Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan
DI Semesta DC, Supergirl dan Superman punya seekor anjing bernama Krypto.
Di hutan belantara keuangan dunia, juga hadir sejenis makhluk bernama Krypto. Ia bukan anjing, tidak bisa dilihat, tidak bisa dipegang, tidak bisa dimakan. Tapi ia bisa membuat orang kaya dalam semalam dan miskin dalam satu menit. Ia seperti tuyul digital yang mengaku sebagai masa depan.
Krypto lahir dari seorang bapak misterius bernama Satoshi Nakamoto. Tidak ada yang pernah melihat mukanya. Tidak ada yang tahu di mana ia tinggal. Seperti hantu yang menulis surat wasiat, ia menciptakan Bitcoin pada tahun 2009 dan menghilang. Sejak itu, jutaan orang percaya pada makhluk yang diciptakan oleh orang yang tidak pernah ada.
Krypto mengklaim dirinya sebagai alat pembayaran. Tapi siapa yang pernah membayar Supermie dengan Bitcoin di warung? Tidak ada. Biaya transfernya Rp 500 ribu, tapi harga Supermie cuma Rp 3 ribu. Bayar pakai Krypto lebih mahal daripada harga barangnya. Krypto bukan alat pembayaran, ia adalah alat untuk berkhayal menjadi kaya.
Krypto berkata: "Aku tidak dikendalikan bank sentral, aku bebas!" Ya, bebas karena tidak ada yang mengawasinya. Bebas untuk ditipu, bebas untuk dicuri, bebas untuk hilang tanpa bisa dilacak. Kalau uangmu di bank hilang, kau bisa telepon bank. Kalau Krypto-mu hilang, kau hanya bisa telepon Tuhan.
Ada banyak jenis Krypto. Ada Bitcoin yang katanya emas digital, padahal emas bisa dipakai untuk gigi palsu. Ada Dogecoin yang diciptakan sebagai lelucon dari meme anjing, lalu dibeli Elon Musk karena iseng, lalu harganya naik 10.000 persen. Jadi lelucon yang dibeli orang kaya menjadi aset serius. Ada juga Krypto bernama Shiba Inu, Pepe, dan Floki.
Nama-nama yang lebih mirip nama hewan peliharaan daripada nama mata uang. Tapi orang Indonesia membelinya dengan serius, karena ada influencer yang bilang, "Ini akan naik 100x!" Influencer itu dibayar oleh pemilik Krypto untuk mempromosikan. Setelah harganya naik, pemilik menjual semua koinnya dan kabur. Ini disebut rug pull. Dalam bahasa Indonesia: ditipu oleh hantu alias sesuatu yang sebenarnya tidak ada tapi diadakan.
Pemerintah Indonesia bingung dengan Krypto. Di satu sisi, Bappebti mengatakan Krypto adalah komoditas yang boleh diperdagangkan, bukan alat pembayaran. Di sisi lain, Bank Indonesia melarangnya sebagai pembayaran. Jadi Krypto di Indonesia seperti anak yang sah secara hukum tapi tidak boleh keluar rumah. Boleh dibeli, tapi tidak boleh dipakai.
Yang paling lucu adalah para penganut Krypto yang mengaku membenci rupiah. "Rupiah akan hancur!" kata mereka. Tapi begitu harga Bitcoin jatuh, mereka langsung menjual Bitcoin-nya dan kembali membeli rupiah untuk membeli beras. Mereka membenci rupiah tapi tidak bisa hidup tanpa rupiah.
Krypto adalah makhluk aneh. Ia mengaku mata uang tapi tidak bisa dibelanjakan dengan pihak yang tidak mengakui krypto. Ia mengaku investasi tapi tidak menghasilkan apa-apa. Ia mengaku desentralisasi tapi harganya dikendalikan secara semayu gue oleh beberapa orang kaya yang disebut whale yang bisa menggerakkan pasar hanya dengan satu tweet.
Krypto tetap hidup. Kenapa? Karena manusia suka bermimpi. Dan Krypto menjual mimpi yang paling mahal: mimpi kaya tanpa kerja. Mimpi itu lebih enak daripada kenyataan bahwa kerja keras adalah satu-satunya jalan. Atau menang lotere.
Krypto bukan uang. Krypto adalah cermin. Ia menunjukkan betapa kita lebih suka percaya pada tuyul digital yang tidak terlihat daripada bekerja keras dengan uang yang terlihat.
Dan selama manusia masih suka bermimpi, makhluk bernama Krypto akan terus hidup, terus beranak pinak, dan terus membuat orang kaya dan miskin dalam waktu yang sama. Tergantung tafsir seperti saya punya quadriliunan Rupiah tetapi dalam bentuk simpanan di lemari besi bank yang tidak boleh maka tidak bisa saya ambil apalagi gunakan.
Mereka yang merasa dirugikan oleh naskah kacau-balau tak jelas arah ini mohon berkenan memaafkan kekaguman sekaligus kebingungan saya. Anggap saja, naskah ini sebagai anjing menggonggong, krypto berlalu.



KOMENTAR ANDA