post image
Ilustrasi pertemuan Prabowo Subianto dan Vladimir Putin./AI
KOMENTAR

Implikasi Jangka Panjang: Dari Krisis Menuju Loncatan Strategis

Diharapkan diplomasi energi Prabowo ke Moskow berhasil diimplementasikan, hingga nantinya Indonesia mampu meraih beberapa keuntungan strategis. Pertama, stok minyak mentah nasional (ketahanan stok untuk 30-60 hari) dapat ditingkatkan menjadi lebih dari 90 hari tanpa harus membeli di pasar spot yang mahal.

Kedua, program hilirisasi energi seperti pembangunan kilang minyak baru di Bontang dan kilang hijau di Dumai mendapat pasokan umpan stabil. Ketiga, kehadiran PLTN pertama pada dekade 2030-an akan secara fundamental mengubah bauran energi nasional, mengurangi beban subsidi BBM, dan emisi gas rumah kaca.

Pada level global, diplomasi Indonesia telah menunjukkan bagaimana dalam dunia yang terpecah diantara Barat dan Timur, negara-negara menengah dan berkembang memiliki ruang gerak memanfaatkan persaingan kekuatan besar demi kepentingan domestik. Ini bukanlah keberpihakan kepada Rusia atau melawan AS, melainkan sebuah tindakan realisme klasik dalam hubungan internasional, ketika badai geopolitik melanda, negara paling rasional akan mencari pilihan alternatif, meskipun berada di luar kawasan konvensional.

Perang Iran vs Israel-Amerika Serikat telah membuka kerentanan struktural sistem energi global yang selama ini terpusat di Timur Tengah. Bagi Indonesia, ancaman ini sekaligus menjadi momentum untuk melakukan lompatan strategis dalam diplomasi energi.

Kunjungan Presiden Prabowo ke Moskow bukanlah sekadar reaksi taktis terhadap krisis, melainkan sebuah peluang jangka panjang di tengah kekacauan menuju dunia multipolar. Kerja sama energi dengan Rusia, meskipun berisiko secara reputasi dan munculnya tekanan diplomatik, namun menawarkan solusi konkret atas kebutuhan mendesak melalui keterjangkauan harga energi, jaminan pasokan, dan kemandirian teknologi.

Dalam dunia yang tidak lagi bersahabat, diplomat energi harus berani mengambil jalan tidak biasa, dan itulah yang coba diwujudkan oleh Presiden Prabowo.
 
* Hendra Manurung dan Oktaheroe Ramsi adalah dosen Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI)
 


“Lose and Lose” di Selat Hormuz

Sebelumnya

Pertemuan Cheng Liwun dan Xi Jinping, Rekalibrasi One China Policy

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia