonomian dan indikator sosial-ekonomi strategis Indonesia.

Laporan mutakhir ini mencakup perkembangan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2026, dinamika Nilai Tukar Petani (NTP) dan harga beras, performa ekspor-impor serta neraca perdagangan per Juli 2026, estimasi panen pangan pokok (padi dan jagung), mobilitas pariwisata dan transportasi, hingga laju Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) serta Indeks Harga Perdagangan Internasional (IHPI).

Rilis indikator pada periode Agustus 2026 dipengaruhi oleh sejumlah peristiwa krusial. Terjadi peningkatan permintaan daging ayam ras yang dipicu oleh kebutuhan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan HUT Kemerdekaan RI, serta implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai masa libur sekolah.

Di sisi kebijakan tarif dan energi, Pertamina kembali menurunkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo, pemerintah menurunkan batas atas biaya tambahan (fuel surcharge) tiket pesawat domestik, sementara BMKG merilis pemantauan El Nino yang berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Inflasi Bulanan Agustus 2026

BPS mencatat bahwa inflasi bulanan (month-to-month) pada Agustus 2026 berada di level 0,21 persen. Capaian ini menunjukkan pembalikan tren setelah pada bulan sebelumnya (Juli 2026) terjadi deflasi sebesar -0,14 persen, serta deflasi sebesar -0,08 persen pada Agustus 2025. Secara tahunan (year-on-year), tingkat inflasi Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19 persen terhadap Agustus 2025, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 1,86 persen.

Penyumbang utama laju inflasi bulanan Agustus 2026 adalah kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan inflasi 0,57 persen dan andil 0,17 persen, yang didorong oleh komoditas daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, dan beras. Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya turut menyumbang andil 0,03 persen karena kenaikan harga emas perhiasan. Secara tahunan (y-on-y), kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil terbesar yaitu 1,13 persen, disusul kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya (andil 0,63 persen), serta Transportasi (andil 0,58 persen).

Ditinjau dari komponen pembentuknya secara bulanan, komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,88 persen dengan andil 0,15 persen, diikuti oleh komponen inti yang mencatatkan inflasi 0,21 persen dengan andil 0,13 persen. Sebaliknya, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami deflasi sebesar 0,33 persen dengan andil deflasi -0,07 persen, yang utamanya dipengaruhi oleh penurunan harga bensin nonsubsidi dan penyesuaian tarif angkutan udara.

Secara spasial, dari 38 provinsi di Indonesia, sebanyak 27 provinsi mengalami inflasi bulanan dan 11 provinsi mencatatkan deflasi. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Maluku yang masing-masing tercatat sebesar 0,81 persen, sedangkan deflasi terdalam dibukukan oleh Papua Pegunungan sebesar -1,27 persen. Namun secara tahunan (y-on-y), seluruh 38 provinsi mengalami inflasi dengan laju tertinggi di Maluku Utara (5,28 persen) dan terendah di Kalimantan Utara (2,17 persen).

Indeks Nilai Tukar Petani

Pada sektor pertanian, tingkat kesejahteraan petani menunjukkan tren perbaikan yang ditandai dengan kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) nasional Agustus 2026 sebesar 1,05 persen menjadi 129,19 dibandingkan Juli 2026 yang berada pada angka 127,84. Penguatan nilai tukar ini terjadi berkat kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,14 persen (menjadi 165,66) yang lebih cepat dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya naik 0,09 persen (menjadi 128,24).

Kenaikan indeks NTP terjadi di hampir seluruh subsektor, dipimpin oleh Tanaman Pangan (NTPP) yang naik 1,62 persen menjadi 118,04, Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) naik 1,53 persen menjadi 168,77, Peternakan (NTPT) naik 0,96 persen menjadi 102,33, dan Perikanan (NTNP) naik 0,69 persen menjadi 108,60. Penurunan indeks NTP hanya dialami oleh subsektor Hortikultura (NTPH) yang terkoreksi 2,84 persen ke posisi 124,47.

Di sisi lain, komoditas beras mengalami kenaikan harga di semua rantai distribusi pada Agustus 2026. Rata-rata harga beras di tingkat penggilingan meningkat sebesar 1,32 persen secara m-to-m menjadi Rp14.213 per kg (naik 5,52 persen y-on-y), di tingkat grosir mengalami inflasi 0,80 persen m-to-m menjadi Rp14.901 per kg (naik 4,28 persen y-on-y), dan di tingkat eceran naik 0,42 persen m-to-m menjadi Rp15.641 per kg (naik 2,77 persen y-on-y).

Perdagangan Internasional

Beralih ke perdagangan internasional, performa ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencatatkan nilai sebesar US$26,22 miliar atau tumbuh 6,05 persen secara tahunan (*y-on-y*), didorong oleh kenaikan ekspor nonmigas sebesar 6,84 persen menjadi US$25,43 miliar. Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026, nilai ekspor nasional berhasil menembus US$167,03 miliar, atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan andil pertumbuhan utama disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 5,73 persen.

Komoditas ekspor nonmigas unggulan Indonesia periode Januari–Juli 2026 didominasi oleh besi dan baja senilai US$16,54 miliar (pangsa 10,34 persen), CPO dan produk turunannya senilai US$14,79 miliar (pangsa 9,24 persen), serta batu bara sebesar US$14,47 miliar (pangsa 9,04 persen)[cite: 1]. Tiongkok tetap mengukuhkan diri sebagai negara tujuan ekspor nonmigas utama dengan nilai US$40,62 miliar (pangsa 25,39 persen), dibuntuti oleh Amerika Serikat senilai US$19,19 miliar dan India sebesar US$11,00 miliar.

Adapun kinerja impor barang pada Juli 2026 membukukan nilai US$26,09 miliar, melonjak tajam 27,02 persen dibanding Juli 2025[cite: 1]. Lonjakan tersebut dipicu oleh peningkatan impor migas sebesar 49,91 persen (menjadi US$3,77 miliar) serta nonmigas sebesar 23,83 persen (menjadi US$22,33 miliar)[cite: 1]. Secara kumulatif Januari–Juli 2026, total impor mencapai US$163,33 miliar (naik 19,94 persen), dengan struktur yang didominasi oleh kebutuhan bahan baku/penolong senilai US$116,70 miliar dan barang modal senilai US$32,46 miliar.

Dengan capaian ekspor dan impor tersebut, neraca perdagangan barang Indonesia pada Juli 2026 masih berhasil mencatatkan surplus sebesar US$0,12 miliar[cite: 1]. Akumulasi surplus perdagangan barang sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat sebesar US$3,70 miliar, di mana surplus nonmigas yang kuat sebesar US$22,45 miliar mampu menutupi defisit sektor migas yang mencapai US$18,75 miliar. Surplus nonmigas terbesar diraih dari Amerika Serikat (surplus US$12,81 miliar), sementara defisit nonmigas terdalam bersumber dari Tiongkok (defisit US$17,67 miliar).

Sektor Ketahanan Pangan

Pada sektor ketahanan pangan, hasil amatan Kerangka Sampel Area (KSA) amatan Juli 2026 memperkirakan total luas panen padi sepanjang Januari–Oktober 2026 mencapai 10,31 juta hektare (tumbuh tipis 0,01 persen), dengan proyeksi produksi padi sebesar 54,52 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara dengan 31,41 juta ton beras. Untuk periode potensi panen tiga bulan ke depan (Agustus–Oktober 2026), potensi luas panen diperkirakan mencapai 3,07 juta hektare dengan estimasi produksi 16,18 juta ton GKG atau setara 9,33 juta ton beras.

Konsentrasi panen padi periode Agustus hingga Oktober 2026 utamanya berada di lumbung beras nasional, dengan provinsi potensi luas panen tertinggi meliputi Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Kendati demikian, petani dan instansi terkait diingatkan untuk mengantisipasi potensi gagal panen seiring proyeksi BMKG yang menunjukkan curah hujan Juli hingga Oktober 2026 umumnya berada pada level rendah hingga menengah akibat berlangsungnya fenomena El Nino.

Untuk komoditas jagung, perkiraan luas panen kumulatif Januari–Oktober 2026 mencapai 2,41 juta hektare atau meningkat 0,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sejalan dengan penambahan areal panen tersebut, total produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% (JPK KA 14%) diperkirakan mencapai 14,25 juta ton, tumbuh 1,25 persen secara tahunan, di mana potensi produksi pada periode Agustus–Oktober 2026 diproyeksikan menyumbang sebesar 4,17 juta ton.

Sektor Industri Pariwisata

Di sektor industri pariwisata, arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Juli 2026 melonjak hingga 1.525.037 kunjungan, naik 9,99 persen secara bulanan dan mencatatkan rekor kunjungan bulanan tertinggi sejak tahun 2021. Secara kumulatif Januari–Juli 2026, kunjungan wisman mencapai 8.978.626 kunjungan atau naik 5,23 persen, dengan wisatawan terbanyak berasal dari Malaysia (15,00 persen), Australia (12,34 persen), dan Tiongkok (10,28 persen).


Negara Harus Hadir Sebelum Hutan Terbakar

Sebelumnya

Kasus OTT Jalur Mandiri, Universitas Paramadina Desak Negara Ambil Alih Kendali Seleksi PTN

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional