post image
Rumah warga Gaza yang hancur dibombardir Israel di tengah upaya BOP menciptakan perdamaian./Reuters
KOMENTAR

Utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar serangkaian pertemuan intensif dengan para mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki di Kairo pada Minggu, 16 Agustus 2026. Langkah diplomasi ini dilakukan untuk mendorong implementasi peta jalan (roadmap) rencana perdamaian Gaza yang diprakarsai oleh Washington, di tengah situasi kawasan yang kembali memanas akibat berlanjutnya serangan udara Israel.

Delegasi AS dipimpin oleh menantu sekaligus utusan khusus Trump, Jared Kushner, bersama dengan utusan Dewan Perdamaian (Board of Peace) untuk Gaza, Nickolay Mladenov. Reuters melaporkan, dalam beberapa sesi pembicaraan di Kairo tersebut, perwakilan dari kelompok Hamas turut hadir bersama para mediator regional guna membahas kepatuhan terhadap tahap-tahap awal kesepakatan damai.

Pembicaraan tingkat tinggi ini difokuskan pada upaya memastikan komitmen Hamas terhadap poin-poin krusial dalam peta jalan 15 poin AS, terutama mengenai pelucutan senjata secara bertahap. Hamas sebelumnya menyatakan persetujuannya pada akhir Juli untuk menyerahkan senjata kepada badan pemerintahan sipil Palestina yang baru, demi mencegah berlanjutnya kehancuran di Jalur Gaza.

Rencana perdamaian yang diusung pemerintahan Trump menuntut penghentian segera seluruh operasi militer di Gaza. Peta jalan tersebut mengamanatkan pelucutan senjata kelompok militan yang berjalan seiring dengan penarikan pasukan Israel dari wilayah enklaf tersebut, diikuti dengan program rekonstruksi berskala besar di bawah pengawasan administrasi sipil baru.

Namun, upaya diplomasi AS ini menghadapi benteng kokoh di pihak Israel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka menolak peta jalan terbaru dari Trump pada 9 Agustus lalu dan menyebabkannya berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Netanyahu mengekspresikan keraguan mendalam bahwa Hamas akan benar-benar melucuti senjatanya dan mengkritik tuntutan AS agar Israel menghentikan pembunuhan terarah terhadap tokoh-tokoh Hamas.

Meskipun mendapat penolakan keras dari Tel Aviv, tim utusan AS tetap menjadwalkan pertemuan langsung dengan Netanyahu di Jerusalem pada Senin, 17 Agustus 2026. Selain Kushner dan Mladenov, mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair juga dijadwalkan hadir untuk meyakinkan pihak Israel agar mau menyetujui kerangka kerja perdamaian yang telah dirancang tersebut.

Di saat yang sama, pimpinan Hamas, Khalil Al-Hayya, telah melakukan pertemuan terpisah dengan Kepala Intelijen Mesir, Hassan Rashad. Juru bicara Hamas menegaskan bahwa organisasinya tetap berkomitmen pada rencana perdamaian AS, namun mendesak para mediator dan Dewan Perdamaian untuk memaksa Israel menghentikan pelanggaran gencatan senjata dan menyetujui jadwal implementasi fase kedua.

Penolakan Netanyahu terhadap rencana perdamaian ini juga memicu reaksi keras dari negara-negara kawasan. Menteri Luar Negeri dari lima negara Arab bersama Turki, Pakistan, dan Indonesia mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam sikap Israel. Mereka menilai penolakan Tel Aviv mengancam upaya global untuk mengakhiri perang dan mendesak AS mengambil tindakan nyata untuk mencegah hambatan lebih lanjut.

Di lapangan, situasi keamanan di Jalur Gaza terus memburuk akibat meningkatnya aktivitas militer Israel. Serangan udara Israel yang mengenai tenda pengungsian di Khan Younis dan sebuah apartemen di kamp Nuseirat melukai sejumlah warga Palestina, dengan satu korban jiwa dilaporkan meninggal di Rumah Sakit Nasser akibat luka-luka yang dideritanya.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah dideklarasikan sejak Oktober lalu untuk menghentikan konfrontasi berskala besar, kekerasan tidak pernah sepenuhnya mereda di Jalur Gaza. Lebih dari 1.250 warga Palestina dilaporkan tewas akibat tembakan militer Israel sejak Oktober 2025, yang menegaskan betapa mendesaknya kepastian implementasi rencana perdamaian yang sedang diperjuangkan oleh para utusan AS tersebut.


Ratusan Migran di Ceuta Protes, Menuntut Suaka Politik kepada Pemerintah Spanyol

Sebelumnya

Dinamika Kepentingan Ethiopia dan Mesir di Sungai Nil dalam Forum BRICS

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia