post image
Ilustrasi pertemuan Prabowo Subianto dan Vladimir Putin./AI
KOMENTAR

Rusia saat ini memiliki kelebihan kapasitas produksi minyak dan gas yang tidak dapat terserap sepenuhnya oleh pasar China dan India.

Oleh: Hendra Manurung dan Oktaheroe Ramsi*

 KIAN memanasnya konflik di Timur Tengah akibat konflik militer antara Iran dan koalisi Israel-Amerika Serikat (AS), berakibat stabilitas pasokan energi dunia kembali menghadapi ujian berat. Kemunculan ketegangan di wilayah ini berawal dari serangan militer Israel dan AS ke Iran pada 28 Februari 2026.

Wilayah ini sejatinya merupakan jantung produksi minyak dan gas dunia, dan konflik berkepanjangan telah memicu lonjakan harga komoditas energi, mengganggu rantai pasok maritim di Selat Hormuz, serta memaksa negara-negara konsumen energi, termasuk Indonesia, untuk mencari opsi diversifikasi yang lebih aman dan berkelanjutan.

Dalam konteks inilah, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskow menjadi sebuah keputusan strategis yang tidak bersifat bilateral, tetapi sarat dengan nuansa diplomatik di tengah tekanan polarisasi global.

Krisis Timur Tengah dan Implikasinya terhadap Ketahanan Energi Indonesia. Konflik Iran vs Israel-AS, yang dalam skenario ini telah meningkat menjadi arena perang terbuka dengan serangan langsung dan serangan siber terhadap fasilitas minyak, telah menciptakan efek gentur (domino effect) pada pasar energi global. Iran, sebagai anggota OPEC dan produsen minyak signifikan, menghadapi sanksi ekspor yang lebih keras dan potensi blokade laut.

Sementara itu, AS sebagai sekutu dekat Israel dan negara dengan cadangan minyak strategis, justru harus mengalihkan sebagian besar armada logistik militernya untuk mengamankan rute perdagangan di kawasan Teluk. Akibatnya, harga minyak mentah dunia sempat menyentuh angka tertinggi dalam satu dekade terakhir, sedangkan harga LNG (Liquefied Natural Gas) ikut melonjak disebabkan negara-negara Eropa dan Asia justru berebut pasokan alternatif dari wilayah Teluk.

Indonesia, meskipun masih memiliki sumber daya energi fosil dan terus mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), tetap menjadi negara pengimpor minyak mentah dan produk kilang berskala besar. Defisit neraca perdagangan minyak Indonesia memburuk saat harga global tak terkendali.

Selain itu, ketergantungan pada rute laut melalui Selat Malaka dan Selat Lombok yang terhubung ke Timur Tengah membuat pasokan ke kilang-kilang domestik seperti Cilacap dan Balongan rentan terhadap gangguan suplai logistik dan asuransi akibat perang berkelanjutan.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme pasar biasa atau langkah diplomatik standar di PBB. Diperlukan pendekatan pragmatis dan keberanian memprioritaskan kepentingan nasional di atas blok ideologis tertentu.

Mengapa Rusia? Pertimbangan Rasional di Tengah Sanksi. Di saat dunia Barat dan sekutunya menjatuhkan sanksi ekonomi multi-sektor terhadap pemerintah Rusia akibat invasi ke Ukraina, sebagian besar negara Asia dan Global Selatan memilih jalur non-blok. Indonesia, di bawah kepemimpinan Prabowo yang dikenal dengan pendekatan ‘persahabatan dengan semua, permusuhan dengan tak satu pun’, mempersepsikan isolasi Rusia dari pasar energi global justru menciptakan peluang.

Rusia saat ini memiliki kelebihan kapasitas produksi minyak dan gas yang tidak dapat terserap sepenuhnya oleh pasar China dan India. Harga minyak Rusia seperti grade Urals diperdagangkan dengan diskon signifikan dibandingkan Brent disebabkan adanya mekanisme batas harga (price cap) dari negara-negara G7. Bagi Indonesia, membeli energi langsung dari Rusia pada saat krisis Timur Tengah berlangsung adalah upaya ekonomis rasional.

