Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
TATKALA studi komposisi musik di Jerman, saya beruntung sempat ikut master class yang diselenggarakan Karlheinz Stockhausen. Meski saya berbeda keimanan sukma komposisi musik dengan Karlheinz Stockhausen namun saya sangat menghormati beliau sebagai komponis Jerman yang paling inovatif dan revolusioner pada belahan kedua abad XX.
Karlheinz Stockhausen sangat gagah berani menggubah karya musik yang kontroversial bahkan seolah ketagihan menghadapi perlawanan lebih nekad ketimbang Schoenberg maupun Stravinski.
Namun sepandai-pandai tupai melompat sekali-kali jatuh juga, akhirnya Stockhausen sempat menyerah dalam suatu perang kontroversi bukan di bidang musik justru di bidang geososiopolitik. Stockhausen sempat gegabah menyebut serangan 9/11 sebagai “karya seni terbesar yang pernah ada” (the greatest work of art ever).
Ia menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan contoh dari “lompatan keluar dari keamanan” (leap out of security) yang kadang-kadang terjadi dalam seni, dan bahwa para teroris telah mencapai sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh seniman. Namun, Stockhausen kemudian meminta maaf atas pernyataannya, mengatakan bahwa ia tidak bermaksud untuk membenarkan atau memuji serangan tersebut, tetapi ingin menekankan pentingnya seni dalam menghadapi kekerasan dan kematian.
Pernyataan Stockhausen ini memicu reaksi keras dari masyarakat dan beberapa konsernya dibatalkan. Reaksi masyarakat terhadap pernyataan Stockhausen sangat keras dan luas. Banyak orang, termasuk keluarga korban serangan 9/11, merasa bahwa pernyataannya tidak sensitif dan tidak menghormati korban. Bahkan ia dituduh sebagai pendukung terorisme.
Dalam konteks historiografi, serangan 9/11 merupakan satu di antara peristiwa paling tragis dalam sejarah modern, yang menewaskan hampir 3.000 orang dan menyebabkan kerusakan besar di New York dan Washington D.C. Pernyataan Stockhausen dipandang sebagai tidak menghormati korban dan keluarga mereka, serta tidak memahami dampak serangan tersebut terhadap masyarakat. Namun, segelintir fans berat dan fundamentalis Stockhausen mengatakan bahwa pernyataannya merupakan ekspresi kebebasan berekspresi dan bahwa ia memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya, meskipun tidak populer.
Keluarga Karlheinz Stockhausen memiliki latar belakang yang kompleks dan dipengaruhi oleh peristiwa tragis (Perang Dunia II dan penindasan Nazi) maupun latar belakang musikalnya. Ayahnya, Simon Stockhausen, adalah seorang guru, dan ibunya, Gertrude, meninggal di tangan Nazi. Pada masa kanak-kanak, Stockhausen sendiri mengalami perang dan penindasan Nazi secara langsung, yang kemudian mempengaruhi karya-karyanya.
Majella Stockhausen, pianis dan anak perempuan Karlheinz Stockhausen, tidak setuju dengan komentar ayahnya tentang serangan 9/11. Dalam sebuah wawancara, Majella Stockhausen menyatakan bahwa ia tidak mendukung komentar ayahnya sebab merasa bahwa pernyataannya tidak sensitif terhadap para sanak-keluarga korban serangan 9/11.
Markus Stockhausen, anak laki-laki Karlheinz, juga memiliki pendapat yang berbeda dengan ayahnya. Markus Stockhausen adalah seorang trumpeter dan komposer, dan ia telah bekerja sama dengan ayahnya dalam beberapa proyek musik. Markus Stockhausen tidak secara terbuka mengkritik komentar ayahnya, tetapi ia telah menyatakan bahwa ia memiliki hubungan yang kompleks dengan ayahnya.
Sementara tidak ada informasi tersedia mengenai reaksi keluarga yang setuju komentar Karlheinz Stockhausen tentang malapetaka buatan manusia yang tercatat dengan tinta darah pada lembaran sejarah peradaban umat manusia sebagai tragedi 9/11.



KOMENTAR ANDA