Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
TANAMAN Putri Malu (Mimosa pudica) memiliki kemampuan unik untuk menutup dedaunnya ketika disentuh atau tersentuh getaran termasuk tertiup angin.
Fenomena ini merupakan mekanisme pertahanan alami untuk melindungi diri dari ancaman predator dan mengurangi dehidrasi alias kehilangan air.
Ketika saya menyentuh daun Putri Malu, maka terjadi perubahan tekanan pada sel-sel khusus yang disebut "sel sensorik" pada permukaan daun. Perubahan tekanan ini memicu pelepasan ion-ion yang menyebabkan perubahan potensial listrik pada sel-sel tersebut.
Perubahan potensial elektronik ini kemudian memicu pelepasan hormon tanaman yang disebut asam absisat (ABA) memicu kontraksi pada sel-sel motorik yang terletak pada pangkal tangkai daun, sehingga menyebabkan daun menutup. Proses ini disebut "seismonasti" yaitu gerakan tanaman yang dipicu oleh sentuhan atau getaran.
(Sungguh disayangkan banyak manusia kehilangan kemampuan merasa malu seperti yang dimiliki Putri Malu).
Putri Malu dapat menutup daunnya dalam waktu sekitar 1-2 detik setelah disentuh, dan akan membuka kembali setelah beberapa menit. Kemampuan unik ini masih dilengkapi duri-duri pada batang dan ranting membuat Putri Malu menjadi salah satu contoh bagaimana tanaman dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.
Namun “perasaan” bukan monopoli Putri Malu. Beberapa tanaman lain juga memiliki mekanisme “perasaan” serupa dengan Putri Malu, antara lain:
1. Venus Flytrap (Dionaea muscipula) memiliki kelopak bunga yang dapat menutup dengan cepat untuk menangkap serangga. Mekanisme ini dipicu oleh sentuhan serangga pada rambut-rambut sensorik pada tanaman karnivora ini.
2. Tanaman Semut (Biophytum sensitivum) memiliki daun yang dapat menutup ketika disentuh, mirip dengan Putri Malu.
3. Tanaman Tidur (Aeschynomene fluitans) memiliki daun yang dapat menutup pada malam hari dan membuka pada siang hari, serta dapat menutup ketika disentuh.
4. Tanaman Keji Beling (Strobilanthes crispa) memiliki dedauan yang dapat menutup diri ketika disentuh atau terkena getaran. Kemudian membuka diri kembali.
Namun, perlu diingat bahwa mekanisme saraf pada tanaman tidak sama dengan sistem saraf pada satwa dan manusia. Tanaman tidak memiliki neuron atau sistem saraf pusat, tetapi memiliki sistem sinyal istimewa yang khusus untuk merespons lingkungan sekitarnya.
Pada hakikatnya segenap fenomena mekanisme biologis tetumbuhan tersebut membuat saya makin bukan hanya percaya namun bahkan yakin bahwa Yang Maha Kuasa bukan hanya ada namun benar-benar Maha Kuasa.




KOMENTAR ANDA