Lebih dari itu, Rusia memiliki teknologi dan keahlian di bidang energi nuklir sipil yang selama ini menjadi salah satu pilar ambisi Indonesia untuk mengurangi emisi karbon. Rosatom, perusahaan energi nuklir negara Rusia, telah berpengalaman membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) apung dan reaktor generasi terbaru yang cocok untuk kondisi kepulauan Indonesia.

Sementara negara-negara Eropa dan AS cenderung memperlambat transfer teknologi nuklir ke Indonesia dikarenakan kekhawatiran non-proliferasi, Rusia justru menawarkan kerja sama yang lebih longgar dan cepat.

Diplomasi Energi Prabowo: Kunjungan ke Moskow

Kunjungan Presiden Prabowo ke Moskow pada masa krisis ini bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa. Agenda inti pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin terdiri dari tiga pilar utama. Pertama, kesepakatan pembelian minyak mentah Rusia dengan skema barter atau pembayaran dalam mata uang lokal (Local Currency Settlement) untuk menghindari sanksi keuangan AS.

Mekanisme ini memungkinkan Indonesia menukar komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan produk pertanian lainnya dengan pasokan minyak mentah yang langsung dikirim melalui rute Laut Utara (Northern Sea route) yang semakin terbuka akibat pencairan es di Arktik. Kedua, percepatan studi kelayakan pembangunan PLTN pertama di Indonesia, kemungkinan berlokasi di Kalimantan atau Kepulauan Bangka Belitung, dengan pembiayaan lunak dari Bank Investasi Rusia.

Ketiga, kerja sama di bidang pengolahan gas bumi menjadi produk petrokimia dan bahan bakar hidrogen, yang menjadi masa depan transisi energi.

Kedatangan Presiden Prabowo bertemu Presiden Putin semakin menegaskan posisi Indonesia dalam konflik Iran vs Israel-Amerika Serikat adalah netral dan terus aktif mendorong gencatan senjata. Netralitas yang tidak berarti pasif. Ketahanan energi adalah fondasi kedaulatan, demikian pernyataan Prabowo yang dikutip dari siaran pers Kementerian Luar Negeri. Indonesia tidak akan pernah menjadi boneka siapa pun, tetapi kami akan bekerja sama dengan siapa pun yang menghormati kepentingan nasional kami.

Tentu saja, langkah Indonesia ini menuai reaksi beragam. Departemen Luar Negeri AS, menyatakan keprihatinan mendalam terhadap potensi pelanggaran sanksi sekunder jika Indonesia secara eksplisit melakukan transaksi dengan entitas Rusia yang telah di-blacklist.

Namun, Washington juga menyadari bahwa mendorong Indonesia terlalu keras hanya akan mendorong Jakarta lebih dekat ke blok China-Rusia. Israel, yang sedang terlibat perang dengan Iran, cenderung tidak punya perhatian pada diplomasi energi Indonesia-Rusia karena fokus pada front militer.

Sementara, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melihat langkah Indonesia sebagai sinyal bahwa negara-negara konsumen besar mulai mencari alternatif jangka panjang terhadap ketergantungan pada Timur Tengah yang cendeung tidak stabil.

Di dalam negeri, respons parlemen dan publik terbelah. Kelompok pro-Prabowo mengapresiasi langkah berani mengutamakan kepentingan rakyat di tengah krisis energi dunia. Namun, oposisi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) antikorupsi mengingatkan agar kerja sama energi dengan Rusia tidak menjadi pintu masuk bagi perluasan pengaruh geopolitik yang rumit, meminta kontrak jual beli dan pembiayaan dilakukan transparan dan bebas dari praktik korupsi.

Selain itu, kekhawatiran akan ketergantungan baru dari Timur Tengah ke Rusia juga mengemuka. Namun, pemerintah Indonesia menyatakan diversifikasi pemasok adalah kunci ketahanan energi nasional.


“Lose and Lose” di Selat Hormuz

Sebelumnya

Pertemuan Cheng Liwun dan Xi Jinping, Rekalibrasi One China Policy

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia