Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
SEJAK 300 SM, manusia hidup dalam penjara Euclides.
Penjara itu bernama: satu titik pandang, satu garis horizon, satu kebenaran perspektif. Sejak Renaissance, lukisan mengajarkan kita bahwa dunia hanya benar jika dilihat dari satu mata, diam, dari satu titik. Itu yang disebut perspektif linear.
Selama 600 tahun kita patuh. Sampai Picasso dan Braque datang dengan gebrakan.
Tahun 1907, Picasso melukis _Les Demoiselles d'Avignon_. Wajah wanita terlihat dari depan dan samping secara bersamaan. Hidungnya miring, matanya dua-duanya di satu sisi. Kritikus berkata: ini cacat anatomi.
Picasso menjawab: tidak. Ini anatomi yang jujur.
1. Geometri yang Dibunuh Kubisme
Euclides berkata: sebuah kubus punya 6 sisi, tapi mata manusia hanya bisa melihat maksimal 3 sisi sekaligus.
Kubisme berkata: mengapa saya harus berbohong hanya menampilkan 3 sisi, padahal saya tahu ada 6 sisi?
Kubisme adalah pemberontakan terhadap geometri Euclidian yang monokular. Ia menggantinya dengan geometri baru yang 20 tahun kemudian baru dirumuskan matematis: Geometri Riemann dan gagasan Dimensi Keempat.
Braque menyebutnya: "Melukis bukan meniru apa yang kita lihat, tapi apa yang kita ketahui."
Ketika Anda melihat istri atau suami Anda, apakah Anda hanya melihat depannya? Tidak. Otak Anda mengingat sampingnya, belakangnya, cara dia tertawa kemarin, cara dia marah seminggu lalu. Anda melihat istri atau suami Anda dalam 4 dimensi: 3 ruang + 1 waktu ingatan. Kubisme melukis seperti otak, bukan seperti kamera.
2. Matematika di Balik Pecahan
Lihat lukisan kubistis Juan Gris: sebuah gitar dipecah menjadi kerucut, silinder, dan bidang.
Itu bukan hiasan. Itu adalah teorema:
> Realitas = Σ (proyeksi dari n-titik pandang)/waktu.
Dalam matematika, ini mirip transformasi. Sebuah objek tidak didefinisikan oleh satu proyeksi ortogonal, tapi oleh himpunan semua proyeksinya. Seperti dalam tomografi medis — satu foto rontgen tidak menunjukkan tumor. Butuh CT-scan: ratusan foto dari sudut berbeda untuk merekonstruksi kebenaran.
Kubisme adalah CT-scan pertama dalam sejarah seni.
3. Filosofi: Kebenaran Bukan Monopoli
Implikasi filosofisnya dahsyat.
Jika satu wajah saja butuh dua sudut pandang untuk mendekati kebenaran, apalagi kebenaran tentang Tuhan, negara, atau moral?
Kubisme menghancurkan epistemologi "saya paling benar" — tema yang kemarin kita bahas di ETIKA FILSAFAT. Kubisme berkata secara visual: kebenaran tidak pernah tunggal. Kebenaran adalah kubus yang harus dilihat dari semua sisinya, dan bahkan setelah itu pun, Anda belum melihat dalamnya.
Einstein pada tahun yang sama merumuskan relativitas: tidak ada ruang dan waktu yang absolut, semua tergantung kerangka pengamat. Picasso melakukan hal yang sama di kanvas.
Itulah mengapa Apollinaire berkata: "Kubisme bukan seni, ia adalah filsafat."



KOMENTAR ANDA