Oleh: Safriady, Pemerhati Isu Strategis
PEMBANGUNAN Batalyon Pembangunan tidak cukup dipahami sebagai pembangunan sebuah markas, penempatan personel, atau pembentukan satuan baru di tengah masyarakat. Lebih jauh dari itu, Batalyon Pembangunan harus ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pembangunan daerah yang kehadirannya mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Karena itu, kearifan lokal menjadi salah satu arsitektur penting dalam membangun Batalyon Pembangunan agar kehadirannya memperoleh legitimasi sosial dan memberikan manfaat yang konkret.
Gagasan Batalyon Pembangunan pada dasarnya memiliki ruang strategis dalam memperkuat keterlibatan negara di tengah masyarakat. Namun, keberhasilannya tidak semata-mata ditentukan oleh kesiapan organisasi dan sarana prasarana. Faktor yang tidak kalah penting adalah kemampuan satuan untuk memahami karakter sosial, budaya, ekonomi, dan kebutuhan masyarakat di wilayah penugasannya.
Di sinilah kearifan lokal menjadi penting.
Setiap daerah memiliki karakter yang berbeda. Masyarakat pedesaan tentu memiliki kebutuhan dan pola interaksi yang berbeda dengan masyarakat perkotaan. Begitu pula masyarakat di wilayah perkebunan, pesisir, kawasan perbatasan, daerah tertinggal, maupun sentra pertanian. Karena itu, pendekatan pembangunan yang seragam berpotensi menghasilkan program yang secara administratif terlihat baik, tetapi belum tentu menjawab kebutuhan masyarakat.
Batalyon Pembangunan harus hadir dengan prinsip “membangun bersama masyarakat, bukan membangun untuk masyarakat.” Prinsip tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai subjek pembangunan.
Kearifan lokal dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kebutuhan tersebut. Tradisi gotong royong, musyawarah desa, hubungan antara tokoh agama dan tokoh masyarakat, struktur sosial lokal, hingga pola ekonomi masyarakat merupakan modal sosial yang dapat digunakan untuk membangun komunikasi dan kerja sama.
Dengan demikian, pembangunan batalyon tidak boleh hanya dimulai dari pertanyaan, “Apa yang akan dibangun?” tetapi juga harus diawali dengan pertanyaan, “Apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat?”
Pertanyaan sederhana tersebut memiliki konsekuensi strategis. Jika masyarakat membutuhkan dukungan terhadap sektor pertanian, misalnya, maka kehadiran Batalyon Pembangunan dapat diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan melalui pendampingan kegiatan produktif, penguatan keterampilan, maupun pembangunan infrastruktur pendukung sesuai kewenangan dan kebijakan yang berlaku.
Jika persoalan utama masyarakat adalah keterbatasan keterampilan tenaga kerja, maka pendekatan dapat diarahkan pada pelatihan vokasi dan pengembangan sumber daya manusia. Apabila masalahnya berkaitan dengan akses terhadap pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, atau kondisi sosial lainnya, maka Batalyon Pembangunan harus mampu menjadi bagian dari orkestrasi lintas sektor bersama pemerintah daerah, kementerian/lembaga, dunia usaha, dan masyarakat.
Artinya, ukuran keberhasilan bukan sekadar berdirinya batalyon, tetapi sejauh mana keberadaan batalyon menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat dan pembangunan wilayah.
Instrumen Asta Cita
Dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pendekatan tersebut menjadi relevan karena pembangunan nasional membutuhkan penguatan sumber daya manusia, kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, pemerataan pembangunan, serta kehadiran negara yang mampu memberikan manfaat langsung kepada rakyat.
Batalyon Pembangunan dapat menjadi salah satu instrumen pendukung agenda tersebut sepanjang tugas dan perannya ditempatkan secara tepat, terukur, serta bersinergi dengan otoritas sipil. TNI memiliki kapasitas organisasi, disiplin, sumber daya manusia, dan kemampuan mobilisasi yang dapat mendukung berbagai kegiatan pembangunan, terutama pada kondisi dan wilayah tertentu yang membutuhkan kapasitas tambahan.
Namun, sinergi tersebut harus dibangun dengan sensitivitas terhadap karakter masyarakat. Pendekatan yang terlalu struktural tanpa memahami kultur lokal dapat menciptakan jarak. Sebaliknya, pendekatan yang menghargai masyarakat akan membangun rasa memiliki.
Karena itu, sebelum Batalyon Pembangunan dibangun secara fisik, seharusnya terlebih dahulu dibangun kepercayaan masyarakat.
Kepercayaan tidak lahir dari spanduk, seremoni, atau komunikasi satu arah. Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat melihat bahwa keberadaan batalyon memberikan manfaat, menghormati nilai-nilai lokal, mendengarkan aspirasi masyarakat, dan mampu bekerja bersama berbagai unsur di daerah.
Dalam konteks ini, kepala desa, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, kelompok perempuan, pelaku usaha, petani, nelayan, dan berbagai komunitas lokal bukan sekadar objek komunikasi. Mereka merupakan sumber informasi penting untuk memetakan kebutuhan dan potensi wilayah.
Pendekatan semacam ini sekaligus mencegah munculnya resistensi sosial terhadap pembangunan satuan. Ketika masyarakat dilibatkan sejak awal, proses pembangunan tidak dipersepsikan sebagai sesuatu yang datang dari luar, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan bersama.
Bersama DNA Lokal
Batalyon Pembangunan pada akhirnya harus memiliki “DNA lokal” tanpa kehilangan identitas dan tugas pokoknya. Artinya, karakter organisasi tetap berada dalam koridor tugas pokok dan kebijakan pertahanan negara, tetapi metode interaksinya mampu menyesuaikan dengan karakter wilayah.
Inilah makna kearifan lokal sebagai arsitektur pembangunan Batalyon Pembangunan.
Kearifan lokal bukan sekadar tradisi yang harus dilestarikan, tetapi merupakan modal sosial yang dapat menjadi fondasi pembangunan. Ketika modal sosial tersebut dipadukan dengan kapasitas organisasi, teknologi, sumber daya manusia, dan koordinasi lintas sektor, Batalyon Pembangunan berpotensi menjadi katalisator pembangunan di wilayah.
Pada akhirnya, keberhasilan Batalyon Pembangunan tidak boleh hanya diukur dari berapa luas lahan yang dibangun, berapa bangunan yang berdiri, atau berapa personel yang ditempatkan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat merasa lebih aman, lebih produktif, lebih berdaya, dan memperoleh manfaat dari kehadiran negara.



KOMENTAR ANDA