post image
Kumar Sami (kakek penulis) dan copy passport miliknya.
KOMENTAR

Ketika semakin banyak orang Tapanuli Utara datang ke Deli, orang Melayu menyebut mereka sebagai Batak. Sebagian besar beragama Kristen.

Dalam lingkungan Kesultanan, sebagian orang Batak yang bekerja dekat istana kemudian memeluk Islam dan berasimilasi ke dalam masyarakat Melayu.

Dari situlah lahir ungkapan lama:
Batak bukan sembarang Batak. Kampak bukan sembarang kampak.

Ungkapan itu bukan tentang darah, melainkan tentang perubahan identitas. Tentang orang-orang yang perlahan menjadi bagian dari dunia Melayu.

Banyak di antara mereka kemudian tinggal di pinggir Kota Medan: Simpang Limun, Amplas, dan Denai.

Sesudah Revolusi 1945, gelombang perantau dari Tapanuli Utara semakin besar. Mereka datang ke Medan untuk mencari hidup.

Ada yang menjadi kenek bus. Ada yang menambal ban. Ada yang menjadi tukang becak, buruh angkut di pajak, atau membuka warung kecil.

Perempuan-perempuannya menjual sayur di pasar.

Mereka umumnya tinggal di pinggiran kota. Di sana mereka mulai mendirikan gereja: HKBP, HKI, dan GKI.

Medan pun berubah lagi. Kota yang dahulu dibangun oleh perkebunan dan istana, perlahan menjadi kota pertemuan. Kota para pendatang. Kota yang dipenuhi bahasa, adat, makanan, dan keyakinan yang berbeda-beda.

Tetapi perubahan juga melahirkan ketegangan.

Sesudah 1945, Medan dibanjiri para perantau. Dari Tapanuli. Dari Mandailing. Dari Jawa. Dari Minang.

Mereka datang dengan harapan yang sama: mencari hidup. Kota tumbuh cepat. Terlalu cepat.  Permukiman baru bermunculan di pinggir kota. Gang-gang sempit. Rumah-rumah papan. Pasar-pasar yang sesak.

Di tengah keramaian itu, orang membawa adat, makanan, bahasa, dan keyakinannya masing-masing.

Kadang mereka saling memahami. Kadang mereka saling curiga. Dari situlah lahir jarak. Lahir bisik-bisik. Lahir perasaan bahwa kota ini milik satu kelompok dan bukan kelompok lain.

Padahal Medan tidak pernah dibangun oleh satu kelompok saja. Padahal Medan tidak pernah dibangun oleh satu kelompok saja.

Kota ini dibangun oleh banyak tangan. Oleh Melayu yang menjaga adat. Oleh Karo yang menjaga tanah. Oleh Tamil yang membuka jalan. Oleh Sikh yang menjaga kebun. Oleh Jawa yang memetik tembakau. Oleh Mandailing yang mengajar di surau. Oleh Minang yang membuka rumah makan. Oleh Arab yang berdagang. Oleh Tionghoa yang menghidupkan pasar. Oleh Batak yang datang membawa tenaga dan harapan.

Medan lahir dari perjumpaan. Dan seperti semua kota yang lahir dari perjumpaan, ia selalu berdiri di antara dua hal: keragaman dan benturan.

Tugas kita hari ini bukan menghidupkan prasangka lama. Bukan pula membesarkan perbedaan.

Tugas kita adalah mengingat: sejak awal, Tanah Deli memang dibangun oleh banyak bangsa, banyak suku, dan banyak kisah.

Karena itulah Medan tidak pernah menjadi milik satu orang.

Medan adalah milik semua yang pernah datang, bekerja, berdoa, dan menaruh hidupnya di tanah ini. Aku Selwa Kumar, aku dibentuk budaya  Medan. Aku bangga jadi anak tanah Deli, bung.  Demikian. Ahooi.


#2 Dari Kejujuran ke Trust

Sebelumnya

Hujan, Luka, dan Jalan Panjang Menuju Rumah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya