post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Mereka sangat tidak suka keterlibatan militer dalam proyek sipil. Karena militer yang kuat di mata mereka adalah ancaman bagi tatanan liberal yang mereka dogmakan. Mereka mati-matian mencegah Indonesia memilih jalur pembangunan mandiri. Karena jalan itu tidak ada dalam agenda IMF dan World Bank. 

Pada akhirnya, artikel The Economist bisa dibaca sebagai cermin pandangan liberal-globalis. Hal itu tidak salah, karena jelas siapa yang mereka layani. Namun Indonesia bukanlah investasi belaka. Indoneia adalah  rumah bagi 290 juta manusia dengan aspirasi dan hak menentukan jalannya sendiri. Kita perlu kritik jujur dari dalam negeri. Kritik tentang korupsi dalam program populis yang serampangan. Kritik atas rendahnya transparansi Danantara. Kritik atas efisiensi anggaran yang timpang. 

Di sisi lain, kita juga perlu skeptis terhadap kritik dari luar yang sarat bias ideologis. Tapi yang tidak kalah berbahayanya dari bias liberal Barat, adalah bias lokal yang takut dikritik. Marilah kita kritis terhadap semua pihak—termasuk diri kita sendiri. Karena hanya dari kerendahan hati itulah, sebuah bangsa bisa belajar menjadi lebih baik.


Rupiah Anjlok, Akankah Gubernur BI Jadi Kambing Hitam?

Sebelumnya

Indonesia Berhak Mendapatkan Analisis yang Adil dari “The Economist”

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekbis