Ketegangan di kawasan udara Laut Hitam kembali meningkat setelah Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) mengungkapkan serangkaian intersepsi berbahaya yang dilakukan oleh jet tempur Rusia terhadap pesawat pengintai Royal Air Force (RAF) jenis RC-135 Rivet Joint. Insiden yang diumumkan pada 20 Mei 2026 ini tercatat terjadi sepanjang bulan April 2026, memicu kecaman keras dari pihak Inggris yang menyebut tindakan pilot Rusia tersebut tidak profesional dan tidak dapat diterima.
Dalam salah satu insiden paling genting, sebuah jet tempur Su-35 Flanker-E milik Rusia terbang sangat dekat dengan pesawat RC-135 Inggris yang sedang beroperasi di ruang udara internasional. Kedekatan manuver tersebut memicu peringatan darurat di dalam kokpit pesawat Inggris dan secara otomatis melumpuhkan sistem autopilot pesawat, sebuah kondisi yang dinilai sangat berisiko bagi keselamatan kru.
Tak berhenti di situ, insiden lain melibatkan jet tempur Su-27 Rusia yang melakukan manuver agresif di depan pesawat RC-135. Jet tersebut dilaporkan melakukan enam kali lintasan dengan jarak sangat dekat, yakni antara enam hingga lima belas meter di depan hidung pesawat Inggris. Manuver ini menambah daftar panjang aksi provokatif yang dilakukan Rusia terhadap aset NATO di kawasan tersebut.
Peristiwa ini mengingatkan dunia pada insiden serupa di tahun 2022, di mana salah satu jet tempur Rusia sempat menembakkan dua rudal udara-ke-udara ke arah pesawat RC-135 Inggris. Meskipun awalnya dikategorikan sebagai kesalahan teknis, rekaman radio kemudian mengungkapkan bahwa rudal tersebut ditembakkan secara sengaja oleh pilot Rusia yang bingung, sebuah insiden yang hampir memicu konsekuensi katastropik.
Sebagai respons atas meningkatnya risiko keamanan, RAF kini secara rutin menyertakan pengawalan jet tempur, biasanya berupa Typhoon FGR4, dalam setiap misi pengintaian RC-135 di Laut Hitam. Selain Inggris, negara sekutu seperti Prancis juga turut berpartisipasi dalam misi pengamanan tersebut, sementara Amerika Serikat lebih banyak menggunakan pesawat nirawak untuk melakukan patroli di kawasan yang sama.
Analisis lebih mendalam terhadap foto-foto intersepsi yang dirilis menunjukkan fakta mengejutkan bahwa jet Su-35 yang terlibat membawa rudal anti-kapal Kh-31 (AS-17 Krypton) di samping rudal udara-ke-udara standar. Pesawat Su-35 dengan nomor registrasi RF-81718 tersebut ternyata adalah jet yang sama yang sebelumnya pernah diintersepsi oleh pasukan AS saat terbang mendampingi pembom Tu-95 ‘Bear’ di lepas pantai Alaska tahun lalu.
Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, memberikan pernyataan tegas terkait provokasi ini. Ia menyebut perilaku pilot Rusia tersebut sebagai tindakan berbahaya yang tidak dapat ditoleransi terhadap pesawat yang tidak bersenjata. Healey menekankan bahwa manuver-manuver tersebut menciptakan risiko serius bagi keselamatan jiwa serta potensi eskalasi konflik yang lebih luas di tengah situasi geopolitik yang memanas.
Meskipun mendapat tekanan dan intimidasi, pemerintah Inggris menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur dari komitmennya untuk mempertahankan NATO dan melindungi kepentingan sekutunya dari agresi Rusia. Pihak Inggris juga telah melayangkan protes resmi dan mengangkat isu profesionalisme intersepsi ini kepada pihak Kedutaan Besar Rusia di London.
Pesawat RC-135W Rivet Joint sendiri merupakan platform intelijen sinyal (SIGINT) canggih yang dioperasikan oleh Skadron 51 RAF dari Pangkalan Udara Waddington. Sejak mulai beroperasi pada 2014, pesawat ini memainkan peran vital dalam mengumpulkan data intelijen berharga bagi Inggris dan sekutunya melalui misi pengintaian di ketinggian jelajah yang memungkinkan mereka memantau sinyal jauh di dalam wilayah Rusia dan Ukraina.
Data yang dikumpulkan oleh RC-135 tersebut dianalisis secara real-time maupun pasca-penerbangan untuk memetakan karakteristik sinyal musuh. Dengan fungsinya yang strategis, pesawat ini menjadi aset kunci yang sangat berharga, sekaligus menjadi sasaran utama Rusia dalam upaya mereka untuk menghalangi pemantauan intelijen Barat di kawasan Laut Hitam.




KOMENTAR ANDA