post image
Jaya Suprana dan Melly Goeslaw
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI 

KUBUKA album biru / Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri / Kecil, bersih, belum ternoda
Pikirku pun melayang / Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang / Tentang riwayatku
Kata mereka, diriku s'lalu dimanja
Kata mereka, diriku s'lalu ditimang
Nada-nada yang indah / S'lalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku / Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci / T'lah mengangkat tubuh ini
Jiwa-raga dan seluruh hidup / Rela dia berikan
Kata mereka, diriku s'lalu dimanja
Kata mereka, diriku s'lalu ditimang
Bunda, ada dan tiada dirimu/ 'Kan selalu ada di dalam hatiku
Pikirku pun melayang / Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang / Tentang riwayatku
Kata mereka, diriku s'lalu dimanja
Kata mereka, diriku s'lalu ditimang
Oh, Bunda, ada dan tiada dirimu / 'Kan selalu ada di dalam hatiku

 
Ada dua pujangga musik yang saya kagumi yaitu Ismail Marzuki dan Melly Goeslaw. Saya kurang beruntung dalam hal tidak sempat berjumpa Ismail Marzuki.

Namun saya beruntung dalam hal sempat berjumpa Melly Goeslaw (gelar wicara saya dengan narasumber Melly Goeslaw dapat disimak di YouTube melalui link https://www.youtube.com/watch?v=7S7uZph0uog)

Dalam perbincangan dengan Melly Goeslaw saya banyak berlajar tentang daya yang disebut sebagai kreatifitas. Dan juga dari Melly Goeslaw saya makin yakin bahwa pendidikan musik akademis apalagi yang berorientasi pada kurikulum pada hakikatnya bukan membina namun malah merusak kreatifitas.

Teori-teori musik akademis merupakan beban yang menghambat unsur kreatifitas justru paling utama yaitu ketulusan. Seperti Ismail Marzuki mampu menggubah mahakarya Indonesia Pusaka, maka Melly Goeslaw mampu menggubah Bunda karena kedua beliau tidak terbebani teori-teori musik siapapun maupun apapun.

Ismail Marzuki dan Melly Goeslaw tidak menjadi Bach, Beethoven, Brahms, Britten ke dua tetapi justru berjaya sebagai Ismail Marzuki yang pertama dan Melly Goeslaw yang pertama.

Dari perbincangan saya langsung dengan sang penggubah lagu, saya juga disadarkan  tentang kenyataan bahwa lagu Bunda bukan terbatas lagu anak-anak namun lintas usia selama hayat masih dikandung badan.

Lagu “Bunda” sudah melegenda pada masa penggubahnya masih hidup sebagai semacam lagu kebangsaan yang wajib dinyanyikan mereka yang pernah atau masih punya ibu pada setiap perayaan Hari Ibu di persada Indonesia tercinta ini.

Satu di antara jutaan peristiwa mengharukan terkait lagu “Bunda” adalah pada menjelang Hari Ibu, seorang penghuni lapas yang dihukum seumur hidup sempat memohon Melly Goeslaw datang ke lapas untuk menyanyikan lagu “Bunda” di hadapan sang penghuni lapas seumur hidup sebagai ungkapan rasa rindu dan  terima kasih kepada ibunda.

Dan yang lebih mengharubirukan sanubari, Melly Goeslaw benar-benar datang ke lapas pada Hari Ibu untuk menyanyikan “Bunda” bagi sang penghuni lapas.

Saya tidak hadir pada peristiwa dramatis itu namun saya yakin segenap penghuni lapas dan petugas lapas pasti tidak ada yang mampu menahan tetesan air mata mengalir di pipi masing-masing. Sebab mereka semua pasti pernah atau masih punya Ibu.

Melly Goeslaw sendiri juga memberi tahu saya bahwa beliau menulis syair dahulu baru disusul melodi tanpa peduli harmoni. Ternyata sebelum menjadi penggubah lagu, Melly memang seorang penulis mulai dari surat-menyurat dengan ibunda beliau sampai kemudian menulis cerpen yang antologinya sudah dibukukan bahkan cerpen “Tentang Dia” diangkat ke layar lebar.

Bekal energi utama Melly Goeslaw sehingga mampu mengolah lirik dan melodi seindah Bunda pada hakikatnya “hanya” satu dan satu-satunya yaitu ketulusan kasih-sayang.


Menghayati Makna Hari Raya Paskah

Sebelumnya

Masalah-masalah Nirsolusi

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana