Solidaritas bagi korban krisis kemanusiaan di Palestina kembali digalang dari lingkungan perguruan tinggi. Ikatan Keluarga Alumni Universitas Trisakti (IKA Usakti) menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp 2,7 miliar guna meringankan beban warga di Jalur Gaza dan wilayah sekitarnya.
Penyerahan dana kemanusiaan tersebut dilakukan langsung oleh Ketua IKA Usakti Robby Budiansyah, ST, sebagai bentuk representasi rasa kepedulian mendalam dari keluarga besar alumni perguruan tinggi yang kerap dijuluki sebagai "Kampus Perjuangan" tersebut.
Bantuan bernilai miliaran rupiah itu diterima secara simbolis oleh Ketua Yayasan Islamadina, Ir. Pramono Dewo, MM, yang juga merupakan alumni Teknik Sipil Angkatan 1986. Yayasan Islamadina dikenal memiliki rekam jejak panjang dalam pengelolaan serta distribusi bantuan kemanusiaan global.
Dalam pelaksanaannya, Pramono didampingi oleh istrinya, Dr. Yuanita Rohali, yang merupakan alumni S3 Universitas Trisakti bidang Islamic Economics & Finance. Pasangan suami istri ini tercatat telah mendedikasikan diri selama satu dekade terakhir dalam berbagai misi kemanusiaan internasional.
Rekam jejak kepemimpinan keduanya meliputi kunjungan langsung ke sejumlah kamp pengungsian korban konflik di Palestina dan Suriah. Selain itu, mereka juga secara konsisten mengawal langsung penyaluran bantuan pangan ke wilayah Jalur Gaza yang terisolasi akibat blokade.
Sebagian besar sumber dana yang dihimpun berasal dari uluran tangan serta partisipasi aktif para alumni Universitas Trisakti. Langkah ini menegaskan komitmen sivitas akademika dalam merawat nilai-nilai kepekaan sosial serta kemanusiaan lintas batas.
Pihak IKA Usakti memandang bahwa nominal bantuan tersebut bukan sekadar angka atau materi semata. Di balik penyaluran dana itu, terdapat pesan cinta, doa, serta harapan agar warga Palestina dapat terus bertahan di tengah hancurnya berbagai infrastruktur vital akibat konflik berkepanjangan.
Apresiasi turut disampaikan kepada seluruh alumni dan para dermawan yang telah berpartisipasi dalam penggalangan dana. Keterlibatan berbagai elemen ini membuktikan bahwa solidaritas kemanusiaan mampu menembus batas-batas geografis yang jauh.
Inisiatif dari Kampus Perjuangan ini diharapkan dapat menginspirasi kelompok masyarakat lainnya untuk terus mengalirkan kepedulian bagi Palestina. Manusia mungkin belum sepenuhnya mampu menghentikan rantai penderitaan global, namun ikhtiar untuk meringankan beban sesama tidak boleh pernah berhenti.



KOMENTAR ANDA