Orang Tamil umumnya didatangkan dari Penang. Agen di Penang terhubung dengan agen di Tamil Nadu, India Selatan. Orang Sikh banyak didatangkan melalui pelabuhan Bengal di India Utara.
Kabar tentang Tanah Deli tersebar jauh. Ada cerita yang beredar dari mulut ke mulut: di Deli, pohon berdaun emas. Siapa datang, bisa kaya.
Maka tidak sedikit pula yang datang sendiri, tanpa kontrak dan tanpa paksaan.
Orang Tamil mula-mula bekerja di perkebunan. Mereka membuka jalan. Menarik kereta lembu. Mengangkut hasil kebun. Sebagian kemudian beralih menjadi pedagang rempah-rempah, makanan, dan pemilik kedai. Ada pula yang membuka usaha pinjam-meminjam uang.
Orang Sikh dikenal memelihara lembu dan menjual susu. Sebagian menjadi penjaga keamanan di perkebunan. Ada juga yang membuka toko dan menjual minuman keras.
Orang Punjab berdagang kain, bandrek, dan sirup. Orang Sindhi membuka toko tekstil dan perlengkapan olahraga. Orang Arab datang membawa kain, minyak wangi, dan ramuan obat-obatan.
Perkebunan Deli tumbuh cepat. Tembakau mulai dipanen, dipres, lalu dikirim berbal-baal ke Belanda. Dari tanah yang dahulu hutan, lahir kekayaan yang mengalir ke Eropa.
Namun di balik itu, lahir pula gelombang manusia. Tetapi di balik kejayaan itu ada luka.
Kehidupan buruh di perkebunan sangat keras. Jam kerja panjang. Upah kecil. Hukuman berat.
Kabar itu sampai ke India. Pada 1931, Partai Kongres India di bawah pimpinan Jawaharlal Nehru mengirim surat protes kepada Pemerintah Inggris dan Parlemen Inggris. Mereka mengecam pengiriman buruh India ke Deli.
Tahun itu juga pemerintah kolonial Inggris menghentikan pengiriman resmi buruh India ke Tanah Deli.
Sejak saat itu, ribuan buruh dari Pulau Jawa didatangkan ke Sumatra Timur. Mereka menggantikan buruh India di kebun-kebun tembakau.
Sejak itu, Tanah Deli semakin ramai. Orang dari berbagai daerah datang dan menetap. Dari Mandailing. Dari Tapanuli Selatan. Dari Minangkabau.
Orang Mandailing banyak menjadi guru mengaji di maktab-maktab yang dibangun Sultan. Mereka juga menjadi imam di masjid-masjid Kesultanan. Banyak di antara mereka tinggal di sekitar istana: Sukaraja, Sei Mati, dan kawasan dekat pusat Kesultanan.
Sebagian orang Mandailing membuka toko tembakau, hasil bumi, dan tekstil di Kesawan dan Pajak Ikan.
Di antara saudagar Mandailing yang terkenal adalah Haji Ma'rased Lubis. Ia memiliki ratusan toko di Medan dan Penang. Ia juga membangun banyak masjid dan maktab. Salah satunya masjid di Jalan Sei Deli, Medan.
Orang Minangkabau datang dengan peran berbeda. Mereka menjadi pedagang barang pecah belah di perkebunan. Ada yang menjadi tukang jahit, pembuat sepatu, tukang pangkas, penjual kacang goreng, hingga pemilik rumah makan.
Sebagian orang Minang juga menjadi guru mengaji. Mereka dipanggil Angku.
Pada 1928, sejumlah pedagang Minang mendirikan Muhammadiyah di Jalan Kediri, Medan. Mereka juga membangun madrasah di Jalan Kebun Bunga.
Sementara itu, Belanda membentuk Gemeente Medan.
Kota baru mulai tumbuh. Pusat Kesultanan dipindahkan dari Labuhan ke Medan. Pada 1888 Sultan Ma'mun Al Rashid membangun Istana Maimun. Tidak jauh dari sana, antara 1906 hingga 1909, dibangun Masjid Raya Al-Mashun.
Di depannya terbentang Taman Sri Deli. Istana. Masjid. Taman. Tiga bangunan itu menjadi jantung Medan.
Medan tumbuh bukan hanya sebagai kota dagang, tetapi juga sebagai kota simbol.
Istana. Masjid. Taman. Jalan-jalan lebar. Gedung-gedung kolonial. Semua berdiri di atas tanah yang dahulu dibuka oleh tembakau.
Sultan Deli bukan hanya pemimpin adat. Ia juga pemuka agama. Karena itu, Sultan mengeluarkan aturan: siapa pun yang datang ke Tanah Deli harus menghormati dan menjalankan adat Melayu. Melayu menjadi payung. Adat menjadi pagar.




KOMENTAR ANDA