post image
Foto: Kompas
KOMENTAR

Seandainya korporasi asing berada di belakang karhutla ini, mengapa hal itu tidak diungkap secara terang-terangan. Jelaskan siapa mereka, apa saja yang dilakukan korporasi asal Singapura dan Malaysia itu, serta apa saja dosa perusahaan tersebut. Cara ini lebih elegan, menohok, dan menampar pemerintah negeri jiran itu kalau benar perusahaan dari negeri terlibat dalam karhutla.

Indonesia adalah negara yang cukup didengar di kawasan. Negeri kita ikut mendirikan ASEAN. Namun, tindakan agak konfrontatif sebaiknya dihindari. 

Perlu dipikirkan apa dampak pemangkasan ekspor gas ke Singapura. Negeri kita masih impor BBM dari Singapura. Akibat konflik dua tetangga ini, bisakah Indonesia segera mencari pasokan minyak dari negara lain? Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut China dan India sebagai negara yang potensial untuk menyuplai BBM ke negeri kita. 

Kebakaran hutan dan lahan telah mencoreng negeri kita di depan negara tetangga, tapi juga membuat rakyat di lokasi bencana menderita. Rakyat dikalahkan akibat ketidakcakapan pemerintah (daerah dan pusat) dalam memitigasi dan mengelola potensi bencana di hutan dan lahan gambut. Kita terantuk masalah yang sama, seolah-olah karhutla adalah masalah tahunan yang harus diterima sebagai hal yang tidak terelakkan. 

Penelitian INDEF berikut sebaiknya dicamkan. Katanya, kebakaran hutan dan lahan sudah diprediksi, tapi pemerintah abai. Peringatan iklim tidak mengubah anggaran. Padahal pemerintah memiliki banyak instrumen kebijakan untuk mengantisipasi dan mengurangi karhutla.

Menurut INDEF, periset BRIN telah memperingatkan tentang potensi El-Nino bakal kuat sejak akhir Maret lalu. Namun pagu anggaran siap pakai untuk bencana cuma Rp 5 triliun merujuk pada Purbaya Yudhi Sadewa, saat itu menteri keuangan, pada September 2026.

Masih kata INDEF, Nota Keuangan 2026 menilai risiko bencana "kecil". Padahal kerugian akibat bencana alam per tahun menembus Rp 22,85 triliun (Instagram INDEF).

Spanduk demonstran berbunyi, "If we burn, you burn with us" itu adalah kegeraman melihat penderitaan rakyat akibat ketelodoran negara membaca alam.

Maka mahasiswa bergerak, turun ke jalan, meneriakkan perbaikan atas masalah hidup yang ruwet dan makin susah di negeri kita. Student protest itu adalah suara moral rakyat. Suara murni yang tidak dipoles dengan pencitraan dan retorika.

Ketika demonstran berseru "Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan" sesungguhnya jauh di lubuk hatinya mahasiswa mengakui bahwa rakyat sedang kalah dan dikalahkan di alam nyata. Rakyat keok karena kebijakan yang tidak correct, tidak memihak, dan tidak adil.

Rakyat akan menang jika keadaan ekonomi membaik, daya beli meningkat, harga-harga kebutuhan pokok terjangkau, hukum tidak tajam ke bawah namun tumpul ke atas, kesenjangan sosial makin menipis, para maling uang negara dihukum berat, jaminan kesehatan terjamin hingga udara bersih dan sehat tersedia di lingkungan mereka tinggal.

Saat itu terjadi mahasiswa tak perlu lagi turun ke jalan. Cukup fokus belajar di kampus dan segera rampungkan kuliah dalam tempo secepat-cepatnya. Sebaliknya ketika student protest tumpah di banyak kota, percayalah ada yang salah dalam pengelolaan negeri ini.


Di Antara Kalkulasi Elektoral dan Tanggung Jawab Konstitusional

Sebelumnya

Teror di Ponpes Putri Hamalatul Quran: Polisi Overdosis Lagi?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Nasional