post image
KOMENTAR

Ketiga, memanfaatkan kekuatan numerik di lembaga multilateral. Dunia ketiga adalah mayoritas. Dengan taktik koalisi yang matang, negara-negara ini dapat menggeser prioritas dari agenda keamanan yang dikuasai negara adidaya, menuju agenda keadilan sejarah, keadilan iklim, dan reformasi keuangan global. Dalam setiap negosiasi, utang ”Kaum Selatan” harus dipasangkan dengan tanggung jawab historis ”Kaum Utara”. Resolusi ini membuktikan bahwa ketika negara-negara Afrika, Asia dan Amerika Latin bergerak bersama, mereka mampu menciptakan momen-momen penting walau tanpa dukungan bahkan disertai tentangan negara adidaya.

Keempat, menjalin isu lintas generasi. Perbudakan tak bisa dipisahkan dari rasisme struktural, dan rasisme struktural tak bisa dipisahkan dari krisis iklim yang pertama-tama menghantam mantan koloni. Dengan merangkai benang merah tersebut, gerakan untuk keadilan sejarah dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai gerakan lain yang bertujuan memperbaiki masa depan umat manusia. Penolakan AS dengan dalih “hierarki kejahatan” justru dapat dibalik menjadi argumen bahwa keadilan sejati tidak bisa parsial; bahwa semua kejahatan terhadap kemanusiaan harus diakui, tetapi itu tidak serta merta menghentikan kita menyoal akar sejarah dari ketidakadilan yang paling sistemik.

***

Pada akhirnya kita bertanya: apakah dunia akan menjadi lebih setara? Tentu, tidak mudah menjawabnya. Yang pasti, kesetaraan tidak otomatis hadir melalui penerbitan piagam atau resolusi PBB. Ia akan hadir dalam kerja-kerja senyap yang terus dirajut dalam aliansi lintas benua. Ia akan hadir ketika anak-anak di Karibia, Afrika dan di Asia Tenggara tak lagi diajarkan bahwa sejarah mereka dimulai ketika kapal-kapal orang kulit putih tiba.

Kita perlu optimisme, namun optimisme tak boleh buta. Optimisme harus lahir dari kesadaran bahwa struktur bisa diubah. Memang, struktur kekuasaan global tidak lemah, tetapi ia selalu membutuhkan konsensus untuk tetap tegak. Dan konsensus itu, sedikit demi sedikit, mulai goyah oleh suara-suara yang awalnya hanya berupa dengung. Bahwa Amerika Serikat dan Israel harus berdiri sendirian tanpa rekan pelapis dalam penolakan itu, hanya didampingi badut Argentina sebagai pemandu sorak, adalah sebuah fakta politik yang menggambarkan isolasi moral dari posisi yang mereka ambil.

Narasi tanding ”Kaum Selatan” yang dibangun di Majelis Umum PBB merupakan narasi konter-hegemoni universal; bahwa nilai-nilai universal tentang martabat manusia tak harus selalu didefinisikan mereka yang mengendalikan kekuasaan, tetapi lahir dari kesadaran mereka yang memiliki sejarah penderitaan sama dan bertekad untuk tak mengulanginya. Ghana, dengan membawa resolusi ini, telah menunjukkan bahwa diplomasi dunia ketiga mampu menciptakan momen-momen di mana suara kebenaran sejarah lebih keras dari gemuruh kekuasaan ekonomi.

***

Pada hari pemungutan suara itu, 123 negara bermartabat—sebagian besar dari mereka yang pernah dijajah, diperlakukan sebagai komoditas, dan tubuh-tubuhnya pernah ditakar dengan harga—memilih untuk mengingat.

Mereka tak akan lupa satu hal: meskipun para penguasa lama masih galau dan enggan mengakui dosa sejarah, meskipun keheningan alias abstain masih menjadi tameng di bilik-bilik suara PBB, dunia telah berubah. Bukan karena kebaikan hati yang tiba-tiba hadir, tetapi karena mereka yang selama ini hanya menjadi latar belakang sejarah, kini berdiri gagah di depan mikrofon. Mereka tidak hanya berbicara tapi menyodorkan resolusi, membawa tuntutan, dan menyebutkan nama-nama korban yang tak sempat tercatat dalam lembaran sejarah resmi dunia.

Barangkali, keadilan sejati belum akan kita lihat dalam satu atau dua dekade ke depan. Sebagai sebuah terminologi atau konsep, kesetaraan masih akan terus diperebutkan dalam setiap paragraf resolusi, setiap pertemuan bilateral, dan setiap aliansi yang terbangun dan tercerai-berai. Walau begitu, api harapan yang mulai tampak itu bukanlah fatamorgana. Ia adalah hasil kerja kolektif yang terus menjahit luka dunia, agar suatu hari nanti, anak cucu kita tak lagi mendengar kata “abstain” saat sekumpulan manusia diminta mengecam kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sejarah mencatat, keadilan tak pernah lahir dari keheningan para dewa. Keadilan datang dari keberanian mereka yang pernah dianggap tak bernyawa, namun bersikeras mengangkat tangan dan berteriak: ”kami ada, kami ingat, dan kami akan membangun dunia yang tak lagi mengenal tuan dan budak.”


Iran Sudah Melawan: Perang, Moral, dan Ilusi Kemenangan

Sebelumnya

Iran Lumpuhkan Enam Kapal Perang AS, Tiga Karam

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia