Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
DI dalam naskah ini, saya sengaja lebih fokus ke Mohenjo Daro ketimbang Harappa meski keduanya termasuk ke Perabadan Lembah Indus. Na ...
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
KATA “Odyssey” selalu tentang perjalanan panjang: tersesat, diuji, lalu pulang. Dari mitologi Yunani sampai luar angkasa, ...
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
CETERIS paribus secara harfiah artinya "dengan asumsi hal lain tidak berubah" padahal pada kenyataan satu-satunya yan ...
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
PADA mulanya saya menonton Toy Story dengan niat sederhana yaitu mencari hiburan. Titik. Tidak lebih dan tidak kurang. Saya sama seka ...
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
DI epos Ramayana, semua orang kenal Rama, Shita, Laksmana, Hanuman, Rahwana, Kumbakarna, Wibisana dan Sarpakanaka. Tapi jarang yang k ...
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
NEGERI kita sedang gaduh. Bukan karena beras. Bukan karena listrik. Gaduhnya karena pagar. Ya, pagar. Benda yang tingginya 2 meter da ...
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
BAYANGKAN ada orang hidup di dalam tong. Bukan karena tidak mampu sewa kontrakan, tapi karena prinsip. Itulah Diogenes.
Dia filsuf ...
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
TATKALA saya berkunjung ke Mumbai kebetulan kota perdagangan itu sedang hiruk-pikuk dan macet total akibat masyarakat Mumbai dan para ...
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
SETIAP tahun, 3 bahasa daerah di Indonesia mati maka berhenti dituturkan. Tidak ada berita. Tidak ada bendera setengah tiang. Hanya a ...
Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
MUSIK tidak punya akta kelahiran. Ia lahir bersamaan dengan manusia pertama kali menarik napas dan menghembuskannya menjadi suara. Ta ...