post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Namun, refleksi tajam kita harus berhenti di sini:

Kegagalan menyelesaikan peluang dan kelengahan di belakang bukanlah akhir dari naskah. Ini hanyalah adegan di babak pertama drama panjang.

Portugal masih memiliki kans. Mereka sudah membuktikan bisa membongkar pertahanan rapat. Yang mereka perlukan kini adalah "ngegrip"—menggenggam momen dengan lebih dingin. 

Menahan nafsu untuk terburu-buru di kotak penalti. Mengubah 22 tembakan menjadi tiga gol di pertandingan berikutnya.

Di sisi belakang, mereka harus kembali mengingat nyanyian kewaspadaan:

Jangan biarkan satu anak panah menghancurkan istana yang dibangun dari 90 menit dominasi.

Bagi kita, para penggemar yang dadanya sesak menyaksikan ini—kegundahan adalah wujud cinta.

Kita melihat Ronaldo di akhir babak mengangkat tangan ke langit. Bukan kepada wasit. Melainkan kepada waktu yang terus merayap. Piala Dunia ini adalah gulungan terakhir dari kitab suci petualangannya.

Maka, biarlah hasil imbang ini menjadi bara yang membakar semangat, bukan padam yang memadamkan asa. DR Kongo mungkin mengajarkan bahwa sepakbola tak selalu adil bagi penguasa bola.

Tapi di jalan panjang menuju kejayaan, yang tersisa bagi Seleccao hanyalah satu mantra:

Terus berlari. Terus menusuk. Terus bertahan.

Sampai detak jantung terakhir pertandingan menggema sebagai lagu kemenangan. Atau setidaknya, sebagai tangisan kehormatan yang tak pernah mengenal kata menyerah.


AS Cabut Sanksi Minyak Iran: Izinkan Perdagangan Dolar untuk Pertama Kali dalam 4 Dekade

Sebelumnya

Tehran: Tidak Izin Inspeksi Nuklir di Tengah Negosiasi Damai

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia