post image
KOMENTAR

Oleh: Selwa Kumar, Aktivis Sosial, PP IKA USU Bidang Seni dan Budaya

I. Fajar Perkebunan dan Migrasi Transnasional

​Lanskap sosiokultural Sumatera Timur berubah drastis sejak Jacobus Nienhuys memperoleh konsesi lahan pada 1863. 

Keberhasilan tembakau Deli memicu pembukaan lahan besar-besaran di wilayah Kedatukan Hamparan Perak, Marindal, dan Amplas di bawah otoritas Sultan Ma’mun Al Rasyid (Sultan Deli).

​Kebutuhan tenaga kerja yang masif tidak dapat dipenuhi oleh penduduk lokal (Melayu dan Karo) yang memiliki kemandirian ekonomi melalui sawah dan ladang yang luas. Hal ini memaksa perusahaan perkebunan (Deli Planters) mendatangkan buruh dari India melalui sistem kontrak yang terhubung antara kantor agen di Penang dan pusat-pusat perekrutan di India.

​Asal-Usul Geografis: 

Migrasi ini terbagi menjadi dua arus utama. Etnis Tamil, Malayalam, dan Telugu berangkat dari India Selatan melalui Pelabuhan Madras (Nagapattinam). Sementara etnis Sikh, Punjabi, dan Bengali berangkat dari India Utara melalui Pelabuhan Bengal.

​II. Spesialisasi Etnis dalam Ekosistem Deli

​Komunitas India di Deli tidaklah homogen; mereka membentuk struktur ekonomi yang spesifik berdasarkan keahlian tradisional:

​Transportasi & Infrastruktur: Etnis Tamil memegang peranan vital dalam logistik perkebunan melalui penguasaan Kereta Lembu dan pembangunan jalan.

​Keamanan & Peternakan: Etnis Sikh dan Punjabi mengelola suplai susu untuk para Tuan Kebon (administratur Belanda) serta menjaga stabilitas keamanan di lingkungan perkebunan.

Kuliner: Etnis Sindhi dan Tamil Muslim menggerakkan sektor domestik melalui kedai rempah dan kuliner ikonik seperti Mie Rebus, Martabak, dan Roti Cane yang hingga kini menjadi identitas kuliner Medan.

​III. Kumar Sami dan Keteguhan Tradisi Peri Peley

​Di tengah dinamika kolonial ini, narasi keluarga Anda muncul sebagai bukti kekuatan identitas. Peri Peley, seorang perempuan tangguh dari Mangangudi, Tamil Nadu, tiba di Deli pada usia sembilan tahun. 

Beliau merepresentasikan sosok perempuan India yang mandiri secara ekonomi—menguasai sawah yang luas dan puluhan kereta lembu—serta mahir menunggang kuda.

​Pada 1899, lahir Kumar Sami (Putra Dewa) di tengah lingkungan yang kental dengan spiritualitas Hindu. 

Kediaman mereka di Kuala Selesai, Langkat, yang berdekatan dengan Kuil Muruga di tepi sungai, menjadi pusat praktik askese. 

Kumar Sami tidak hanya berperan sebagai praktisi keyakinan, tetapi juga sebagai pendeta yang memimpin ritual besar:

​Ponggal: Upacara syukur panen yang berlangsung tiga hari, melibatkan ritual memasak beras baru dan penghormatan terhadap hewan ternak (Maattu Pongal).

​Thaipusam: Sebuah manifestasi identitas di ruang publik, di mana arca Dewa Muruga diarak menggunakan kereta kencana mengelilingi kampung sebagai simbol kehadiran dan kedaulatan budaya India di Tanah Deli.

​IV. Struktur Kekuasaan: Jabatan Kapten sebagai Instrumen Kontrol

​Pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan segregasi melalui status Vreemde Oosterlingen (Timur Asing). Untuk mempermudah kontrol administratif, ditunjuklah pemimpin komunitas dengan pangkat militer tituler:

​Kapten India: Jabatan ini dipegang oleh tokoh-tokoh berpengaruh seperti Muthu Kapten di Binjai (pendiri Kuil Sri Mariamman pada 1890) serta kakek dari pihak ibu Selwa Kumar yang menjabat sebagai Kapten di Tanjung Pura, Kesultanan Langkat.

Jabatan Kapten adalah posisi hulu yang strategis. Mereka berfungsi sebagai mediator antara komunitas India, Kesultanan, dan pemerintah Belanda. Keberhasilan mereka membangun institusi seperti Kuil Sri Mariamman (1884) dan Deli Hindu Sabha (1913) menunjukkan bahwa jabatan ini digunakan untuk memperkuat fondasi sosial-keagamaan komunitas di perantauan.

​V. Warisan dan Filosofi Identitas


Kontemplasi Matra Retret

Sebelumnya

Pembatasan Gadget bagi Anak: Investasi Negara dalam Membangun Generasi Sehat dan Produktif

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional