Tema Merawat Jagat memiliki makna yang sangat mendalam. Allah SWT berfirman :
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: “ Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Manusia adalah khalifah di bumi. Karena itu sumber daya alam bukan milik generasi sekarang semata. Ia adalah amanah untuk generasi berikutnya. Hutan harus dijaga.
Laut harus dijaga. Tanah harus dijaga. Air harus dijaga. Energi harus dikelola secara berkelanjutan. Mineral harus dikelola dengan keadilan. Merawat jagat berarti menjaga kehidupan dan menjaga masa depan.
Pesantren dan Kepemimpinan Abad ke-21
Di sinilah NU dan pesantren memiliki peran strategis. Pesantren tidak hanya memiliki tradisi keilmuan. Pesantren memiliki tradisi pembentukan akhlak, disiplin, kemandirian dan pengabdian. Karena itu, pesantren harus menjadi salah satu pusat lahirnya ulama, intelektual, teknokrat, ekonom, profesional, pengusaha, ilmuwan, ahli hukum, diplomat, politisi dan pemimpin teknologi. Abad ke-21 adalah zaman yang berbeda.
✓ Ada kecerdasan buatan.
✓ Ada ekonomi digital.
✓ Ada geopolitik baru.
✓ Ada perang informasi.
✓ Ada perubahan struktur ekonomi dunia.
✓ Ada tantangan lingkungan.
✓ Ada perubahan besar dalam dunia kerja.
Karena itu, generasi muda umat harus menguasai ilmu dan teknologi tanpa kehilangan iman dan akhlak.
Gen Z dan Generasi Alpha Subjek Peradaban
Agenda peradaban tidak akan berhasil jika hanya berbicara kepada generasi yang sudah berada di dalam struktur kekuasaan. Kita harus berbicara kepada Gen Z dan Generasi Alpha. Mereka tidak cukup diberi ceramah tentang politik. Mereka membutuhkan politik yang jujur, kompeten, transparan, digital, inovatif dan menawarkan masa depan.
Mereka harus diberi ruang untuk menjadi subjek perubahan, bukan sekadar objek kampanye. Politik harus menjawab pertanyaan mereka Mengapa saya harus peduli kepada politik? Jawabannya sederhana Karena politik menentukan bagaimana kekuasaan digunakan, bagaimana kekayaan negara dikelola, bagaimana hukum ditegakkan dan bagaimana masa depan generasi mereka dibentuk.
NU sebagai Kekuatan Moral Bangsa
Kami berharap NU tetap menjadi salah satu kekuatan moral bangsa yang mampu melakukan amar ma'ruf nahi munkar secara objektif kepada siapa pun yang memegang kekuasaan. Pemerintah harus didukung ketika kebijakannya benar dan berpihak kepada rakyat. Tetapi pemerintah juga harus diingatkan ketika kebijakannya menyimpang dari keadilan, merugikan rakyat atau menjauh dari cita-cita konstitusi.
Kekuatan moral hanya akan lahir dari organisasi yang memiliki independensi, integritas dan keberanian menyampaikan kebenaran. Karena itu, NU harus menjadi mitra kritis kekuasaan demi kepentingan rakyat, bukan sekadar pendukung kekuasaan.
Memperkuat Ukhuwah Umat
Partai Masyumi berharap Muktamar ke-35 juga memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Perbedaan pilihan politik jangan menghilangkan persaudaraan. Perbedaan organisasi jangan menjadi alasan saling merendahkan.
Perbedaan partai jangan membuat umat kehilangan tujuan yang lebih besar. Umat Islam Indonesia terlalu besar untuk terus-menerus terjebak dalam konflik internal. Energi umat harus diarahkan untuk mengatasi kemiskinan, pendidikan, ketimpangan ekonomi, pengangguran, korupsi, kerusakan lingkungan, lemahnya kedaulatan ekonomi dan berbagai persoalan kebangsaan lainnya.
Harapan kepada Muktamar ke-35 NU
Dari Muktamar ke-35 NU, kami berharap lahir agenda-agenda besar:
- Pertama, memperkuat kaderisasi ulama dan kepemimpinan nasional yang berilmu, amanah dan berintegritas.
- Kedua, memperkuat pendidikan, riset, ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan.
- Ketiga, membangun kemandirian ekonomi umat agar umat tidak hanya menjadi konsumen tetapi menjadi produsen, inovator dan pemilik kekuatan ekonomi.
- Keempat, memperjuangkan keadilan ekonomi dan pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
- Kelima, memperkuat independensi NU sebagai kekuatan moral bangsa.
- Keenam, memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah.
- Ketujuh, mendorong demokrasi yang bersih dari politik uang dan transaksi kepentingan.
- Kedelapan, mempersiapkan generasi muda untuk menjadi pemimpin Indonesia di tengah perubahan teknologi dan geopolitik abad ke-21.
Indonesia Berkah
Pada akhirnya, seluruh agenda tersebut harus menuju satu tujuan “INDONESIA BERKAH” Bukan hanya Indonesia yang tumbuh secara ekonomi. Bukan hanya Indonesia yang membangun infrastruktur. Bukan hanya Indonesia yang memiliki sumber daya alam. Tetapi Indonesia yang adil secara hukum, makmur secara ekonomi, beradab secara politik, berdaulat secara ekonomi, berakhlak dalam kehidupan sosial, cerdas dalam ilmu pengetahuan, maju dalam teknologi, dan berkah dalam kehidupan.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌۚ جَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗۗ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ
Artinya : “ Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka,) “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba': 15)
Peradaban Politik Baru
Indonesia tidak hanya membutuhkan pergantian kekuasaan. Indonesia membutuhkan perubahan paradigma. Dari politik transaksi menuju politik amanah. Dari kekuasaan sebagai tujuan menuju kekuasaan sebagai pengabdian. Dari politik uang menuju politik gagasan.
Dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi yang berkeadilan. Dari ketergantungan penerimaan menuju optimalisasi kekayaan nasional. Dari pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan menuju pembangunan manusia dan peradaban. Dari demokrasi prosedural menuju demokrasi yang berkeadaban. Dari persaingan organisasi menuju kompetisi gagasan.
Dan dari persaudaraan politik menuju PERSAUDARAAN PERADABAN Inilah yang kita maksud dengan PERADABAN POLITIK BARU Peradaban yang berakar pada Tauhid. Berdiri di atas Keadilan. Menghasilkan Kemakmuran. Diarahkan menuju Peradaban. Dan membawa Indonesia menuju Keberkahan.
Muktamar NU adalah momentum bagi NU. Tetapi harapan yang lahir dari Tambakberas semestinya menjadi harapan seluruh bangsa. Mari kita rawat jagat. Mari kita rawat persaudaraan. Mari kita rawat ulama. Mari kita rawat keadilan. Mari kita rawat kekayaan negeri.



KOMENTAR ANDA